Malam ini jatah Romi tidur bersama Rini, saat Andita melihat Rini, Romi, beserta kedua anaknya, dia merasakan kesedihan yang luar biasa.
Setiap kali Romi tidur bersama Rini, kesempatan ini dimanfaatkan Andita untuk bersama Anaknya.
Andita membaringkan tubuhnya, tubuh yang sebenarnya hanyalah tubuh yang tak pernah bisa bertahan lama untuk ada di sekitar orang-orang yang hidup.
Andita membiarkan jasadnya terbaring lalu meninggalkannya sebentar untuk memberi s**u pada Anaknya yang dia letakan di pohon besar. Anak yang tak pernah dia anggap mati meski di tahu bahwa anaknya benar-benar sudah tiada sama seperti dirinya.
Angin malam yang begitu sejuk membuat Andita begitu menikmati kebersamaannya bersama anak kesayangannya. Dia sengaja memilih pohon besar yang tak jauh dari rumah Romi, tepatnya beberapa meter dari samping kamarnya.
Dia membiarkan rambutnya jatuh terurai, dengan gaun panjang berwarna merah yang juga jatuh menjuntai tertiup oleh lembutnya angin menyapanya malam ini.
Andita menatap wajah anaknya sebentar lalu memandang lepas ke hadapannya sambil melantunkan sebuah lagu ....
"MALAM SUDAH TIBA
TIDURLAH SANG PURNAMA
SAAT KAU TERJAGA
DIA DATANG MENYAPA
PEJAMKAN LAH ANGAN MU
LELAP KAN LAH TIDURMU
DALAM PELUKAN HATIKU
KU TEMANI JIWA MU"
Begitu luasnya apa yang terlihat namun rasa yang sudah dia lalui menyempitkan akal pikirannya. Lagu pengantar tidur dia lantunkan dengan penuh kelembutan hingga waktu hampir fajar Andita harus segera kembali sebelum mereka tak menyadari keberadaannya.
Pagi ini Andita terlihat cantik dengan gaya rambut di gelung ke atas, itu adalah gaya rambut yang sering dia tampilkan. Andita sudah menyiapkan serapan pagi untuk semuanya, bahkan Romi tak sengaja memuji dirinya di hadapan Rini dan Risti.
"Pagi cantik!!" ucap Romi sembari berjalan menghampiri Istri mudanya itu. " Dan lanjut mencium pipinya "Neng selalu terlihat sama seperti saat di kedai, selalu terlihat cantik dan segar." bisik Romi membuat Andita tersipu malu dan memeluk suaminya dengan sangat erat. Tentu saja pemandangan itu membuat Rini dan Risti terlihat sangat kesal. Mereka hanya saling memandang satu sama lain.
Rini sengaja batuk untuk menyadarkan pasangan itu bahwa mereka tidak sedang sendiri.
Romi yang tersadar menyudahi pelukannya, menarik kursi yang ada di hadapannya.
"Wah, neng jam berapa masaknya?" tanya Romi pada Andita yang sedang melayaninya dengan menyendok kan makanan ke piring suami yang sudah dia nikahi sebulan ini. Andita hanya tersenyum.
"Kok Abang gak dengar Neng masak di dapur?" tanya Romi lagi, kali ini sambil mencicipi masakan Andita.
"Sayang ... kamu harus belajar masak dengan Andita , dia itu jago masak loh!" ucap Romi melirik kan pandangannya ke Rini yang di respon Rini, hanya dengan senyuman dan balik berkata, " Iya sayang tentu saja, Wah, ternyata memang enak." sahut Rini. Risti yang mendengar itu sempat kaget dengan apa yang di ucapkan Rini barusan, tapi hanya sesaat ketika dia mendapati kakinya sedang di senggol oleh kaki Rini yang kemudian menatapnya.
Andita mengetahui itu bahwa Rini hanya berpura-pura memujinya.
Bukan masalah besar yang penting dia bisa membuat suaminya bahagia dengan apa yang dia lakukan hari ini.
Malam ini giliran Romi tidur bersama Andita.
Tentu saja Andita bahagia, tapi tidak dengan Rini dan ini menjadi kesempatan buatan Risti untuk menghasut Rini agar membenci Andita perempuan yang sangat dia benci.
Risti berpikir keras bagaimana caranya membuat sepupunya itu mengusir Andita dari sini, jika perlu di ceraikan oleh Romi, sekarang belum waktunya dia membongkar identitas Andita.
"Kenapa Rin, sepertinya kamu terlihat kesal, hari inikan jatahnya dia." ucap Risti.
"Aku kesal saja setiap mas Romi tidur dengan dia!"
"Kamu itu aneh kenapa di nikahkan kalau akhirnya kamu kesal dengan nya." celetuk Risti.
"Kamu kan tahu Mas Romi, dia akan menceraikan aku jika tak membiarkan dia menikah dengan perempuan itu." keluh Rini.
"Aku terpaksa harus mau dan menerima hal ini demi anak-anakku, jika tidak perempuan mana yang mau di duakan."
Tak sengaja Andita mendengar semua percakapan mereka. Dia bukannya kesal karena diomongin tapi sebaliknya dia merasa bersalah saat mendengar Rini membiarkannya menikah dengan Romi demi anak-anaknya agar tak ditinggal oleh ayah mereka.
"Apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku begitu jahat, anakku sudah kehilangan ayahnya bagaimana bisa aku membuat anak-anak Romi merasa takut akan di tinggal oleh ayah mereka."
Sesaat kebahagiaan Andita agak terganggu karena memikirkan hal itu. Romi yang melihat wajah istrinya seperti memikirkan sesuatu tak membiarkan hal itu, dia mendekati istrinya.
Andita yang mengetahui kehadiran Romi, mencoba menghindar dengan cara membelakangi Romi agar Romi tak melihat wajahnya jika sedang mengkhawatirkan hubungan yang baru saja dia lalui.
Sesaat kedua lengan kekar milik Romi memeluk tubuhnya dari arah belakang, merasakan itu Andita diam sesaat membiarkan tubuh palsunya menikmati di peluk erat oleh Romi suaminya, laki-laki yang saat ini sangat dia cintai sekaligus yang sangat dia khawatirkan.
"Ayolah, Andita berhenti memikirkan apa pun, nikmati saja, selagi kamu masih punya kesempatan ini!" pekik suara hati kecil Andita.
"Mungkin benar sebaiknya aku nikmati saja." sahut suara hati kecil Andita yang lain.
Andita memalingkan tubuhnya dan membalas memeluk Romi dan membiarkan laki-laki itu mencumbunya ... hingga mereka larut dan terbawa oleh dingin dan hening nya malam.
•••
Risti punya rencana besar untuk membongkar identitas Andita di hadapan Rini dan Romi.
"Saya yakin saat Romi dan Rini tahu siapa Andita mereka pasti akan mengusir nya dan Romi pasti akan menceraikan perempuan itu dan dia tidak boleh bahagia, akan aku lakukan apa pun untuk mewujudkan itu, yaitu menghancurkan hidupnya seperti dulu." gumam Risti dengan semua pikiran licik yang sudah dia bayangkan di benaknya.
Satu hari Rini menitipkan anak-anaknya pada Andita karena dia harus mengurus sesuatu, saat itu Romi sedang bekerja.
Hal itu menjadi kesempatan yang tidak akan di sia-siakan oleh Risti.
Saat itu Andita sedang ada di dekat kolam yang cukup dalam, duduk bersama Kania anak terakhir
Rini yang berusia 4 tahun, Mereka duduk di bangku ayunan sambil bermain. Risti yang saat itu punya rencana jahat ikut bergabung dengan wajah liciknya yang penuh kepura-puraan.
"Wah, asyiknya Kania main ayunan, Tante Risti boleh ikutan gak,!?" tanya Risti.
"Ayo Tante, main." jawab Kania dengan lugunya.
"Ibu Dita, Kania haus, mau susu." celetuk gadis kecil itu.
Mendengar itu tentu saja Andita yang dipanggil Ibu oleh Kania, segera bergegas mengambilkan s**u Kania yang tertinggal di meja makan.
"Ris ...tolong! Aku titip Kania sebentar ya?" pinta Andita
Sembari melihat Kania yang berjalan menuju sepeda mini nya.
"Tentu saja, kenapa tidak." jawab Risti tanpa mencurigakan sama sekali oleh Andita.
Saat Andita pergi mengambil s**u ke dalam rumah, Risti bergegas mendorong sepeda yang sedang dinaiki oleh Kania agar lebih dekat ke kolam. Seketika Kania masuk ke dalam kolam dan berusaha berpegangan pada sepedanya.
Bukannya membantu Risti malah berteriak teriak memanggil Andita.
Andita yang mendengar segera berlari menuju ke kolam dan mendapati Kania yang ke lelap berusaha meraih sepedanya namun tak sampai. Andita melompat dan dengan gerakan cepat meraih Kania dan membawanya ke pinggir kolam. Entah bagaimana bisa dia meraih Kania, padahal jelas-jelas dia tak bisa berenang
Mungkin karena kekuatan kasih sayangnya pada Kania, meski baru beberapa bulan, meski kania bukan anak kandungannya, Andita sangat menyayangi nya.
Bukannya membantu Andita Risti segera menelepon Rini dan menceritakan semuanya.
Begitu sampai di rumah Rini langsung mendatangi Andita dan menampar wajah perempuan itu. Andita kaget tapi tidak membalas, dia bisa memahami bagaimana perasaan Rini saat mendengar anaknya jatuh saat di jaga orang lain.
"Kalau kamu benci saya, lampiaskan ke saya jangan ke anak-anak mereka gak ada hubungannya dengan semua ini!" teriak Rini usai melayangkan tamparan kerasnya ke pipi Andita.
Andita hanya diam penuh dengan tanda tanya, ini pasti ulah Risti, percuma saja jika Andita membantah semua tuduhan itu, karena apa pun alasannya di mata Rini dia bersalah.
"Kenapa kamu bisa lalai Neng?!!" Bagaimana jika Kania kenapa-napa tadi. Rini hanya memintamu menjaga Kania sebentar, kalau memang kamu gak mau, kan kamu bisa menolak!" ucap Romi dengan wajah kecewa dan berlalu meninggalkan Andita yang hanya terdiam dan menangis.
Melihat semua kejadian itu Risti bahagia karena rencananya berhasil.
"Rasain kamuu!!" umpat Risti.
Sementara Rini bertambah kesal dan semakin membenci Andita.
Saat malam tiba Andita sendirian, bahkan Romi yang mestinya menemaninya malam ini tak menghampirinya setelah kejadian tadi siang.
Andita pergi saat semua orang sudah terlelap, dia pergi menyendiri sekaligus mengunjungi anaknya ditempat biasa yaitu di pohon besar.
Andita berpikir apakah sebaiknya dia akhiri saja semua ini. Tapi bagaimana dengan rencananya. Dia melakukan semua ini hanya karena rencananya itu.
Andita berpikir Setelah kejadian tadi apa iya bang Romi memaafkan dia meski dia tahu dia tidak bersalah.
Bahkan saat Andita ingin menjelaskan, Romi sama sekali tak mau mendengarkannya.
Pagi hari Andita masih melakukan kebiasaannya yaitu membuat serapan pagi, Rini yang melihat kehadiran Andita, membatalkan langkahnya menuju ke dapur.
Keadaan itu berlangsung selama seminggu, hingga akhirnya Romi memaafkan Andita. Rini pun demikian meski masih suka di hasut oleh Risti.
Setiap dia bersama dengan Kania Andita selalu mengingat anaknya. Di sangat menyayangi Kania juga Nino walaupun dia jarang menyentuh Nino karena Nino selalu bersama Rini, usia Nino sekitar dua tahun lebih.
Jika melihat anak-anak Romi, ada rasa penyesalan kenapa dirinya jatuh cinta dan menikah dengan laki-laki itu. Cinta membutakan logika nya hingga mengabaikan apa yang semestinya jadi pertimbangan dia sebelum menerima ajakan untuk menikah.
Kini semua sudah terjadi, dia bahkan bisa seperti sekarang ini itu karena cinta yang ingin dia buktikan bahwa hubungan cintanya tidak selalu kandas dan gagal.
Tapi ujung-ujungnya gagal juga.
Kenyataan terburuknya adalah Andita tidak bisa merubah apapun. Dia gagal! Dia tidak akan pernah bisa mewujudkan impiannya.