Part 7

841 Kata
Oliv pov Deg Deg "Ya Tuhan, apa ini!!!" "Apa yang ada di hadapanku saat ini" "Anakku" "Laki2 itu" "Anakku dalam dekapannya" "Tidak, ini pasti mimpi" "Aku pasti lagi mimpi" "Ini mimpi" "Ini mimpi" "Mimpi" Berulang kali aku meyakinkan diriku akan apa yang aku lihat saat ini hanya mimpi belaka, anakku tak mungkin terlelap begitu nyamannya dalam dekapan orang lain. "Tidak, ini tidak mungkin" batinku terus mengucapkan mantra itu Saat bangun tidur tadi pagi entah kenapa kepalaku tiba-tiba pusing dan akhirnya aku kembali terlelap setelah memakan obat, aku terbangun saat mendengar kegaduhan, dan sumber kegaduhan itu ternyata putra kecilku, ia menghilang, hal itu langsung membuatku gemetaran mengingat beberapa kemungkinan, ini pulau, dan laut ahh ya Tuhan anakku, baru kali ini ia berulah seperti ini. Setelah kami berbencar dan hampir 30 menit aku masih belum menemukan malaikat kecilku, ya tuhan, semoga putraku baik-baik saja, kini kakiku melangkah menuju karang-karang besar disana, membayangkan mahluk mungil itu sedang asik manjat-manjat karang dan terpental ke bawah membuat bulu kudukku berdiri dan air mataku tanpa diminta keluar dengan sendirinya, namun siapa sangka, dari balik karang itu, bahkan hal itu lebih menakutkan dari apa yang aku bayangkan, aku melihatnya, dia disini, apa yang ia lakukan disini dan Deg Deg Dia dengan seringainya yang menakutkan membuat tubuhku serasa!!! Hanya Tuhan yang tau. Seringai itu, aku takut akan seringai itu, ya Tuhan apa yang akan ia lakukan kali ini, aku sudah berusaha melupakan tentangnya, tapi kenapa sekarang ia berada disini, dan anakku, astaga, apa ia akan menyakiti anakku, tidak, dia tidak boleh melakukan itu, langkahi dulu mayatku baru bisa menyakiti anakku. Dengan sekuat tenaga aku mengangkat kakiku yang tiba-tiba saja terasa sangat berat untuk melangkah, anakku, dia tidak boleh menyakitinya. Waktu berjalan begitu lamban, hingga untuk mencapainya rasanya terlalu jauh, tapi aku akan terus menggerakkan kakiku agar sampai padanya dan merebut malaikatku yang bergelung manja dalam dekapannya. Usahaku berhasil, kini aku sudah berdiri dihadapannya dan hendak mengambil tubuh mungil tersebut, namun laki-laki itu menjauhkannya dariku dan mendekapnya lebih erat dari sebelumnya membuatku semakin gemetaran, dan yang lebih membuatku takut ia mencium dengan lembut mata tertutup putraku, ya Tuhan pertanda apa ini, setelah mencium lama mata putraku ia kembali tersenyum dengan seringai yang lebih mengerikan dibanding seringai pertamanya membuat leherku seakan dicekek dan tak mampu mengucapkan apa-apa, apa lagi tujuannya kali ini Tuhan, hanya itu yang ada dibenakku sebelum semuanya menjadi gelap. ----*****--- Javi pov "Anakku" "Anakku" "Anakku" Kata inilah yang dari tadi menari-menari dikepalaku, meski belum mengetahui kebenaran tentang semua ini, tapi aku yakin mahluk mungil ini benar anakku, ditambah lagi wajah takut yang ditunjukan Oliv seolah memperjelas semuanya, kini ia masih belum sadarkan diri pasca pingsang tadi pagi, aku tak tau apa aku sangat menakutkan sampai-sampai dia pingsan begitu. Meski satu masalah dalam hidupku mulai menemui titik terang, namun satu masalah besar sekarang menunggu, tuan Atmaja, sepertinya ia mengetahui siapa aku sebenarnya, orang seperti dia takkan mengalami kesulitan membaca stuasi yang ada diantara kami. Kini mahluk mungil menggemaskan ini sesegukan dalam gendonganku, dari tadi ia tak mau digendong sama sekali oleh tuan Atmaja dan yang lainnya selain aku, aku bersukur ternyata ia mengenali ikatan yang ada diantara kami, ia tak berhenti menangis karna bundanya tak kunjung bangun, tadi ia sempat meraung-meraung tapi bersukur aku bisa menenangkannya. "Udah siang sayang, sini sama oma, mamam dulu ya" untuk kesekian kalinya nyonya atmaja membujuk putraku untuk makan namun ia tetap menggelengkan kepalanya, putraku, ya!!! aku yakin dia putraku, aku merasa manusia paling bodoh karna tak menyaksikannya tumbuh hingga saat ini. "Tak auk mamam oma. Tak auk" ucapny segukan "Nanti azy sakit gimana? Ngak kasian sama bunda, oma sama opa" "Oma pasti sedih cucu kesayangannya sakit, begitupun bunda dan opa" "Ya kan opa" ucap nyonya Atmaja sembari melihat dalam suaminya, sementara tuan Atmaja hanya menjawabnya dengan anggukan "Api unda Aji tu, tu, beyum mangung"jawab sikecilku sembari mengarahkan telunjuk mungilnya kearah Oliv kini tengah tergolek lemah "Aji niy nak mamam tuap unda laa ee" kali ini air matanya kembali berlinang "Zzzz, diam ya nak, bentar lagi bunda pasti bangun" "Tapi azy harus mamam dulu" kali ini tuan Atmaja sendiri yang menjongkok dihadapanku sementara aku, aku hanya bisa diam sedari tadi, menyaksikan bagaimana keluarga baru anakku, ada kelegaan dalam diriku, ternyata anak lahir dengan banyak cintai disekelilingnya, begitupun Oliv, meski tak ada coretan kisah tentangku dalam lembaran tersebut. Mendengar omangan sang opa, mahluk mungil akhirnya mau makan, dan saat ini ia disuapi sang opa sendiri yang tak lain adalah tuan Atmaja, aku tak pernah menyangka seorang Atmaja negara yang disegani didunia bisnis, ternyata seorang yang penuh cinta kasih, sosoknya yang tegas yang biasa membuat rekan bisnisnya segan dan hormat seolah lenyap kala berhadapan dengan mahluk mungil tersebut, ia tampak amat sangat menyayangi cucunya tersebut meski aku belum mengerti bagai Bagaimana bisa Oliv menjadi putri seorang Atmaja Negara, namun yang satu yang aku tau, jika ingin mendapatkan keduanya, aku harus siap berhadapan dengan seorang Atmaja Negara, sulit, pasti namun tak ada kamus takut dalam hidupku, karna apapun milikku sampai matipun akan tetap milikku, aku akan mendapatnya apapun caranya. Setidaknya aku tau kelemahan mereka, yakni putraku sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN