Dentuman musik yang memekakkan telinga menyapa gendang suara Salma. Dia bersama dua rekan kantornya — Aya dan Raja memasuki pintu masuk klub dan langsung disuguhi pemandangan lautan manusia yang tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Berisik banget tempatnya." Aya berteriak agar suaranya dapat didengar oleh Salma.
"Namanya juga klub ya brisik lah, kalo mau yang sepi ngumpet aja di kolong tempat tidur lo di rumah." Salma menjawab gemas.
Raja mendorong keduanya masuk, usaha untuk melerai mereka agar tidak berkelanjutan adu mulut di tengah-tengah pintu.
Raja memesan satu botol wine kepada bartender, lalu menyodorkan ke arah Aya untuk mencobanya.
"Gue udah pesen wine nih, lo harus cobain."
Aya menatap horor botol yang berada dalam genggaman Raja. "Harus banget ya, minum itu? Gue skip aja deh, belum siap."
"Ya elah Ya, percuma banget lo ke klub tapi ngga minum alkohol. Cobain dulu satu teguk, nanti kalo ngga suka lo skip."
"Gue takut mabok. Nanti kalo gue teler gimana? Siapa yang bakal nolongin. Mana tempatnya serem banget gini, banyak cowok-cowok hidung belang. Kalau gue diapa-apain gimana? Hidup mati gue bertaruh di sini."
"Ya elah, ngga percayaan banget sih lo sama gue. Tenang aja, ada gue kok. Gue yang bakal ngatasin kalo lo mabok."
"Ssttt, ssttt, udah biar gue aja yang minum." Salma mengambil botol wine dari tangan Raja, membuka tutupnya kemudian menuangkannya ke dalam gelas kecil yang tersedia.
"Heh, itu buat Aya, kenapa lo yang minum!" Raja protes tak terima.
"Berisik lo, Ja. Biarin Aya nikmatin apa yang dia mau. Dia ke sini kan mau seneng-seneng, nyari suasana baru biar bisa ngelupain mantannya. Kalo lo paksa gini yang ada dia tambah tertekan. Udah lah biarin aja kalo emang si Aya ngga mau, jangan dipaksa."
"Nah, tuh! Dengerin!" Aya memihak pada Salma.
"Iya deh iya, udah sini gue juga mau minum." Raja merebut botol wine-nya dari Salma, kemudian menuangkan isinya ke dalam gelas.
"Rasanya apa Sal?" Aya bertanya kepo.
"Coba aja kalo penasaran."
"Gue takut tapi."
"Ya udah ngga usah nyoba." Salma menjawab enteng.
"Tapi penasaran."
"Bacot lo! Udah minum aja nih." Salma menyodorkan setengah gelas yang belum diminumnya pada Aya, menyuruh cewek itu mencoba.
"Dikit aja kalo lo ngga berani."
Aya meneguk sisa wine Salma sampai habis kemudian bergidik merasakan sensasi aneh dalam tenggorokannya.
"Apa rasanya?" Salma balik bertanya.
"Pait. Nih, gue ngga mau nyoba lagi." Aya mengembalikan gelasnya pada Salma.
Salma tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Aya. "Lama-lama juga bakal biasa kok kalau sering minum."
"Kalian kok doyan si, minuman pait kayak gitu."
Raja menepuk bahu Aya. "Yang dirasain itu bukan rasa pahitnya, tapi efek dari minuman ini. Orang-orang suka minuman ini karena minuman ini bisa ngebantu kita ngelupain masalah yang ada, walaupun cuma sementara. Setidaknya kita punya jeda buat ngga stress dulu beberapa jam."
"Gue mau turun ke dance floor nih, mau ikut ngga?" Salma beranjak dari duduknya setelah sebelumnya meneguk satu gelas wine.
"Duluan aja, gue masih betah di sini." Raja menyahut.
"Lo mau ikut ngga, Ya?"
"Duluan deh, ngga nyaman gue desak-desakan kaya gitu."
"Oke, gue duluan."
Salma berjalan menuju dance floor. Tubuhnya langsung bereaksi ketika mendengar musik kesukaannya diputar oleh sang DJ. Kakinya menghentak, badannya meliuk, mengikuti alunan nada. Seketika Salma langsung menjadi pusat perhatian semua orang ketika dia menggerakkan badannya sensual dan heboh di tengah-tengah lantai dansa.
Tubuh Salma terus bergerak, tak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan kelaparan. Bentuk tubuhnya yang bisa membuat air liur pria mana saja menetes memang tak lagi diragukan. Bahkan kini ada yang terang-terangan mulai mendekati dirinya, mencoba untuk menarik perhatiannya walaupun tak pernah Salma respon.
Salma merasakan pinggangnya disentuh dari belakang. Otomatis gerakan tubuhnya terhenti, menatap pelaku yang berani mengusiknya.
"Hai."
Pelaku itu tersenyum semringah ketika menatapnya. Hal yang paling Salma benci di dunia ini.
"Ngapain lo?" Salma bertanya dengan nada tak ramah.
"Gue udah ngira itu lo waktu baru masuk sini. Dan ternyata bener, siapa lagi orang yang bisa narik perhatian banyak orang di lantai dansa. Lo jagonya." Alex mengakhiri ucapannya dengan menambah aksi mencolek dagunya yang langsung ditepis oleh Salma. Berani-beraninya b******n ini muncul di hadapannya!
"Jangan sentuh gue!" ucap Salma tegas.
Alex tertawa. "Jangan pasang muka galak gitu, gue kan udah pernah bilang, lo tambah seksi kalo lagi galak. Gue takut ngga bisa nahan."
"b******n lo!"
Salma hendak melayangkan tangannya untuk menampar Alex, tapi pria itu berhasil menahan tangannya.
"Lepasin tangan gue nggak!" Salma berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Alex. Walaupun sudah berusaha sekuat tenaga dirinya tetap akan kalah dengan tenaga seorang pria.
Akhirnya Alex melepaskan cekalan tangannya, kemudian membiarkan Salma pergi meninggalkan lantai dansa. Tanpa Salma sadari, diam-diam Alex membuntutinya ketika dia ingin pergi ke toilet, bahkan Salma terkejut ketika tangannya ditarik dari belakang dan badannya langsung disudutkan ke tembok.
"Mau ngapain lo?!" Salma was-was dengan tatapan Alex yang kini menatap tubuhnya dengan tatapan lapar.
"Kenapa sih, lo ngga pernah jinak sama gue, Sal? Gue udah minta baik-baik kemaren, minta lo buat balik lagi sama gue, tapi lo sama sekali ngga ngehargain usaha gue dan malah ninggalin gue sendirian kemarin."
Salma tertawa mendengar penuturan Alex. "Cih, lo mau balikan sama gue?! Jangan mimpi deh! Sampai mati pun gue ngga bakal mau balikan sama b*****t kayak lo!"
Alex tertawa mendengar umpatan yang keluar dari mulut Salma. "Lo harusnya nyadar Sal waktu nyebut gue b*****t. Kita sama-sama b*****t, jadi jangan sok suci dan berlagak seolah lo wanita satu-satunya di dunia ini. Gue bisa dapetin wanita yang gue mau, jadi jangan sok jual mahal."
"Silakan kalo lo beranggapan kayak gitu, tapi inget hal ini ngga berlaku buat gue. Gue jijik ngeliat lo! Bahkan ngga sudi anggota tubuh gue disentuh lo!"
Kali ini, amarah Alex sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia menatap nyalang ke arah Salma. Perkataan perempuan itu benar-benar mengusik egonya.
"Oke kalo gitu kita buktikan. Lo jijik kan sama gue? Biar gue tunjukkin, gimana cowok menjijikkan ini bisa ngasih kenikmatan ke elo."
Setelahnya Alex berusaha mencium Salma. Salma yang tangannya terkunci oleh cekalan tangan Alex hanya bisa menghindar tanpa bisa melakukan perlawanan lebih. Berkali-kali Salma meronta, meminta pertolongan berharap ada orang yang lewat dan menyelamatkannya dari situasi ini.
Ketika Salma hampir menyerah. Pasrah ketika Alex hampir melucuti pakaiannya, seseorang itu datang. Pria yang sebelumnya tak terlintas di pikiran Salma tiba-tiba datang, menyelamatkan Salma dari situasi buruk ini.
Pria itu memberikan bogem mentah ke arah Alex, menonjok pria itu berkali-kali hingga Alex tak punya kesempatan untuk membalas perlawanan.
"Dasar b*****t! Terima ini b*****t!"
Berkali-kali. Ardan terus melayangkan tinjunya pada Alex hingga tubuh pria itu lemas. Salma bisa melihat kemarahan yang terpancar di mata Ardan saat ini. Bahkan tinjuannya makin brutal dan Salma tidak punya daya untuk menghentikan pria itu selain berteriak.
"ARDANNN BERHENTI!"
***