Terpaksa

753 Kata
"T-tapi..." "Kamu masih muda, umurmu juga masih 30 tahunan. Mengandung satu atau dua anak lagi bukan hal yang sulit bukan?" "Mana mungkin saya menjual anakku padamu?" "Karena memang itu tujuan dan cara kerjanya! Lahirkan anak untuk aku dan istriku!" Aiden menarik Diandra untuk berdiri, dan memeluk pinggangnya dengan mesra. "Aku akan memberimu rumah, mobil, dan uang untuk kebutuhanmu juga Hero. Setelah anakku lahir, kamu juga bisa meminta usaha apapun! Akan aku modali!" Diandra masih diam dengan tubuh gemetarnya. Diandra sangat paham jika ini bukan tawaran, tapi perintah. Karena jika dia tidak setuju, Aiden akan menggunakan kesalahan yang ia perbuat, dan kerugian yang ia sebabkan untuk menekannya. "Bagaimana dengan istrimu? Saya tidak mau dituduh yang tidak-tidak." "Kamu pikir hubungan kita apa? Kita bersama hanya untuk melahirkan anak! Tidak perlu memikirkan istriku!" Aiden mencengkram dagunya dan mendekatkan wajah mereka. "Kamu tidak ada pilihan. Mulai besok, tidak usah datang ke kantor dan pindah ke alamat yang aku berikan." Diandra terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan airmata berlinang. Dia memang tidak ada pilihan. Lagipula, hal ini ia lakukan juga demi Hero. Demi putranya. Anaknya butuh uang dan kehidupan yang layak. Diandra hanya perlu melahirkan anak untuk Aiden. "Tapi saya punya satu syarat." Diandra memberanikan diri. "Apa?" "Saya tidak mau hubungan kita tanpa ikatan." Ujar Diandra pelan. "Aku akan menikahimu secara sirih." "Lalu bolehkan saya menemui anak saya sesekali nantinya?" "Tidak Diandra! Kalau kamu mau melihatnya, lihatlah dari jauh! Dari sejak anak itu lahir, kamu bahkan tidak boleh menyusuinya. Kalian akan benar-benar putus hubungan." "Bukankah itu terlalu kejam?" "Dunia memang kejam! Jika menolak, lihat saja konsekuensinya. Kamu sudah membuat perusahaanku rugi besar! Aku bisa saja membuat tuntutan... " "Aku setuju!" Jawab Diandra cepat. "Tapi aku punya satu syarat lagi!" "APA? Kenapa kamu banyak mau sekali?!" Tegas Aiden. "Temui anakku, dan jelaskan padanya." "Malam ini aku akan menemuinya! Kirimkan saja alamat kalian!" Ujar Aiden ketus. "Lalu Pak....." "Apa lagi kali ini?" "Di mana saya harus menghubungi anda?" "Catat nomor telfonmu." Aiden menyodorkan ponselnya, dan Diandra segera melakukan apa yang pria itu suruh. "Sudah? Mau bicara apa lagi, kenapa kamu tergagap?" "An-anda masih memeluk..." Aiden segera melepas rengkuhannya pada pinggang Diandra, lalu pergi tanpa bicara apa-apa. Malu? Tentu saja. Tapi ia lebih khawatir jika Diandra salah paham. Maksud pelukan itu adalah ancaman, bukan hal lain. "Masalah apa yang sedang aku bangun sekarang? Sialan! Aku benar-benar kacau! Semuanya kacau!" Gerutu Aiden dengan langkah yang sangat cepat menuju ruang kerjanya. ***** "Mama, kapan aku pulang? Tanganku sakit! Kenapa aku harus dipasangi jarum besar ini?" Hero merengek kepada ibunya dengan cerewet. Walau badannya lemas, moodnya untuk bicara sepertinya tetap terjaga. "Lihatlah wajah putra mama yang pucat ini! Kepalanya juga masih sakit kan? Suhu badan Hero masih panas. Trombositnya juga belum normal! Jika Hero ingin sembuh, makan dengan benar! Istirahat dengan benar! Okey?" Diandra menasehati seraya menyentil hidungnya. "Mama, dulu papa juga dipasangi alat seperti ini. Apa aku juga akan di kubur seperti papa, dan pergi menemui malaikat baik yang punya sayap besar?" "Dari mana Hero belajar kata-kata buruk seperti itu?" Tanya Diandra. "Hero tidak akan kemana-mana! Hero akan tetap di sini bersama Mama!" Diandra memeluk putranya dengan erat. Ia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan airmatanya. Andai saja suaminya tidak terkena penyakit keras dan meninggal, hidupnya pasti tidak akan seperti ini. Dia juga tidak akan bertemu dengan Aiden. Pria kejam itu! Semenjak Ryo meninggal dua tahun lalu, hidup Diandra mulai berantakan. Apalagi keuangannya. Diandra harus mati-matian berusaha untuk memenuhi kebutuhan anaknya seorang diri. Sekarang ia juga terpaksa menjadi simpanan seseorang demi materi. Harus melahirkan anak yang bahkan tidak dapat ia miliki nantinya. "Mama mau bicara sesuatu, Hero." Diandra berkata dengan ragu-ragu. Dia berencana memberitahu tentang Aiden. Diandra tidak mau putranya kebingungan saat nanti, Aiden hadir diantara mereka. "Mama mau bicara apa?" Tanya Hero dengan polosnya. "Hero akan punya papa lagi." "Maksudnya, papa Ryo akan digantikan? Aku tidak mau!" "Bukan seperti itu, sayang! Papa Ryo tidak akan digantikan, sampai kapanpun." Ujar Diandra segera membantah. Mana mungkin Ryo digantikan oleh pria kejam itu? Sampai kapan pun Diandra tidak akan mencintai pria lain selain Ryo. Hubungannya dengan Aiden hanya karna kesepakatan dan paksaan. "Lalu?" "Papa Aiden akan menjadi teman baik Hero." Ujar Diandra asal. Ia tidak punya alasan lain lagi untuk menceritakan sosok Aiden yang kejam itu. Diandra tidak mau membohongi putranya lebih dari ini. "Memangnya bisa, papa menjadi teman baik?" "Bisa! Nanti malam, mama akan kenalkan kamu padanya. Okey?" Dandra segera menutup pembicaraan dengan mengalihkan topik. Diandra menghela nafas panjang dan sedikit merasa lega telah berbicara dengan putranya tentang Aiden. Semoga saja nanti malam tidak terjadi masalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN