Salma membawa Ardan ke luar dari mall menuju basemen tempat mobil Ardan di parkir. Dia menyuruh Ardan membuka pintu mobil yang terkunci kemudian menyuruh pria itu masuk ke dalam.
"Kenapa lo bilang kayak gitu ke tante gue tadi?" Salma bertanya dengan nada datar, kentara sekali kalau perempuan itu tidak suka dengan tindakan Ardan tadi.
"Aku cuma refleks aja tadi."
Salma menghela napas panjang. "Lo tau nggak, tindakan lo tadi itu bisa bikin keadaan makin runyam tau! Tante gue pasti bakal koar-koar ke keluarga besar. Bilang yang enggak-enggak. Hah! Nggak ngerti lagi gue!"
Salma jamin, setelah ini grup w******p keluarga besarnya pasti akan ramai dengan topik bahasan yang Salma benci, yaitu tentang dirinya. Selama ini keluarga besarnya selalu menanyakan kapan Salma menikah atau menanyakan kenapa Salma tidak pernah membawa pasangan ke acara keluarga mereka, setelah mendengar berita ini pasti mereka akan heboh dan akan memojokkannya. Oh, jangan lupakan mama dan papanya. s**t! Kedua orangtuanya pasti akan bingung ketika ditanyai yang tidak-tidak oleh anggota keluarga yang lain, apalagi dalam posisi Salma tidak pernah memberitahukan apa-apa pada mereka. Entahlah akan jadi bagaimana nasib Salma.
"Aku cuma ngga suka kamu diperlakukan kayak tadi sama tantemu. Kamu sadar nggak sih, tantemu itu kayak ngeremehin kamu banget."
"Iya gue tau! Tapi itu urusan gue, bukan urusan lo! Lo seharusnya nggak usah ikut campur masalah gue." Salma terlihat menyugar rambutnya ke belakang. Wajahnya terlihat sangat lelah.
"Aku cuma niat bantuin kamu, Sal. Cuma itu. Apa salah?"
"Ya. Lo salah. Gue ngga perlu bantuan lo dan asal lo tau, lo itu cuma orang asing di hidup gue dan lo ngga berhak ikut campur apapun soal hidup gue. Itu masalah gue, gue bisa selesain semua sendiri. Gue ngga perlu bantuan lo."
Ardan terhenyak mendengar pernyataan Salma. Dia memandang lurus mata Salma, mencoba menemukan kebohongan dari sorot mata perempuan itu, tetapi nihil. Salma terlihat serius dengan ucapannya dan Ardan cukup tersentil melihat kenyataan itu.
"Orang asing, ya?" Ardan berucap lirih, lebih ke berbicara pada diri sendiri. Dia seperti menampar dirinya dengan kenyataan, menyadarkan bahwa selama ini hanya dia yang menganggap bahwa hubungan ini sudah lebih dekat. Hanya dia yang merasa seperti ini, sementara perempuan di sampingnya ini tak pernah menganggap bahkan tak pernah sekalipun melihat Ardan. Harusnya dari awal Ardan sadar bahwa dirinya terlalu sombong, terlalu percaya diri kalau dia bisa menaklukkan hati Salma, membuat perempuan itu berubah pikiran, nyatanya zonk. Bahkan sampai saat ini perempuan itu belum bisa membuka hati untuknya, masih menganggapnya orang asing.
"Seharusnya lo nyadar dari awal, kalo lo ngga bisa deketin gue, lo ngga bisa semudah itu ngambil hati gue, lo ngga bisa masuk begitu aja di hidup gue. Seharusnya lo nyadar kalo gue tuh ngga akan pernah bisa sama lo."
"Iya aku tau."
"Lo yang nawarin ke gue buat manfaatin lo sepuas gue kan? Lo yang bilang ke gue kalo gue cuma perlu diem dan lo yang bakal jalan ngehampirin gue. Gue ngga pernah minta lo berjuang buat gue, gue pun ngga pernah minta lo bikin gue jatuh cinta, gue sama sekali ngga pernah minta itu. Semuanya lo yang mau. Gue ngga pernah maksa."
Ardan mengangguk, mengerti dengan yang dikatakan oleh Salma. Itu memang kenyataan. Semua ini bukan salah Salma. Bukan salah perempuan itu yang masih menganggapnya orang asing, bukan salah Salma yang tidak balik menyukainya. Ini semua salahnya. Salahnya yang terlalu bodoh dan terlalu percaya diri sampai dirinya lupa untuk sadar diri.
"Aku tau kok. Aku emang bodoh, aku tau itu. Aku yang terlalu pede bisa bikin kamu jatuh cinta sama aku, tapi kenyataannya engga. Dari awal emang aku yang salah. Harusnya aku sadar diri, kalo sampai kapanpun aku ngga bakal bisa dapetin kamu."
Ardan mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk menatap mata Salma lurus. Dia tersenyum, mencoba terlihat tegar dan baik-baik saja, tetapi gagal. Air matanya tiba-tiba saja meluruh, menetes melewati pipinya, memperlihatkan betapa rapuhnya Ardan sekarang, betapa terlukanya dia dengan kenyataan ini.
"Maaf, maaf kalo selama ini tingkah aku ganggu kamu. Pasti kamu ngga nyaman banget ya, dengan adanya aku di sekeliling kamu. Pasti kamu risi sama tingkahku yang mencoba mendekati kamu. Maaf kalo aku bikin kamu ngga nyaman. Sekarang aku sadar diri dan aku janji ngga akan ganggu kamu lagi. Makasih udah kasih aku kesempatan buat deketin kamu. Makasih masih menghargai aku selama ini dengan ngga nunjukin kalo kamu terganggu dengan kehadiran aku. Aku ngga pernah nyesel bilang itu ke kamu. Aku seneng bisa dimanfaatin sama kamu, bahkan setelah ini aku rela kalau kamu masih mau manfaatin aku. Seperti ucapanku dulu, kamu boleh sepuasnya manfaatin kamu, terlepas kamu ngga bisa bales perasaan aku, itu urusanku. Aku ngga pernah keberatan dengan itu semua."
Salma mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Lebih memilih menatapi mobil-mobil yang terparkir rapi di basemen daripada melihat raut wajah Ardan yang terluka ketika mengucapkan kalimat demi kalimat itu. Dia tidak mau pikirannya terdistraksi oleh hal-hal yang membuat hatinya lemah. Dan Ardan adalah salah satu hal itu.
"Untuk terakhir kali, aku izin nganterin kamu ya. Setelah ini aku janji ngga bakal ganggu kamu lagi."
Salma hanya diam, tak menjawab pernyataan Ardan hingga membuat pria itu menganggap bahwa diamnya Salma berarti iya.
Ardan melajukan mobilnya meninggalkan basemen mall menuju apartemen Salma. Tak ada yang bersuara selama perjalanan. Masing-masing dari mereka hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Hanya suasana malam kota Jakarta dan suara mesin kendaraan yang bersahut-sahutan menemani perjalanan mereka. Malam ini kebisuan menjadi saksi retaknya hubungan mereka.
Mobil Ardan sampai di depan apartemen Salma. Tanpa mengucapkan apa-apa Salma turun dari mobil Ardan, berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang, bahkan hanya untuk melihat wajah Ardan untuk yang terakhir kali. Sepertinya setelah ini Ardan benar-benar tidak akan punya kesempatan untuk lebih dekat dengan perempuan itu lagi. Dan yah, dirinya sudah berjanji tadi untuk tidak mengganggu perempuan itu lagi. Maka biarlah dirinya berdiam sejenak di sini, mengenang lagi kilas balik momen-momen di mana dia dan Salma masih sedekat nadi, hingga sekarang harus Ardan lepas dengan terpaksa. Dengan keadaan dan kenyataan yang jauh lebih buruk dari yang Ardan pikirkan.
Ardan memandang lurus gedung pencakar langit di sampingnya. Akankah dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki semua ini dengan Salma? Apakah ada peluang bagi dirinya untuk mengisi hati perempuan itu. Ah, dasar! Lagi-lagi Ardan dengan tidak tahu diri berandai-andai sesuatu yang tidak mungkin. Berhenti, Dan! Berpikirlah realistis mulai sekarang.
Ardan berhenti memandang apartemen Salma dan memutuskan pergi meninggalkan apartemen itu.
***