Permintaan

2198 Kata

Aku hampir terjengkal kebawah, saat dua tangan kekar menyentuh pinggang. "Hati-hati!" ujarnya. Mata elang itu menatapku tajam. Mata yang menghunus jantung saat pandangan kami bertemu. "Kepalaku pusing," ucapku dengan memegangi kepala. "Sepertinya anemia kamu kambuh. Istirahat lah!" dia memapah aku masuk kekamar. "Tak usah pergi-pergi. Butuh apa-apa bilang saja! jangan sampai kejadian seperti tadi terulang. Bagaimana kalau ...." "Apa kamu sedang mengkhawatirkanku?" selidikku menatap langsung padanya. "Eee, tentu. Karena kamu anak orang! kalau kamu sampai kenapa-kenapa disini, siapa yang disalahkan?" Ucapan dia benar. Kenapa aku harus baper pada perhatiannya yang hanya bertujuan karena tangung jawab sebagai anak orang lain. Aku terdiam. Tak ingin lagi berharap jika apa yang ia lak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN