“Nanana …. Na … Na …” Senandung bahagia itu terdengar dari bibir ranumnya yang kini sudah dipoles gincu berwarna merah. Dia lalu mengambil brush dan menggores kuas untuk membuat pipinya lebih merona sebagai sentuhan terakhir dari riasannya yang harus cantik paripurna. Wanita itu tengah berbahagia, terbukti dengan bagaimana sejak tadi bibirnya terus bersenandung riang gembira, pun binar kehidupan kembali terpancar di wajahnya yang jelita. Hari-harinya setelah keluarganya memberikan dukungan penuh membuatnya perlahan merasa kembali hidup meski telah dihancurkan berkali-kali oleh pria pemilik hati dan jiwanya. Pintu kamarnya yang dibuka dari luar membuat Lucyana langsung menoleh dan senyumnya merekah sempurna saat melihat kakak laki-lakinya bersedekap sambil bersandar di dinding, men

