Selintas Kenangan

1244 Kata
Dayu berendam di dalam bath tub yang dipenuhi busa. Sesekali ia membasuh wajahnya dengan sabun yang menguarkan aroma wangi dan menenangkan itu. Gadis pemberani itu tak percaya, baru saja mengancam Bima agar tak menyentuhnya atau dihajar habis-habisan, tetapi di hari yang sama pula ia yang seakan mengundang terlebih dahulu agar lelaki itu merengkuhnya walau hanya sebatas di wajah saja. “Agh, murahan!” umpatnya pada diri sendiri., “Semoga tadi cuma mimpi,” lanjutnya “Tapi kenapa aku nggak marah sama sekali.” Gadis itu menarik napas Panjang sembari memegang bibirnya yang terasa dingin. Dayu lanjut merendam dirinya lebih lama. Lilin aroma terapi yang disediakan oleh Bima membuatnya merasa relax. Kepalanya seakan dialiri udara yang lebih hangat hingga terasa sangat tenang. Tubuhnya terus ia biarkan merosot ke dalam air sepenuhnya di dalam bak yang terbilang cukup besar bahkan untuk dua orang sekali pun. Beberapa saat ia biarkan dirinya tenggelam, saat akan menarik diri ke atas. Sebagian ruhnya seakan ditarik oleh sesuatu yang tak kasat mata, menuju sebuah pemandangan indah di sebuah telaga yang jernih. Malam hari yang sangat sempurna, bulan purnama, taburan bintang, bunga yang bermekaran dan udara yang hangat, kuda yang diikat di tali serta pohon yang sedikit demi sedikit berguguran daunnya diembus pelannya angin malam. Suasana terasa syahdu. Dengan matanya sendiri Dayu melihat langkah seorang wanita berlindung di balik kuda, melepas pakaian yang sangat tidak cocok dengan tubuh lembutnya, menyisakan ikatan kain di bagian yang memang harus ditutupi. Rambutnya tergerai lebat melewati pinggang dan berwarna hitam kelam. Setelah memastikan tidak ada siapa pun, gadis itu yang berwajah sama dengan wanita dalam foto di rumah Bima, masuk ke dalam telaga dengan air yang cukup hangat di malam hari. Panglima perang itu membasuh seluruh tubuhnya. Pemandangan yang sangat indah jika dilihat oleh seorang lelaki, tetapi biasa saja bagi Dayu. Gadis di dalam kolam itu bahkan menengadahkan wajahnya menghadap rembulan yang bersinar terang. Sinar bulat terang itu menyinari wajahnya serasa memberi kesan cantik tanpa cacat pada dirinya. Suara berisik terdengar dari arah lain, tetapi gadis yang tengah menyerap cahaya rembulan itu tak mendengarnya. Dayu mencari arah datangnya suara, Ia temukan lelaki dengan pakaian zaman dahulu dengan wajah sama dengan Bima. Bima berjalan mendekat dengan juga menanggalkan baju bagian atasnya. Terlihat gurat kemarahan di wajahnya melihat gadis di dalam kolam itu. Dayu berusaha menghalangi tetapi tubuhnya ditembus begitu saja. Ia ingin menolong gadis yang terlihat sebentar lagi menjadi sasaran kemarahan Bima. Benar saja, lelaki itu turut masuk ke dalam telaga secara perlahan tanpa gadis rembulan itu sadari. Berenang terus hingga tubuhnya tepat berada di belakangnya. Ketika gadis itu berbalik matanya terbelalak melihat kehadiran seseorang yang sama sekali tidak ia duga. Selanjutnya terjadi pemandangan yang membuat Dayu menutup mata, serupa dengan apa yang ia dan Bima lakukan. Dayu keluar dari rendaman busa sabun dengan napas memburu. “Kenapa, kok gitu banget yang terjadi denganku dari kemarin, huuuhhh,” keluhnya sendiri. “Tapi dia … gadis itu istri Pak Bima, ya? Yang dibilang aku adalah dia dan dia adalah aku. Ah, bingung!” Dayu bangkit dan membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dan mendapatkan beberapa makanan terhidang di atas mejanya. Ada secarik kertas bertuliskan, makanlah, aku yakin kau butuh energi untuk hal yang lebih besar dan menyenangkan nanti. “Dasar bapak-bapak!” Gadis itu meremas kertas dan memakan makanan dengan cepat. Perutnya terasa lapar hingga ingin menghabiskan piring beserta gelas yang ada. *** Dayu mematut penampilannya di kaca. Dress berwarna merah delima ia pilih. Sudah hampir dua hari ia berada di rumah itu. Dari pagi ia enggan ke luar kamar. Malu, benar-benar ia kelewatan dan tak tahu diri semalam, walau mereka sangat menikmatinya. Sejenak memperhatikan dirinya di kaca, tak lama pemandangan di telaga itu muncul kembali, bahkan lebih panas dan memburu. Dayu membalikkan tubuhnya sembari menutup mata. Bahkan dalam ingatannya kini menari adegan yang serupa diiringi suara-suara lain yang tak ingin ia dengar. Gadis itu menutup telinganya. Membanting diri di atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. “Enyahlah dari pikiranku!” keluhnya sambil menekukkan kaki ke perut. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Sekilas ia melihat berkas cahaya yang ingin menarik dirinya ke dalam lingkaran yang tak ingin ia datangi. Rasa takut menguasai benaknya. Bayangan darah, panah beterbangan dan tebasan pedang di mana dirinya yang menari di antara tumpukan mayat. Benar-benar mengerikan baginya. “Kau hanya perlu merelakan, Ayu. Kalau kau tak rela kepalamu akan terasa dihantam beban kuat,” gumam Bima dari luar kamar. Ia hanya bisa menunggu tanpa bisa berbuat lebih agar ingatan istrinya segera kembali. *** Malam harinya Dayu diantar Bima kembali ke rumah yang tak lebih serupa dengan neraka. “Kau yakin bisa sendiri?” tanya Bima ketika Dayu keluar dari mobil. “Hmm, seperti yang saya bilang. Jika memang saya orang atau istri yang bapak bilang. Biar ingatan itu yang menemukan jalannya sendiri. Kalau dipaksa-paksa kepala sakit.” “Baik. Jaga dirimu, jangan sampai terluka.” “Ish, kayak mau pergi perang lagi deh pesannya.” Gadis itu melangkah dengan malas ke dalam rumahnya. Ia buka pintu dan telinganya mendengar suara-suara tak beres dari kamar sebelahnya. Segera Dayu mencari tahu dan seketika itu juga ia banting lagi pintu hingga nyaris terbelah. Bergegas gadis itu masuk ke dalam kamar. Mengemasi buku-buku, baju sekolah dan barang yang ia rasa perlu. Ia telah membuat keputusan, tak ingin tinggal di rumah itu lagi. Dua lelaki pemalas itu telah membuat rumah ini seperti tempat p********n. Sebelum ia meninggalkan rumah. Herman menarik dirinya, meminta sejumlah uang untuk membayar jasa wanita yang telah ia nikmati baru saja berdua dengan anaknya. “Cuih! Aku nggak sudi keluarin uang untuk hal gak guna buat kalian.” “Ayolah, daripada kamu dijadikan santapan berikutnya,” Herman mengancam sembari menarik paksa Dayu ke dalam kamar. “Lepaskan! Jahanam.” Dayu menghempas tangan ayah tirinya. Mendorong tubuh jangkung itu dan berlari sekuat tenaga menjauh untuk selamanya. Ia berjalan tak tentu arah, sejauh mata memandang dan selelah kakinya melangkah. Gadis itu duduk di kursi taman seorang diri di tengah malam. Tas ransel itu penuh sesak dengan bawaannya. Ia masih teringat dengan tawaran Bima untuk tinggal bersama, tetapi ia abaikan, Dayu lebih takut gosip di sekolah beredar. Rasa kantuk menyerang dirinya, ia abaikan lagi. Tidur di taman bukanlah hal yang tepat, bisa-bisa dirinya dianggap gelandangan dan digiring ke kantor polisi. Lagipula dirinya harus bersekolah esok hari. Dayu melihat uang di dompetnya, masih tersisa beberapa lembar yang ia kira cukup untuk menyewa kos-kosan sederhana selama sebulan, dan mungkin dirinya harus bekerja lagi untuk kebutuhan hidupnya. Terdengar suara seorang laki-laki memanggilnya, ia menoleh dan itu bukan Bima. Melainkan lelaki yang terlihat seumuran dengannya. “Mau kemana malam-malam gini?” “Ehmm, siapa, ya, sory?” “Ya ampun, mentang-mentang cantik terus lupa sama aku? Aku Arkan, kita sering diundang untuk kompetisi sekolah bersama, masak gitu aja kamu lupa, sih?” “Oh, aku bercanda aja, kok.” Dayu tertawa palsu untuk meredam situasi. “Bawa tas mau kemana? Kalau aku boleh tahu?” “Mau cari kos-kosan. Tahu nggak di mana, untuk malam ini, secepatnya.” “Oh, akhirnya kamu keluar juga dari kandang serigala itu. Aku tahu kos yang bagus dan murah di mana.” Itu kalau kamu mau, kita pergi malam ini juga.” Arkan naik ke motor besarnya dan memberi helm pada Dayu. Gadis itu menurut saja dan ikut ke mana Arkan membawanya. Lelaki yang berusia sama dengan tubuh gadis yang ia pinjam. Pintar dan menjadi incaran Diana saingannya. Sementara dari satu tempat Bima menggeram mengetahui Dayu lebih memilih orang lain ketika butuh bantuan dibandingkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN