"Jangan lupa sama acara nanti malem, Sal. Pokoknya kamu harus dateng! Mama nggak mau tau!"
Mamanya di seberang telepon seperti biasa mengingatkan padanya tentang acara pembukaan bisnis baru papanya malam ini. Padahal Salma mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari bibir mamanya, tidak perlu diulang-ulang hingga Salma bosan mendengarnya.
"Iya Ma, Salma denger kok."
"Kamu harus dateng malam ini ya."
"Iya Ma, udah berapa kali Mama bilang itu ke Salma."
"Kamu itu harus digituin dulu biar dateng. Kalo ngga dipaksa-paksa kayak gini pasti omongan Mama tadi cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri doang."
Salma memutar bola matanya yang tentunya tidak dapat dilihat mamanya di seberang sana.
"Ya udah ya Ma, Salma mau kerja dulu. Bye Ma."
Sebelum mamanya kembali menyerocos tentang acara nanti malam—mengingatkan kembali untuk terakhir kalinya agar dirinya datang—Salma sudah lebih dulu mematikan telepon, mencegah hal itu terjadi.
"Sal ini dokumen Pembetulan SPT PPN-nya Pak Alam. Dia email ke gue tadi, katanya dia ngirim dokumen ke email lo tapi gagal terus." Aya memberikan print out lembar pembetulan SPT PPN Pak Alam yang merupakan klien Salma.
"Masa sih, perasaan email gue masih sama kayak yang dulu kok." Salma menerima print out yang disodorkan Aya kemudian mengecek dokumen itu.
"Ya, tolong kirimin soft file yang dikirim Pak Alam ke w******p gue dong."
"Oke."
Salma mulai berkutat dengan pekerjaannya, menatap sekilas notif di ponselnya yang memunculkan pesan dari mamanya. Salma mengabaikan pesan itu, sudah menduga kalau pesan mamanya tak jauh berbeda dari apa yang beliau katakan di telepon tadi. Mamanya memang selalu seperti itu, selalu saja tidak percaya pada anak semata wayangnya ini. Apalagi kalau kata-katanya tidak digubris apalagi tidak dituruti, pasti mama akan langsung menghampiri ke apartemennya keesokan harinya, mengoceh soal ini-itu sampai mulutnya berbusa.
Layar ponselnya kembali menyala. Salma hampir saja mengomel saking frustasinya karena mengira notif yang muncul adalah pesan dari mama. Namun, dugaannya salah. Ada nomor tak dikenal yang mengirimi pesan padanya di w******p. Dengan rasa penasaran, Salma mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kemudian membuka isi pesan tersebut.
08xxxxx
Halo, Sal. Masih inget gue nggak?
Gue tau lo pasti udah hapus nomer gue dari kontak lo.
Gapapa, see you nanti cantik. I can't wait for our first meet after a few years
Salma mengerutkan dahi membaca pesan dari nomor asing itu. Dia memutuskan menanyakan langsung siapa identitas orang asing itu.
Salma Pangesti: siapa ya?
Beberapa menit kemudian pesannya dibalas oleh orang itu.
08xxxxx: Salah satu mantan lo
Sial! Bagaimana Salma bisa tahu orang ini mantan yang mana. Track record Salma soal mantan benar-benar buruk. Saking banyaknya bahkan Salma sampai tidak bisa mengingat mantannya yang diputuskan satu tahun yang lalu. Salma terbiasa menjalani hubungan quickly. Hanya sekali jalan untuk penghilang rasa jenuh. Bertahan satu minggu dua minggu saja kemudian mencari yang baru. Salma pernah menjalani hubungan sampai berbulan-bulan, rekor terlama yang pernah dicapainya kalau tidak salah empat bulan atau enam bulan berpacaran, entahlah dia lupa. Itupun terpaksa harus Salma putuskan karena si cowok mulai ingin hubungan lebih. Si cowok ingin hubungan mereka mengarah ke arah yang lebih serius dan Salma sangat menghindari hal itu. Makanya dia langsung meminta putus beberapa hari setelah si cowok mengutarakan keinginannya.
Salma Pangesti: Ngga usah main tebak-tebakan sama gue deh. To the point aja, lo siapa?
08xxxxx: Memangnya sesusah itu ya, mengabsen satu-satu mantan lo. Sampai lo ngga tau siapa aja daftar orang yang pernah lo pacarin.
Salma kehabisan kata untuk mengelak. Dia memutuskan untuk berhenti meladeni pesan itu, memilih untuk mengabaikan orang asing yang mencoba mengganggu ketentraman harinya. Persetan dengan dia mantan pacarnya atau bukan. Salma tidak peduli!
***
Salma turun dari mobil, mengangkat sedikit gaun yang dipakainya, kemudian berjalan menuju pintu sebuah gedung tempat acara pembukaan bisnis baru papanya diselenggarakan.
Salma menggunakan gaun V-neck warna hitam yang membungkus tubuh indahnya. Dipadukan dengan heels warna senada dan clutch bag berwarna silver.
Salma sengaja menggulung rambutnya ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang membuat siapapun orang yang memandang akan terpesona dengan kulit seputih porselen yang dimiliki Salma.
"Akhirnya kamu datang juga. Mama udah siap ngomel-ngomel ke kamu kalau ngga dateng malam ini."
Salma menghampiri mamanya yang sedang berbincang dengan salah satu kolega bisnis papanya. "Salma pasti dateng dong, Ma. Masa iya, acara sepenting ini Salma ngga dateng."
Kemudian mamanya mulai mengenalkan anak semata wayangnya ke seluruh tamu yang ada di gedung itu. Mamanya semangat mengajak Salma berkeliling, menyuruh dirinya menebar senyum terbaik di depan para tamu, menyapa dengan gaya sok ramah, sampai bibir Salma terasa kaku karena terlalu lama tersenyum.
"Ma, udah ya, Salma capek, daritadi di ajak muter-muter mulu sama Mama." Salma menghentikan mamanya yang hendak membawa dirinya lanjut berkenalan dengan yang lain.
"Bentar dulu, satu lagi. Ini salah satu orang yang pengin Mama kenalin ke kamu dari kemaren. Dia temen bisnis papa dan katanya kenal kamu. Dia juga sering tanya-tanya soal kamu ke papa. Mama yakin dia punya ketertarikan sama kamu, siapa tahu kalian berjodoh."
Tanpa menunggu jawaban Salma, mama lebih dulu menggeret dia untuk menemui seorang pria yang tengah berdiri di seberang kolam, berbincang dengan tamu yang lain.
"Alex."
Pria yang dipanggil Alex menoleh, menampakkan wajah tampannya yang sangat dikenali oleh Salma. Bagaimana tidak? Dia adalah satu-satunya mantan yang memiliki kenangan cukup membekas dalam sejarah percintaan Salma. Alexander Theodro. Mantan terindah yang terpaksa Salma putuskan karena pria itu meminta sesuatu yang tidak bisa Salma berikan.
"Ini anak Tante, kenalin."
Mama menggeret Salma untuk lebih mendekat, membuat Salma berdiri persis di depan pria itu sekarang.
"Hai, nice to see you." Alex menyapa.
Salma tersenyum canggung. "Yeah, nice to see you too."
"Wah, jadi kalian beneran udah saling kenal, ya?" Mama bertanya.
"Iya Tante. Kami udah kenal cukup lama, sekitar dua atau tiga tahun yang lalu dan sekarang Tuhan ngasih kesempatan kami bertemu, jadi apa salahnya memanfaatkan kesempatan yang sudah dikasih Tuhan."
"Iya benar. Kalian pasti butuh ruang untuk mengobrol kan? Setidaknya bernostalgia zaman dahulu. Ya udah ya, Tante mau ke dalam dulu, mau menjamu tamu yang lain. Titip anak Tante ya, Lex."
Alex tersenyum ke arah Salma. "Pasti Tante."
Setelah itu mama pergi meninggalkan Alex dan Salma berdua, mau tak mau membuat Salma harus terjebak lebih lama bersama pria itu.
***