Andita Pulang

1498 Kata
Setelah kematian Romi harapan Andita sirna. Dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang di rasakan nya, dia berpikir bahwa hidupnya mungkin memang harus mengalami kemalangan terus menerus bahkan hingga di keadaannya yang sekarang. Di keremangan malam, di bawah sinar bulan yang indah Andita membiarkan angin menyapa lembut pakaiannya yang menjuntai ke bawah, dia sedang menggendong anaknya sembari duduk di tempat biasa, di pohon besar yang menjadi tempat persinggahannya setelah gubuk tua yang berada di tengah hutan. Apalagi yang bisa dilakukan nya keinginannya untuk hidup bahagia sudah sirna. Sepanjang malam dia menangisi kehidupannya yang malang. Hm ... untung saja pohon besar itu ada di tengah hutan jika tidak orang-orang pasti sudah mendengar suara tangisannya. ••• Aku jadi teringat Si M yang menangis di tengah malam hingga di dengar tetangga. Si M hanya diam menatap, saat ku seka air mataku. Ada sedikit rasa kesal ku pada Andita karena dia tidak membalas mereka semua. Membalas orang-orang yang sudah menghancurkan kehidupannya. "Dia tidak boleh membiarkan semuanya begitu saja. Bukannya dendam itu harus dibalaskan, itu kan kenapa ada surga dan neraka dan itu kan alasan kenapa dia tersesat di alam ini dan menjadi salah satu para gentayangan. Dia harus membalas perlakuan ibu mertuanya dan Risti. Risti harus mati begitu juga orang-orang yang sudah memperkosanya. Mereka harus bernasib sama seperti Andita, yaitu mati dan merana." Sifat manusiawi ku muncul mendadak yaitu ngomel panjang lebar karena kesal dengan sikap Andita. Si M hanya terdiam melihat ku mengungkapkan kekesalanku soal Andita yang keseringan mengalah dan terlalu baik. "Setelah dia balas dendam dan membunuh mereka semua, baru dia boleh meminta maaf, bukannya itu hal yang mudah dilakukan oleh sebagian orang yaitu memanfaatkan keadaan itu, semaunya berbuat salah lalu meminta maaf dengan seenaknya. Jika mereka boleh kenapa Andita tidak boleh. Bahkan dia tetap menjadi hantu meski sudah mengalah." lanjut ku lagi karena masih kesal. Tapi si M masih diam tak merespon ku. ••• Andita ingin menemui Ki Rekso tapi di siang hari begini dia enggan untuk keluar. Bukan berarti dia tidak bisa tapi biasanya energi nya tidak sekuat jika di malam hari. Saat menjelang sore Andita mendatangi kediaman Ki Rekso dan menyampaikan maksud dan tujuan nya. "Aku sudah lelah Ki, aku ingin mengakhiri semuanya." "Apa kamu yakin dan sudah memikirkannya kembali? Aku tidak bisa melakukannya lagi jika kamu ingin mengakhirinya sekarang." "Iya Ki, semua sudah tidak ada gunanya. Orang-orang yang ku cintai semua sudah pergi, mereka semua sama saja meninggalkan aku begitu saja." Andita menangis, suara tangisnya melengking, menggema hingga ke seluruh penjuru hutan. Ki Rekso Membiarkannya dia bisa memahami keadaan Andita saat ini. Setelah mereka membicarakannya dengan serius akhirnya beliau melakukan apa yang diminta oleh Andita yaitu menarik kembali paku yang pernah Ki Rekso tancapkan di kepalanya. Saat di tarik Andita kembali menangis sejadi-jadinya dia tidak akan pernah lagi bisa menjadi manusia, semua kenangannya untuk hidup bahagia bersama mas Romi terlintas sesaat kemudian perlahan hilang. Andita mengucapkan perpisahan pada Ki Rekso. "Aku permisi Ki, kelak kita akan bertemu lagi." ucapnya sembari perlahan melayang dan menghilang dibalik pepohonan yang rindang. Malam itu adalah malam di mana Andita memulai semuanya kembali dari awal yaitu menjadi hantu yang seutuhnya. Sudah tak ada yang dia cintai lagi selain anaknya. Entah kenapa Kuntilanak sejenis Andita itu suka sekali menangis dari pada tertawa. Mungkin karna kisah hidupnya yang malang. Andita pulang kembali ke gubuknya yang berada di tengah hutan. Sejak dia tinggalkan, gubuk itu di penuhi semak yang tinggi, dia jadi teringat dengan kali yang ada di tengah hutan yang biasa dia datangi dulu untuk membasuh seluruh tubuhnya, tapi setiap ingat tempat itu dia kembali teringat kejadian saat mereka memperkosa dan membunuhnya. Aku bertanya pada si M .... "Kenapa Andita yang sejenis Kunti merah Itu bisa selemah itu, apa yang dia takutkan. Dia punya alasan untuk balas dendam, untuk membalas rasa sakit hatinya seperti di film-film yang pernah ku tonton, manusia yang mati tidak baik ketika jadi hantu dia akan membalas orang-orang yang jahat dengan sangat kejam. Mestinya Andita seperti itu dan itu bisa jadi kekuatan dia untuk berlaku kejam dan jahat seperti kunti kunti merah lainnya lakukan." "Kata Andita dia tidak punya alasan atau kekuatan untuk membalas apa yang mereka lakukan padanya dan percayalah apa yang kamu tonton di film itu tidak semua seperti itu, tidak semudah itu" "Apaa!!! Serius?! Sudah dibunuh dan diperkosa sampai anaknya mati dia bilang dia tidak punya kekuatan, dasar hantu lemah menurutku dia gak pantas memakai gaun merah itu." Jujur dengan semua yang ku ketahui dari cerita si M soal Andita, aku tidak begitu menyukainya karena baik, terlalu baik menurutku. Hari-hari Andita hanya dia habiskan menangis di pohon besar itu, menimang anaknya dengan tangisannya yang merdu. Selang berapa minggu. Karena lebih fokus menulis kisah yang lain, hubungan ku sedikit rentan dengan si M. Kami hampir sama sekali tidak bertemu selama seminggu, dua minggu nyaris sebulan. Apalagi sekarang aku jarang ngobrol masalah gaib. Hingga kemudian dia muncul dan kembali menceritakan soal Andita. Aku tak bertanya kemana saja dia selama ini. "Memang masih ada ya kelanjutan cerita soal Andita, bukannya cerita dia sudah tamat." tanyaku ke si M dalam hati. Berbicara dengan si M dalam benak, dalam hati itu lebih bebas ketimbang berbicara seperti dengan manusia. "Andita sudah berubah!" "Berubah bagaimana? Apa dia memutuskan untuk hidup kembali? Tapi untuk apa?" tanyaku menyerang si M dengan beberapa pertanyaan karena penasaran. Iya sebenarnya aku masih penasaran dengan kisah Andita Ningtias. "Dari awal Risti sudah mengetahui siapa Andita, Risti juga mengetahui soal anak nya yang jadi penghuni di pohon besar di tengah hutan. Semua itu karena Risti bermain dukun dia mendapatkan semua info itu dari sang dukun. Risti berniat akan mengambil anak Andita untuk diberikan pada dukun itu. Mengetahui itu Andita sangat murka." Si M memulai ceritanya .... ••• Malam itu Andita kembali ke kampung suaminya mencari Risti. Yang ternyata malam itu Risti ada di rumah almarhum suaminya Bayu. "Apalagi yang akan mereka rencanakan?" Kali ini Andita tidak mau diam saja. Dia mulai sering muncul menghantui Ibu mertuanya, dengan berwujud Mas Bayu. Andita membuat ibu mertuanya mulai depresi, ketakutan dan parno. Karena terus melihat kemunculan Bayu anaknya di hadapannya. "Kenapa ibu tega membunuhku! Kenapa ibu tega memisahkan aku dengan anak dan istriku" teriak hantu Andita yang berwujud Bayu. Yang wanita tua itu kira dia sedang bermimpi. Berulang kali dia menampakkan diri hingga malam itu Hantu Bayu muncul kembali di ruang dapur, saat itu ibu mertuanya baru keluar dari kamar mandi, karena Hantu itu muncul mendadak , ibu mertuanya refleks bergerak cepat untuk menghindari dengan mencoba kabur hingga tak sengaja menginjak lantai yang basah kemudian terjatuh dengan cukup keras, nyaris kepala wanita itu menghantam ujung meja kompor. Risti yang mendapati itu segera menggotong Ibu nya Bayu menuju ke kamar. Keinginan Andita terkabul dia tidak ingin mertuanya itu mati, dia ingin wanita tua itu tersiksa hingga maut menjemputnya. Terbaring di tempat tidur dalam keadaan lumpuh sudah cukup membayar bagaimana sakit hatinya Andita ketika mengetahui Ibu mertuanya terlibat dengan Risti dan dukun nya. Kurang baik apa dia dengan mereka tapi seperti tak ada habisnya ingin menyakiti Andita dengan merampas kehidupannya. Andita kembali untuk membalas, tapi sulit mendapatkan Risti dan sepupunya karena dukun mereka kuat. Andita hanya berusaha menjaga anaknya agar tidak jatuh ke tangan dukun tersebut. Andita kembali pulang, pulang ke rumah reot tua miliknya, bukan rumah sebenarnya melainkan gubuk tua di tengah hutan dia membawa serta anaknya yang hingga saat ini belum dia beri nama. Andita juga sesekali mendatangi keluarga almarhum suaminya Romi. Di tengah malam yang gelap dia mengunjungi Rini juga anak-anaknya, anak-anak yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Terutama si Kania, gadis kecil itu sempat akrab dengan dirinya meski sesaat. Andita menikmati waktunya malam itu, membelai Kania dan meninabobokan nya dengan tembang yang biasa dia lantunkan untuk menidurkan sang buah hatinya. [MALAM SUDAH TIBA TIDURLAH SANG PURNAMA SAAT KAU TERJAGA DIA DATANG MENYAPA PEJAMKAN LAH ANGAN MU LELAP KAN LAH TIDURMU DALAM PELUKAN HATIKU KU TEMANI JIWA MU] Kania selalu minta di nyanyikan lagu itu jika dia di titipkan pada Andita untuk di jaga saat ibunya sibuk karena sesuatu. Saat dia akan pergi dan melewati kamar Bang Romi dan Rini dia mendapati Rini sedang menangis dibalik selimutnya. Ada rasa iba melihat perempuan itu, dia merasa jahat karena mencintai Romi dan harus berbagi suami dengannya. "Maafin aku ya Rin ... Aku sudah jahat padamu, juga pada anak-anakmu." ••• Mendengar kembali cerita si M tentang Andita, aku malah balik iba padanya, dia ternyata memang hantu yang baik. [Dendam memang bisa di lampiaskan tapi dendam tidak bisa mengembalikan apa yang sudah tiada.] "Andita hanya ingin bahagia tapi kebahagiaan tidak berpihak padanya." bisik si M "Iya, sama seperti kamu kan, kebahagiaan juga tidak berpihak padamu." ucapku spontan. Ups!! Rupanya aku keceplosan, maaf ya Mm .... Bukannya melanjutkan cerita, si M malah diam. "Maaf! Tapikan itu dulu, sekarang kan kamu bahagia. Bahagia karena persahabatan kita, ya kan?!!" ucapku lagi mencoba menghiburnya. Tak merespon ucapan ku si M pergi begitu saja. Kali ini aku salah dan sudah meminta maaf, semoga saja ketika dia kembali dia mau memaafkan aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN