Jantung Ayu berdegup luar biasa kencang, ia sempat terpana dengan perlakuan Danur yang begitu lembut. Terlebih sentuhan lelaki itu di kulitnya terasa begitu melenakan. Nyaris saja gadis itu terbawa perasaan. Tangan Ayu terulur, ia membuka kantong kain yang berisikan serbuk tumbuhan. Sedangkan Danur semakin asyik saja menghirup wangi rambut gadis itu. Panglima perang Kerajaan Panungkaran tersebut mulai membuka kain bajunya, kesempatan itu digunakan Ayu untuk menaburkan segenggam obat penenang. Kemudian lelaki itu terjatuh di atas tubuhnya. “Hampir saja,” gumam gadis itu ketika memindahkan Danur di sebelahnya berbaring. Cepat Ayu memeriksa setiap sudut tenda panglima perang itu. Ia mencari apa saja yang bisa diberikan pada Bima nanti. Matanya tertuju pada kain besar yang digulung di atas

