D E L A P A N B E L A S

1046 Kata
Ardan memarkirkan mobilnya di sebuah tempat yang Salma tidak tahu namanya. Dia memandang bingung ke arah Ardan, seakan meminta penjelasan pada pria itu kenapa membawa dirinya ke sini alih-alih ke bar seperti yang dia minta. "Kenapa lo bawa gue ke sini? Gue kan udah bilang tadi, anterin gue ke bar." "Turun dulu yuk, nanti kamu bakal tau tempat apa ini." Walau merasa enggan, pada akhirnya Salma menuruti kata-kata Ardan dan ikut turun dari mobil mengikuti pria itu. Ardan membawa Salma masuk ke bangunan tua yang sepertinya sudah tak berpenghuni. Mereka berjalan menaiki tangga sampai di rooftop gedung 4 lantai tersebut. "Ini tempat apa?" Salma kembali bertanya saat Ardan menyuruhnya untuk duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari mereka berada. "Dulunya Ini gedung kantor, tapi udah ngga kepakai lagi." "Kantor lo?" Ardan mengangguk. "Iya, berhubung sekarang kantorku udah pindah jadi gedung ini aku sewakan. Gedung ini masih kosong, belum ada yang nyewa. Aku sering ke sini kalau lagi banyak masalah. Rasanya tenang dan adem ngeliat langit malam sambil tiduran. Kalau lagi beruntung kita bisa liat bintang yang bertebaran di atas langit." "Emangnya masalah lo langsung bisa selesai kalau dateng ke sini?" Ardan tertawa. "Nggak juga, tapi setidaknya aku punya pelampiasan buat sejenak melupakan masalah yang terjadi. Berdiam diri di sini beberapa jam bisa bikin stress dan pusing ngilang. Rasanya seperti baru terlahir kembali." "Masa sih?" Salma merasa tidak percaya dengan kata-kata Ardan. Selama ini bentuk pelampiasan yang selalu dipilih Salma untuk melupakan masalahnya hanyalah alkohol. Setiap stress atau penat dengan masalah duniawi Salma akan pergi ke bar kemudian menenggak beberapa botol alkohol kemudian menari dengan lepas di lantai dansa. "Coba aja." Ardan mengambil posisi tidur kemudian menepuk tempat di sampingnya agar Salma mengikuti apa yang dilakukannya. Salma ragu-ragu ikut merebahkan diri di samping Ardan, membuat bangku yang mereka tempati agak berderit. Benar apa yang dikatakan Ardan. Langit malam adalah pelampiasan terbaik atas masalah yang sedang kita hadapi. Salma benar-benar merasakan apa yang diucapkan Ardan tadi. Perasaan nyaman dan tenang sampai segala hal yang menggangu pikirannya seakan lepas dari otak, hilang entah kemana untuk sementara. "Kamu boleh cerita apa pun ke aku kalau kamu mau. Aku siap dengerin kapan pun kamu butuh telinga untuk mendengarkan." Salma memperhatikan Ardan, menatap pria itu tepat di bola matanya dan pria itu pun melakukan hal yang sama dengannya. Daripada sibuk memandang langit yang terhampar luas di depannya, sepertinya pemandangan muka masing-masing lebih enak dipandang. "Lo yakin mau denger cerita gue?" Ardan mengangguk mantap. Salma menarik napas panjang. Dirinya beranjak dari posisi tidur, memilih untuk duduk, memposisikan diri untuk posisi nyaman untuk bercerita. Ardan di sampingnya juga mengambil posisi yang sama. Bersiap untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Salma. "Gue udah tau orang yang ngirim buket mawar merah itu." Ardan terkejut. Lidahnya ingin sekali menyela dan bertanya siapa, tetapi hal itu ditahannya dan memilih untuk mendengarkan secara tuntas apa yang ingin diucapkan Salma. "Gue juga udah ketemu sama orang itu tadi di acara yang digelar bokap gue dan sempet ngobrol juga. Sekarang gue nyesel kenapa gue mau ngomong sama dia, harusnya pas nyokap pertama kali ngenalin dia ke gue, lebih baik gue menghindar atau pergi sekalian dari situ, tapi bodohnya kenapa gue buang-buang waktu buat dengerin mulut bangsatnya bilang macam-macam ke gue." Ardan masih diam tidak menanggapi. "Namanya Alex. Mantan gue yang pernah gue ceritain sekilas kemarin, yang gue putusin karena dia minta sesuatu yang ngga bisa gue kasih secara cuma-cuma ke dia dan-" "I see, aku tau siapa yang kamu maksud. Bisa nggak bagian itu ngga usah kamu perjelas. Aku tau kelanjutan cerita soal kebejatannya." Ardan tak bisa, lebih tepatnya tak sanggup membayangkan Salma bersama pria lain. Mendengar ceritanya saja membuat pria itu ingin melakukan lagi hal yang dilakukannya pada Salma tempo hari di apartemen perempuan itu dan dia sadar diri untuk tidak melakukan itu lagi di suasana seperti ini. Salma berdehem sebentar lalu melanjutkan ceritanya. "Dia ngulangin kesalahannya. Melecehkan gue secara verbal, lagi-lagi merendahkan gue seolah gue perempuan kotor yang udah bekasan sana-sini. Bahkan dia terang-terangan godain gue di sana. Gue marah rasanya. Lebih tepatnya marah ke diri gue sendiri. Kenapa bisa dulu gue terima dia sebagai pacar gue, rasanya gue jijik mengakui pernah menjalin hubungan sama orang itu. Gue jijik mengakui punya mantan kayak dia. Gue kesel kenapa dulu gue mau aja sama b******n kayak dia. Gue kesel." Ardan mengusap tangan Salma yang tanpa sadar terkepal menahan emosinya. Ardan bisa melihat kemarahan di wajah perempuan itu yang juga sedang dirasakan Ardan saat ini. Ardan benar-benar kecewa dengan takdir. Kenapa Tuhan tidak mempertemukan mereka lebih awal? Agar Ardan bisa lebih dulu mencintai perempuan di depannya ini sebelum bertemu dengan pria-pria lain di luar sana. Ardan ingin lebih dulu memperlakukan Salma selayaknya ratu dalam kerajaannya sebelum Salma bertemu pria-pria lain di luar sana. Ardan ingin menghormati Salma, memahami perempuan itu, menuruti keinginannya sebelum Salma bertemu pria-pria lain di luar sana. Ardan ingin sekali melakukan itu. Namun, kenyataannya dia harus menerima apapun yang takdir berikan untuknya dan untuk perempuan itu. Yang bisa dilakukan Ardan saat ini hanyalah menjaga yang sudah ada, menggenggam dengan erat kesempatan yang dia punya di depan mata, agar dia tidak kehilangan secara percuma apa yang sudah Tuhan berikan padanya. "Gue pengin banget nendang selangkangannya tadi di tengah-tengah acara. Masih untung gue waras dan batal melakukan itu. Kalau seandainya aja pertemuan gue sama dia di tempat lain. Udah habis dia di tangan gue." "Aku bakal bantuin kamu ngelakuin hal yang belum bisa kamu lakuin tadi suatu hari nanti. Aku yang bakal gantiin tangan kamu melampiaskan amarah kamu ke dia sampai kamu puas. Aku yang bakal menjamin dia akan menyesal ngelakuin hal sebejat itu ke kamu dan membuat dia menyesal karena berani ngusik kamu." Kalimat Ardan begitu meyakinkan di telinga Salma. Sebuah kalimat penuh janji yang terasa menenangkan di hati Salma. Hanya cukup sekali mendengarnya bahkan bisa otomatis meredakan amarah yang sedang berada di puncaknya membuat Salma merasa tenang, nyaman dan merasa dilindungi. Salma menatap tangan Ardan yang tak berhenti menggenggam tangannya sejak pertama Salma menceritakan tentang Alex. Tanpa sadar Salma tersenyum. Kenapa Tuhan sejahat ini padanya, mengirimkan pria sebaik Ardan ke hidupnya. Dia takut melukai perasaan pria itu tanpa sadar. Tuhan benar-benar memberikan ujian dengan mengirimkan Ardan di sisinya sekarang, membuat Salma jadi takut, pria seperti Ardan harus kembali terluka oleh perempuan seperti dirinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN