“Kapan, ya, aku bisa memiliki tempat pulang dan seseorang yang bisa menjadi tempatku bersandar hingga aku tidak perlu lagi ketakutan menghadapi dunia ini? Tidak perlu lagi takut terluka karena dia akan melindungiku.” Ayuna menggumam lirih sambil menatap langit malam tanpa bintang di balkon kediaman utama milik sang mertua. “Atau memang seharusnya aku tidak perlu mengandalkan siapa pun di dunia ini? Namun setiap manusia tetap butuh kasih dan cinta juga teman cerita untuk saling menemani hingga tua, kan?” Tanpa wanita itu tau, ada seseorang yang sedang berdiri di balik pintu balkon, mendengarkan dengan hati yang berdesir namun bibirnya menyungging senyum geli. “Aku juga ingin memiliki kehidupan cinta yang indah, tidak harus muluk-muluk seperti Bu Rayya, Ya Tuhan. Tidak harus menjadi

