GHE, AIDA DAN RIKO

2727 Kata
Setelah kemarin melewati hari yang cukup berat karena harus datang ke acara pesta di mana ia lebih banyak diam di sana, kini Edna tersenyum bahagia saat lamarannya diterima oleh sebuah perusahaan. Bahkan hari ini, ia sudah diminta untuk langsung bekerja tanpa harus melakukan interview terlebih dulu. Tak hanya Edna yang merasa senang, Rita pun begitu terharu karena Edna bisa mendapatkan pekerjaan yang serius kali ini. Bahkan saking senangnya, ia sampai memberikan uang saku untuk Edna yang lebih besar dari gaji yang akan diterima Edna nantinya. Melihat uang jajannya bulan itu begitu besar Edna senang bukan kepalang. Diam diam sebagian besar uang itu ia transfer pada ibunya. Walaupun sudah menikah lagi, Edna tahu sang ibu bukan menikahi pria kaya. Hidupnya kali ini benar-benar pas-pasan. Oleh karena itu, berapa pun uang yang Edna terima pasti ia sisihkan untuk Lana karena sejak menikah lagi, Rita sudah tak ingin membantu ekonomi adiknya karena ia tak menyetujui pernikahan itu. “Ayo, aku antar ke kantor baru,” tiba-tiba saja Dru sudah berdiri di depan kamar Edna yang tak jauh dari kamarnya. Edna pun duduk di kursi belakang dan sibuk membereskan isi tasnya yang berantakan. Tak sengaja ia melihat ke arah Dru dan Aida yang juga ikut dan duduk berdampingan di depan. Sepasang pria dan wanita ini tampak begitu serasi dan senada. Aida yang cantik dengan tampilannya yang modis, bagaikan melihat majalah mode berjalan. Sedangkan Dru pria dengan wajah tampan dan penuh karisma. Edna pun segera memalingkan wajahnya keluar jendela. Pipinya terasa panas. Entah kenapa ia jadi melihat sepupu tirinya itu begitu kagum sampai ia tersipu sendiri. "Makasih ya … sampai ketemu di rumah," ucap Edna saat mobil berhenti di depan lobby kantor. "Sukses ya, Ed," ucap Dru sambil membuka kaca jendela dan menyentuh jemari tangan Edna sambil menggenggamnya sesaat seolah memberikan semangat. Edna hanya mengangguk cepat tanpa mengatakan apa-apa, lalu ia mulai berjalan cepat ke dalam gedung. Sesaat sikap baik Dru membuatnya jadi salah tingkah dan seperti ada rona merah di kedua pipinya. *** Sudah hampir 2 minggu Edna bekerja. Ia selalu berangkat lebih pagi dari biasanya dan pulang lebih larut kadang dari Dru dan Aida. Perusahaan jasa tempatnya bekerja benar-benar menyita waktunya. Ia masih kepayahan untuk mengikuti ritme kerja teman-temannya. Oleh karena itu, Edna memutuskan untuk datang lebih pagi dan pulang lebih larut agar ia bisa punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. "Edna," panggil seseorang dibalik punggungnya saat Edna tengah membuat segelas kopi. "Ya?” jawab Edna sambil menoleh ke arah suara. Gelasnya hampir saja terjatuh saat yang ia lihat adalah Ghe. Seorang pria yang ia temui di acara kolega Rita beberapa Minggu lalu. Ini pertama kali bagi keduanya bertatap muka karena memang Ghe baru hari ini datang ke kantor sepulangnya pria itu dari urusan bisnis di luar kota. "Oh, Mas, eh Pak Ghe," ucap Edna merasa gugup. Terlebih saat ingatannya di acara itu terbesit dalam pikirannya. Ingatan saat Rita memperkenalkan dirinya pada Ghe dan sempat mengatakan bahwa ia masih lajang. Walaupun sebenarnya, Edna sudah memiliki seorang kekasih yang bernama Riko. Seorang pria yang ia kenal saat menjadi pelayan restoran ketika pergi dari rumah. "Jadi kamu anak barunya?" tanya Ghe dengan wajah ramah. Edna hanya menunduk kikuk. Ia tak menyangka Ghe masih mengingatnya. Padahal tadinya ia mengira, pria itu akan melupakan pertemuan singkat dengannya beberapa minggu lalu. "Tante Rita dan Om Ben sehat?" tanya Ghe seolah membuka pembicaraan. Edna hanya mengangguk saking gugupnya ia seolah tak bisa berkata kata. "Aida apa kabar? Beberapa minggu yang lalu dia cerita kalau ada sepupunya kerja di kantor ini, tapi aku enggak nyangka itu kamu. Salam buat Aida, tante Rita dan om Ben ya," ucap Ghe mengakhiri pembicaraan. Lagi-lagi Edna terdiam sesaat, ia tak menyangka bahwa Ghe masih menyisakan ingatan tentang dirinya. *** Edna baru saja sampai di rumah dan memberi salam saat menemukan Dru dan Aida sedang berada di ruang makan.Terlihat ada sebuah koper besar diantara mereka. “Siapa yang mau pergi?" tanya Edna sambil mengambil air putih. "Aku, renovasinya sudah selesai. Saatnya aku pulang," ucap Dru sambil menepuk kopernya pelan. "Ooo," jawab Edna, menutupi perasaannya yang sebenarnya tak mau Dru pergi karena sepupu tirinya itu selalu bersikap baik padanya. "Kami pergi dulu ya, Et. Malam ini aku mau hangout sama mas Dru. Yuk, Mas!” ajak Aida. Edna pun hanya berdiri mematung melihat Aida dan Dru melangkah pergi meninggalkannya. Malam harinya, saat Edna tengah tertidur lelap, dering ponsel miliknya berdering. Edna pun terbangun dengan kedua mata yang masih sulit terbuka. Tangannya mulai meraba-raba atas nakas untuk mengambil benda pipih yang masih terdengar deringnya itu. "Ya," jawab Edna tanpa melihat siapa yang menelpon. "Ed, kamu bisa datang ke sini? Aida mabuk," ucap seseorang di ujung sana. "Ini siapa ya?" "Ini aku, Dru." "Mas Dru, kenapa, Mas?" Edna yang enggan untuk bangun, akhirnya bangkit dari posisi tidurnya saat mendengar bahwa sang penelepon adalah Dru. "Berangkat sekarang ya!" pinta Dru. Edna yang masih linglung segera bangun dan memanggil Pak Kus untuk mengantarnya. "Loh ini bukannya rumah Mas Dru?" tanya Pak Kus saat Edna memberikan sebuah alamat. "Oh ya mungkin, Pak," jawab Edna masih bingung karena ia memang tidak tahu rumah Dru. Pak Kus pun segera mengantar Edna ke sebuah cluster perumahan. Setelah tiba di sana, Edna langsung menghubungi Dru. Tak ada jawaban. Telepon langsung dimatikan dan tak lama kemudian pintu rumah itu pun terbuka. Dru muncul di depan rumah dengan rambut agak berantakan. "Aida?" tanya Edna. "Di dalam. Masuklah!" ajak Dru. Edna bergidik saat melihat Aida tengah muntah di pot bunga milik Dru. "Aida … ayo pulang!" ajak Edna sambil melihat seorang wanita lain di sudut lain yang sepertinya agak mabuk juga. "Kok bisa begini sih?" tanya Edna. "Tadi akhirnya Aida ikut bersama aku dan Grace. Pada enggak kontrol minumnya. Sengaja aku bawa ke sini biar nggak rusuh di luar sana.” "Itu pacarnya Mas Dru ya?" tanya Edna sambil membantu membawa Aida ke wastafel terdekat dan membantu membasuh wajahnya. Dru hanya mengangguk, lalu ia pun menemui pak Kus dan meminta tolong untuk mengantarkan kekasihnya pulang. "Aku nggak bisa nyetir karena tadi ikut minum sedikit," ucap Dru. "Aidaa … baju aku kena nih!" Terdengar suara teriakan Edna dari dalam toilet saat ia membantu Aida membasuh wajah, tetapi Aida malah kembali muntah dan mengenai piyama yang ia kenakan. Edna pun segera membersihkan dirinya di kamar mandi. "Mas, aku pinjam baju dong? Kaos, apa kek gitu?" pekik Edna dari dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi diketuk dan Dru langsung memberikan sebuah kaos juga celana pendek untuk dipakai Edna. Selesai membersihkan dirinya, Edna merasa heran rumah itu tampak sepi dan hanya ada Dru yang saat ini terbaring di sofa. "Pada ke mana?" "Pulang." "Aida?" "Ikut pulang bareng Grace barusan." "Loh, aku kok ditinggal?" "Nanti Pak Kus jemput kamu lagi," jawab Dru, lalu terlelap tidur di sofa. "Ihh, pada mabuk di hari Rabu! Nggak inget apa besok pada kerja. Kalau nggak pada bisa minum lebih baik enggak usah!" gerutu Edna kesal saat melihat Dru sudah lelap tertidur. Edna pun melihat ke sekelilingnya. Rumah yang seharusnya tampak bagus kini tampak berantakan karena ada muntahan dan barang-barang yang sudah tidak berada di tempatnya. Perlahan ia mendesah pelan dan mencoba mencari peralatan pel untuk membersihkan bekas muntahan sepupunya itu dan memulai membersihkan seluruh lantai di ruangan itu. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi saat Edna selesai membersihkan semua yang dilihatnya berantakan di rumah Dru. Tetapi, tak ada tanda-tanda bahwa Pak Kus kembali datang untuk menjemputnya. "Pak Kus kok belum dateng sih? Masa dia lupa masih ada aku disini?" pikir Edna. Lalu, ia pun coba menghubungi pak Kus. "Halo, Pak. Pak Kus kenapa nggak jemput aku lagi?" Begitu panggilan terhubung, Edna pun langsung menanyakan hal itu. "Maaf, Mbak tapi ini saya masih bersihin mobil. Mbak Aida sama temennya tadi muntah banyak banget di mobil." "Ya sudah, aku nanti pulang sendiri aja, Pak," ucap Edna pelan lalu mematikan sambungan. Terlalu kejam untuknya membiarkan pak Kus membersihkan mobil tengah malam, lalu kembali menjemputnya. Edna pun akhirnya memutuskan untuk pulang saat subuh nanti. "Mas, aku tidur di kamar kamu ya?" tanya Edna sambil coba membangunkan Dru. Namun, sampai beberapa kali Edna mencoba, Dru masih bergeming dan tak menjawabnya. "Sudahlah, anggap aja boleh." Edna pun mulai melangkah pergi. Menuju kamar Dru yang ada di lantai 2 rumah itu. Setelah memasuki kamar, ia langsung disuguhkan dengan suasana kamar yang ditata dengan baik dan begitu rapi. Edna pun dibuat terpukau saat melihat kamar besar itu dan berkeliling sesaat sebelum akhirnya ia mengambil sebuah selimut di lemari dan membawanya keluar untuk menyelimuti Dru yang tertidur di lantai bawah. *** Sinar matahari yang menyilaukan mata dan dengkuran halus di telinga Edna membangunkan gadis itu sampai terduduk di atas ranjang. Butuh beberapa saat untuk sadar bahwa ia tak ada di kamarnya dan ada Dru yang tidur lelap di sisinya tanpa pakaian hanya menggunakan celana pendek saja. "Aaaagggghhhh!" teriak Edna saat melihat waktu menunjukan pukul 7. Mendengarkan teriakan Edna, Dru terbangun sebentar, lalu hendak kembali tidur. "Mas Dru! Aku terlambat ke kantor nih!" pekik Edna melompat bangun. “Iya, nanti aku antar." jawab Dru dengan suara yang masih terdengar parau. Melihat Dru yang ingin kembali tidur, Edna pun langsung melemparkan bantal ke arah Dru. "Ayo bangun, Mas! Jangan tidur lagi!" Dengan rasa kesal karena pria itu ternyata malah melanjutkan tidurnya tanpa menghiraukan keterlambatannya, Edna pun berlalu pergi menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan. "Ah, dasar! Kalau begini aku pasti telat." Setelah hanya sempat membasuh wajahnya, Edna pun pergi meninggalkan Dru sendirian tanpa berpamitan. *** Pukul 4 sore, Edna sudah bisa duduk tenang sambil menikmati cemilan sore. Hari ini, ia bisa pulang tepat waktu dan itu merupakan kemewahan untuknya. Lagi-lagi telfon Edna berdering dan itu dari Dru. Hari ini sudah 5 kali Dru berusaha menghubunginya. Ternyata Dru hanya ingin menjemputnya. Dan, tepat pukul 6.30, Dru menjemputnya di kantor. Saat masuk ke dalam mobil tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. "Mau ke mana?" tanya Edna sambil hendak memakai safety belt. "Makan," jawab Dru singkat lalu mulai mengendarai mobilnya. Edna tak tahu mengapa ia merasa canggung saat berduaan dengan Dru. Padahal tak terjadi apa-apa di antara mereka. Tiba-tiba Edna tersadarkan bahwa tadi pagi ia terbangun seranjang dengan Dru. Tetapi, ia pun ingat mungkin Dru masih sedikit mabuk dan tak menyadarinya. Perlukah ia membahas hal itu? Dalam waktu singkat, ia dua kali bermalam bersama Dru. Mereka berhenti di pinggir jalan. Edna memilih untuk makan sate saja dari pada masuk Mall dan makan hanya berdua aja. Setelah Dru memarkirkan mobilnya, keduanya bergegas keluar dari mobil untuk makan di tenda. Ketika Edna baru saja ingin duduk, ia merasa kaget saat Dru menghentikan gerakannya dan memegang kemeja bajunya dengan perlahan. "Tunggu! Kamu seharian seperti ini?" tanya Dru sambil menunjuk kancing kemeja Edna yang naik sebelah sehingga potongan bajunya tak sama. "Aihh," ucap Edna baru sadar dan mengutuk dirinya karena tak memperhatikan dirinya seharian. "Ini karena buru-buru tadi pagi." "Harusnya kamu tunggu aku bangun dan nggak langsung keluar kamar." "Sttt!" ucap Edna menghentikan ucapan Dru sambil meletakan telapak tangannya di bibir Dru saat melihat tukang sate senyum-senyum sendiri mendengar pembicaraan mereka. Edna merasa tidak nyaman karena ucapan Dru terdengar begitu intim saat ini. "Kita makannya di dalam mobil aja, " ucap Edna sambil menarik jemari tangan Dru tak sengaja. Wajah Edna terasa panas saat Dru tak melepaskan dan malah balik menggenggam tangan Edna dengan santai. Edna pun segera melepaskan genggaman tangan Dru dan masuk mobil dengan terburu-buru, ia mencoba menenangkan perasaannya dan berusaha mengingat kalau Dru adalah sepupu tirinya dan ia hanya menganggap Edna sebagai adiknya. Tak lama berselang, Dru pun masuk dan duduk di samping Edna. Edna sengaja mengeraskan musik dan sibuk dengan handphonenya agar mengalihkan perhatiannya dari Dru. "Suka sama handphonenya?" tanya Dru saat melihat Edna asyik dengan handphone yang ia belikan sebagai hadiah karena akhirnya Edna bekerja dan gadis itu membutuhkan gadget yang layak untuk pekerjaannya. Dru mengambil handphone dari tangan Edna dan mendapat protes dari Edna. "Aku nggak suka kalau lagi diajak bicara, tapi kamu sibuk sama handphone." "Okeh ... ada apa?" "Ada apa? Maksudnya?" "Loh, mas Dru tiba tiba ngajak makan?" "Ooo, aku cuma mau ngecek kondisi kamu aja, takutnya kamu marah tadi malam kita tidur bareng …." "Halah, cuma gara gara itu doang?" "Iya, aku nggak mau kamu jadi canggung, bagaimanapun kita nggak ngapa ngapain, walau kamu tidurnya peluk-peluk aku .…" "Ih! Apaan sih, Mas Dru! Enggak mungkin aku tidur peluk-peluk kamu, kamu pasti bohong?" "Tapi, memang benar, kamu itu peluk aku kaya berada aku guling. Udah gitu kamu tidurnya nganga lagi." Sebuah pukulan halus mendarat di d**a Dru. "Udah ah, jangan bahas kaya gitu!" Edna merasa sangat malu mendengar. Mau bagaimanapun, ia tidak bisa mengingat apa yang dilakukan saat tertidur. Mendengar ucapan Edna, Dru hanya terkekeh. Baginya, raut wajah Edna saat ini terlihat sangat lucu dan menggemaskan. "Oh ya, makasih karena kamu sudah membersihkan lantai rumahku. Makanya, sekarang aku ajakin kamu makan sebagai hadiahnya," ucap Dru dengan tawanya yang masih terdengar renyah. "Enggak usah makasih, Mas. Lagipula aku hanya tidak suka melihat rumah berantakan aja." Tanpa menatap wajah Dru, Edna menjawab sambil menyantap beberapa tusuk sate yang baru diambil dari piring yang ada di atas pangkuannya. Sesekali Dru memperhatikan Edna dengan senyum yang diam-diam terulas dari kedua sudut bibirnya. Ingatannya seolah tertarik beberapa jam lalu saat tadi malam Dru terbangun karena kepanasan dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Dengan setengah sadar, ia pun masuk ke dalam kamar dan baru menyadari masih ada Edna yang tertinggal di rumahnya dan tengah tertidur meringkuk di atas ranjangnya. Ini pertama kalinya Dru memperhatikan wajah Edna dari dekat. Gadis ini terlihat tenang dan tertidur lelap. Terlihat wajah Edna yang cantik dan lembut. Tetapi, gadis itu menutupi kelebihannya dengan sikapnya yang ugal-ugalan dan keras kepala. Tanpa sadar, Dru ikut membaringkan tubuhnya tepat di samping Edna sambil memandangi wajahnya. “Pulang yuk!" rengek Edna setelah mereka baru saja selesai makan. Dru yang masih mengingat kejadian tadi malam pun langsung menoleh, menatap Edna dengan kedua alis saling bertaut. "Lho, kamu cepat banget makannya." "Mas Dru aja yang malah melamun bukannya makan." Dru hanya bisa tersenyum lebar karena merasa malu. Tanpa mengatakan apa-apa, pria itu pun bergegas menyantap sate dan irisan lontong yang masih belum dimakannya. Setelah membayar dan mengembalikan dua piring yang sudah selesai digunakannya, Dru mulai menyalakan mobil dan keduanya saling diam hingga terasa sangat hening. Setibanya di halaman rumah, Dru langsung memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Aida yang juga baru tiba lebih dulu darinya, tetapi ia belum keluar mobil karena masih merapikan barang-barang yang akan dibawanya. Dari dalam mobil, Aida melihat Edna dan Dru yang turun bersamaan. Mereka terlihat sangat dekat hingga membuat pikiran Aida ke mana-mana. "Baju kamu benerin!" perintah Dru sambil menyentuh kerah kemeja Edna. "Iya, nanti … udah sampe rumah juga," jawab Edna sambil berjalan mendahului Dru. “Enggak enak dilihat orang.” “Duh, siapa yang mau lihat juga, Mas. Lagi pula ini udah sampe rumah.” “Nanti kalau tidur mesti inget kalau mulutnya ditutup dan jangan asal jadiin badan orang guling ya,” goda Dru tersenyum. Edna pun langsung memukuli tangan Dru dengan kesal sambil berjalan menuju rumah. Aida tertegun sesaat melihatnya. Ia tak menyangka Edna bisa sedekat itu dengan Dru. Bukannya biasanya mereka seperti anjing dan kucing? "Kenapa mereka bisa berubah?" pikir Aida saat melihat sikap Dru yang berubah lembut dan pembicaraan mereka terdengar intim, apalagi saat Aida tak menemukan Edna tadi pagi. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya apa Edna bermalam di rumah Dru saat dirinya diantar Pak Kus pulang. "Mas Dru sama Eet habis dari mana?" tanya Aida saat bertemu Dru di ruang makan. "Makan sate," jawab Dru singkat sambil melihat kekanan dan kekiri seolah mencari sosok seseorang. "Aku pulang ya," ucap Dru sambil mencari sosok Edna. "Salam buat Grace ya, Mas." "Okay," jawab Dru singkat dan tak sadar kembali menoleh ke arah kamar Edna. Namun, gadis itu sudah masuk ke dalam tanpa berpamitan padanya. Edna tak bisa tidur malam itu. Ia menyesal kenapa mengiyakan untuk bertemu dengan Dru dengan alasannya yang tak jelas itu. Berterimakasih karena rumahnya sudah dibersihkan? Edna sedikit sedih mendengarnya. "Akh, apa sih yang aku pikirkan?!" pikir Edna dalam hati karena ia terus menerus teringat akan Dru. Mungkin karena ia kesepian dan butuh perhatian. Diperhatikan sedikit saja ia jadi tak karuan. Edna sadar siapa saat ini yang bisa memberikan perhatian yang besar untuk dirinya. Dengan cepat, ia menyambar ponsel miliknya dan menghubungi Riko. Walaupun sudah menjalin kasih cukup lama dengan pria itu, Edna masih belum berani memperkenalkan Riko pada Rita. Ia masih tidak yakin jika tantenya itu akan setuju dengan pilihannya. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN