Oliv pov
Sudah malam seperti ini ia hanya duduk ditempatnya pertama kali aku membuka mata, bahkan ia masih memakai baju yang sama saat pertama kali kami bertemu, ya Tuhan sebenarnya apa yang ada di kepala laki-laki ini saat ini, dan dari tadi ia juga selalu menatapku dan juga putraku secara bergantian, entah sudah berapa kali iphone disampingnya berdering namun tak pernah ia angkat, bisa jadi itu pacara atau mungkin istrinya, bisa jadi mengingat sekarang umurnya tak lagi muda.
"Apa yang kau lakukan disini"ucapku sedatar mungkin, padahal hanya Tuhan yang tau bagaimana ketakutan yang aku miliki terhadap orang yang kini tengah berjalan pelan kearahku, dia hanya tersenyum miring seolah mengetahui ketakutan dalam diriku, sesampai di hadapanku ia pun berjongkok dan mengusuk pelan pipi gembul putraku.
"Jauhkan tanganmu darinya" ucapku menepis tangannya kasar, aku tak mau ia menyakiti putraku sebagaimana ia menyakitiku dimasalalu.
"Apa aku tak boleh menyentuh putraku sendiri" jawabnya
"Dia bukan putramu"
"Kau yakin begitu"ucapnya tanpa ada rasa bersalah, jika kau membaca novel-novel dengan kisah hampir sama sepertiku, pasti laki-lakinya akan menampilkan wajah bersalah karna telah menelantarkan anaknya, dan pasti ia akan meminta maaf pada sang wanita karna telah menyakitinya, namun berbeda dengan laki-laki ini, aku tidak melihat ekspresi itu sama sekali, ia malah memasang tampang yang menurutku menyeramkan, dengan senyum sini menambah sempurna tampilannya menakutkannya
"Iya aku yakin"ucapku lantang
"Baiklah, jika begitu kau pasti takkan keberatan jika kita melakukan tes DNA" ucapnya melihat dalam mataku, dan mata tajam itu masih sama, bahkan semakin tajam dari terakhir bertemu, mata tajam itu juga salah satu yang aku cintai saat itu.
"Untuk apa kau melakukan hal bodoh itu"
"Hal bodoh" ucapnya terkekeh
"Jelas untuk membuktikan, jika apa yang kau bicara tadi satu kebenaran atau omong kosong"
"Dia bukan anakku kan, aku hanya perlu memperjelas, mengapa wajah sikecil ini seperti kembaran beda usiaku, aku tak ingat apa wajahku seperti dia saat seumurannya atau tidak, tapi kau lihat ini" ucapnya menunjukan iponennya dan dilayar itu tertera lukisan putraku yang tengah terlelap di pangkuan seseorang.
"Kenapa bisa kau melukis anakku, sementara kalian baru saja bertemu"ucapku lebih pada diriku sendiri namun yang ku lihat ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, entah apa yang lucu aku sendiri tak tau.
"Itu aku, bukan anak kita" jawabban itu mampu membuatku membeku
"Coba kau perhatikan baik-baik, rambut disini memang kriting tapi tidak sekeriting sikecil, dan pipi dilukisan ini tidak segembul pipi ini"ucapnya dan mengelus pelan sikecilku, aku kembali hendak menepis tangannya namun tanganku dipengangnya kuat
"Jangan melarangku menyentuh anakku sendiri Liv, atau kau ingin aku melakukan hal yang sama" ucapnya dingin, untuk kesekian kali tubuhku mematung mendengar apa yang keluar dari mulutnya
"Jika kau tak ingin marasakan apa yang aku rasakan, jangan memancingku" geramnya
"Dia bukan anakmu"ucapku serak, rasa takut membuatku serasa dicekikik, entah apa yang aku takutkan, namun aura yang menyelimuti tubuh Javi saat ini memang jauh berbeda dengan beberapa tahun silam, aura tak bersahabat, aku bisa merasakan aura itu saat ini.
"Orang bodoh juga tau jika jawabanmu itu hanya omong kosong" ucapnya tersenyum tipis
"Dia memang bukan anakmu. Dia hanya anakku" ucapku berusaha melepas cengkeraman tangannya di pergelangan tanganku
"Bukannya aku ikut andil dalam keberadaannya saat ini" ucapnya masih dengan tampang memuakkan itu.
"Tanpa aku dia juga takkan pernah ada dalam hidupmu"sambungnya masih mencengkram kuat tanganku
"Kau hanya menyumbangkan setetes spermamu b******k, anggap saja begitu, selebihnya ia adalah anakku. Kau tidak berhak atasnya dan tidak akan pernah"teriak kuat dan menyentak tanganku, namun bukannya lepas cengkraman tangannya malah semakin kuat, aku bisa merasakan tubuhnya membeku sesaat namun hanya butuh beberapa detik ia kembali dengan tampangnya semula bersamaan dengan itu aku melihat satu tangannya mengelus pelan pipi sikecilku lembut, bisa jadi karna suaraku, sikecil terganggu dan ia mengelus lembut putraku seakan mengatakan tidak apa-apa, entah apa yang terjadi tubuh putraku seolah mengenali sentuhannya, setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti kami, baik ia ataupun aku tak ada yang bersuara, dan ia juga sudah melepas tanganku beberapa menit yang lalu.
"Jika begitu, kau pasti tak keberatan jika aku meminta kembali s****a yang aku sumbangkan, aku orang b******k, jadi aku tak perlu berbaik hati bukan, karna s****a yang aku sumbangkan telah tumbuh, maka dari itu kau tau pasti apa yang akan aku pinta"ucapnya dan berlalu.
Tidak, dia tidak boleh melakukan itu, tidak, tidak, ini gila, dan aku hanya setelahnya aku mendekap erat tubuh anakku, demi apapun dia boleh mengatakan apapun, asal jangan meminta s****a yang kini telah tumbuh menjadi malaikat kecilku, aku tau arti dari kalimat terakhir yang ia ucapkan, dan aku takkan membiarkan ia mengambilnya, tidak selama aku masih hidup.
------*****----
Javi pov
"Kau hanya menyumbangkan setetes spermamu b******k, anggap saja begitu, selebihnya ia adalah anakku"
Entah kenapa tubuhku membeku mendengar omongan itu, ya!! Kenyataan itu sangat benar, tapi aku tak bisa berbohong aku juga marah bersamaan, bukan karna ia mengataiku brengesek, karna itu juga sangat benar, namun saat ia mengakui jika sikecil hanya miliknya seorang entah mengapa membuatku marah.
"Javier Arkanan Fawwazy"
"Casaleno Arkanan Fawwazy"
"Harusnya sejak awal aku sudah mengetahui jika Arkanan Fawwazy bukanlah nama yang asing ditelingaku, saat ia menyematkan nama itu aku sempat bertanya kenapa, dan ia hanya mengatakan itu nama yang ia sukai, dan aku langsung mempercayainya karna tak mungkin rasanya keturunan Fawwazy berhubungan dengan gadis cupu dan culun seperti putriku, namun semua yang kulihat tadi mematahkan pemikiranku itu" ucapan itu Sinis itu membuat Javi menoleh
"Aku tau kau bukan orang bodoh tuan"jawabku terkekeh melihat tuan atmaja yang mendekat kearahku
"Jauhi putri dan cucuku"ucapnya langsung, inilah yang aku sukai dari seorang Atmaja, aku memang tidak mengenalnya begitu jauh, tapi ayah sudah menceritakan siapa dan bagaimana watak seorang Atmaja, ia tidak suka bertele-tele, itu kesamaan yang dulu ayahku akui, karna itulah ia menyerahkan urusan kerjasamanya dengan tuan atmaja padaku.
"Apa yang membuat yakin aku akan melakukan itu"ucapku kembali menatap laut lepas dihadapanku
"Aku yakin kau sudah tau siapa aku anak muda"ucapnya dingin
"Dan kau juga pasti mengenalku dengan baik tuan" ucapku takkala dingin
"Karna profilku sangat banyak diinternet"sambungku dan memasukkan kedua tanganku kesaku celanaku, disini sangat dingin pada malam hari, yang aku dengar ia hanya terkekeh, namun aku tau itu sebuah seringai.
"Kau jangan bermain-main denganku. Anak kemaren sore bukanlah hal yang sulit untukku" ucapnya kali ini aku yang terkekeh
"Jika aku anak kemarin sore, maka saat ini kau belum bisa dipanggil opa tuan"ucapku terkekeh, aku tidak maksud menyinggung, karna yang aku tau tuan Atmaja tidak mempunyai keturunan, aku tidak tau apa yang terjadi karna itu bukan kapasitasku, dan aku bukan orang yang suka mencari tau tentang hidup orang lain.
"Jangan tersinggung"sambungku
"Aku tidak ingin bermain-main denganmu tuan. Aku hanya menginginkan anakku"
"Dan tidak mengurangin rasa hormatku. Jangan mempersulit Ku jika kita sama-sama tak mau berada dalam masa sulit"ucapku apa adanya, aku menghormatinya, ditambah lagi selama ini ia sudah menjaga anak dan wanitaku, tapi bukan berarti aku akan menuruti apa yang ia mau.
"Aku menghormatimu dan tidak mau ada pertikaian diantara kita. Tapi jika kau menghalangi langkahku"
"Akan aku perlihat siapa aku sesungguhnya. Aku bukan anak kemaren sore yang suka main-main tuan" ucapku sebelum benar-benar berlalu namun beberapa langkah kemudian aku menghentikan langkahku dan berbalik
"Tapi jika aku melakukan permainnan, aku akan melakukan permainan itu sampai tuntas, tak peduli aku kalah atau menang, namun dalam hal ini, akan aku pastikan akulah pemenangnya, atau tidak ada pemenang sama sekali"
"Jika begitu, akulah yang akan menghadang jalanmu"ucapnya membuatku kembali menghentiman langkahku
"Itu pilihanmu"
"Pilihanku hanya menebas rumput liat yang menghalangi langkahku"ucapku kali ini mendengar gertakan giginya, aku tau ini takkan mudah, namun hidupku lima tahun terakhir jauh lebih sulit dari pada menghadapi seorang Atmaja, bukan aku tak takut pada ucapan yang keluar dari mulutnya, namun membayangkan hidupku sebelumnya jauh lebih menakutkan.
---------****----------
Dia (Atmaja, istrinya dan Oliv)tidak akan pernah tau apa yang sudah seorang Javi lalui, karna yang mereka tau seorang Javi hanya manusia tak bertanggung jawab, namun hanya Tuhan yang tau bagaimana ia menghukum dirinya atas kesalahannya, wajar jika ia akan melakukan apapun setelah menemukan cahaya yang sudah lama hilang dalam hidupnya tersebut agar tetap memberi sinar dalam hidupnya yang gelap.