Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Javi sudah hampir sampai pada tempat yang hendak ia tuju, sebelum melanjutkan perjalanan kini ia tampak berada disebuah mall dan tengah duduk menunggu makanannya, ia memutuskan untuk mampir dan makan sebelum menyembrang kepulau yang hendak ia tuju, namun saat sedang asik memainkan Iphonenya matanya menangkap sosok mungil dari kejauhan tengah berjalan dengan wajah riangnya, sesekali tangan mungilnya menarik, atau sekedar melirik baju-baju yang terpajang di mall tersebut.
"Anak sebesar itu dibiarkan berjalan sendirian, keterlaluan sekali orang orang tuanya" ucapnya pelan namun ada nada tidak suka dalam ucapannya tersebut
"Anak itu memang biasa berkeliaran disini tuan" ucap laki-laki yang sedari tadi ikut memperhatikan apa yang tuannya perhatikan
"Maksudnya" tanya Javi tak mengerti
"Jadi orang tuanya membiarkan anak sekecil itu bermain-main ditengah mall begini, dan mereka diam saja, jika ada yang berniat jahat, atau dia memanjat dan jatuh, kau bisa lihat dari stelannya, dia sasaran empuk para penculik" ucap Javi entah kenapa emosi mendengar kata pengawal yang diutus rekan kerjanya untuk menjemputnya tersebut
"Takkan ada yang berani tuan, tuan lihat setiap sudut"ucapnya menujuk beberapa orang yang tengah berdiri tak jauh dari dari anak kecil yang kini tengah menuju tempat bermain anak-anak
"Itu satpam, orang bodoh pun tau" dengusnya tak suka
"Tidak tuan, 6 orang itu bodyguard tuan atmaja, dan di mana ada pangeran kecil itu mereka akan selalu ada, sikecil itu tidak suka diikuti, ia punya maunya sendiri yang harus dituruti.
"Tuan Atmaja" Javi membeo
"Ya, Atmaja . Dia cucu kesayangannya"
"Seisi mall ini juga sudah si apa simungil lucu itu"
"Rambutnya yang kriting dan omongannya yang cadel membuat siapapun gemas padanya" ucap laki-laki dengan nama Leo tersebut
"Nah itu tuan. Dia kesini Pasti mau makan" ucap Leo terkekeh entah apa yang lucu avi juga tak mengerti dan ia pun memperhatikan wajah mahluk mungil yang kini tengah berlari- lari kecil kearahnya dan
Deg
Deg
"Wajahnya" batin Javi dan terus memperhatikan sikecil tersebut.
"Dia bisa memesan makanan sendiri" ucap Javi terus memperhatikan mahluk mungil yang kini tengah memesan makanan, menunjuk beberapa menu yang terpampang di hadapannya, entah apa yang menariknya, Javi berdiri lalu melangkahkan kakinya mendekat sikecil yang kini tengah duduk menunggu pesanannya.
"Hallo" sapa Javi membuat sikecil itu menoleh
"Heyyo oom" ucapnya ramah
"Boleh om duduk disini"tanya Javi ramah, jangan ditanya ia kenapa mengingat selama ini ia amat sangat anti berinteraksi dengan anak kecil.
"Boyeh, uduk ada" jawabnya menggemaskan, belum sempat Javi duduk beberapa orang sudah mencegahnya
"Tuan, disana masih banyak yang kosong" ucap salah satu dari orang tersebut.
"Ramon, kau tak melihatku disini" ucap Leo tegas
"Dia tamu tuan" timpalnya lagi
"Tapi kami yang yang bertugas saat ini Le"
"Kau pasti mengerti kenapa kami melakukan ini" Ramon takkala tegas
'Tanapa libut cihh"
"Tan oom tuma umpang uduk detat Aji" omel sikecil dengan wajah memerah
"Pangeran kecil, ingat pesan Bunda, ngak boleh semba
"Langan" potong sikecil
"Tuan Cassa"
"Butan Tasa"
"Aji ata olang" sungutnya tak suka
"Ya maaf"ucap Ramon pelan pada tuan muda kecilnya yang tak lain adalah Casaleno Arkanan Fawwazy
"Apa aku tampak seperti seorang penculik" geram Javi sedari tadi hanya diam
"Tidak tuan, kami hanya menjalankan tugas" tegas Ramon
"Ramon, pergilah dulu, tuan kecil bersama saya, kami akan kesebrang 1 jam lagi"ucap Leo tak ingin ada pertikaian
"Tapi Le"
"Aku yang akan bicara. Sudah aku katakan tuan ini adalah tamunya tuan Atmaja, dia pasti berfikir beberapa kali untuk melakukan hal aneh pada tuan kecil"ucap Leo kali ini membuat ramon mengundurkan langkahnya, cara Leo berbicara dan beberapa kode yang hanya mereka yang bekerja pada atmaja yang tau arti kode tersebut diberikan Leo membuatnya paham siapa yang ada dihadapannya
------*****------
Setelah kepergian Ramon dan yang lainnya kini Javi, Leo dan sikecil Azy tampak tengah menyantap makanannya, sementara Javi, matanya tak pernah lepas dari mahluk mungil yang kini tengah asik memakan pesanannya, ayam bakar madu, sama seperti dirinya, jika dilihat apa yang dipesan bocah itu sama seperti apa yang ia.
"Oom dali tadyi liat Aji telus"
"Tanapa?" tanya polos
"Ngak papa. Ngak boleh ya?" jawab Javi terkekeh
"Butan"
"Aneh" jawab sikecil membuat Javi terbahak, entah apa yang lucu ia juga tak mengerti, sementara Leo hanya menatap keduanya dengan wajah bingung.
"Kenapa mereka seperti kembar beda usia" batin Leo, jika boleh jujur saat menjemput Javi dibandara ia juga sudah menyadari kemiripan tuan kecilnya ini dengan tamu yang ia jemput, tapi ia tak menyangka jika keduanya dihadapkan akan tampak seperti kembar beda usia seperti ini.