V. CLUBING

1246 Kata
Lautan manusia tampak memadati lantai dansa suatu club malam yang Sia kunjungi di kesempatan ini. Bersama adik sepupunya yang memiliki hobi serupa—yakni keluyuran malam--Sia mendatangi meja bartender dan memesan botol pertama untuk dinikmatinya. "Kamu mau minum apa, Sya?" Menoleh, gadis yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda dari Sia itu pun sempat berpikir sebelum menjawab, "Cocktail aja ada gak, Kak? Aku lagi dapet. Mau pesan wine takut ngaruh." Mengangguk, Sia pun lantas memesan cocktail pada bartender yang sama untuk diberikan kepada adik sepupunya. "Tante Aliya tau gak kalo kamu jalan sama aku?" Sembari menunggu pesanannya dibuatkan, Sia pun mulai membuka perbincangan santai walau suaranya harus agak kencang mengingat di sekitarnya cukup berisik oleh musik DJ yang menggema. "Tau, kok. Tadi aku sempat bilang juga sama bunda. Oh iya, bunda titip salam. Katanya, kalo ada waktu luang main main ke rumah. Udah lama gak ngobrol juga, kan, Kak Sia sama bunda?” Sepintas, Sia pun nyengir. "Iya ya. Terakhir aku main ke rumah kamu kapan ya? Aku aja lupa, hehe. Ya udah, nanti, deh, kalo ada waktu luang ... aku usahain main ke rumah sambil ajakin Tante Aliya makan rujak bareng," celetuk Sia terkekeh. Ingatannya pun seketika melambung pada momen di mana Sia pernah bercengkerama dengan tantenya tersebut sembari berhaha-hihi seru ditemani oleh rujak kesukaan sang tante yang dominan jambu air. Jika ingat pada hal itu, Sia pun mendadak rindu pada tante kesayangannya. Ibu dari Isyana Putri Kesuma yang sekarang ini sedang duduk bersebelahan dengan dirinya. "Sekolahmu gimana, Sya?" "Gitu gitu aja, deh, Kak. Gak ada yang seru. Setiap hari belajar terus. Bikin otak mumet aja," cetus Isyana mendengkus. Terlihat sekali jika ia bukanlah tipe pelajar yang suka belajar. Ya, Isyana memang masih sekolah. Dia menduduki bangku kelas 3 SMA. Kalau tidak salah, beberapa bulan lagi ia akan menghadapi ujian sekolah yang merupakan penentu dirinya bisa lulus atau tidak ke jenjang berikutnya. "Ya udah, sih. Kalo emang suka mumet gara-gara dituntut belajar terus. Sekali sekali bolehlah main ke sini. Aku rasa gak ada salahnya kalau kamu mampir ke sini meski tanpaku. Bartendernya juga pada baik, kok. Hampir semua bartender yang kerja di sini kayaknya udah kenal banget, deh, sama aku," ungkap Sia terkekeh. Bersamaan dengan itu, seruan bartender yang menghidangkan pesanan sang gadis dari balik meja pun cukup berhasil membuat Sia terkesiap. "Ck. Biasa aja kali! Kalo cara manggil lo gitu terus, bisa bisa pengunjung kena serangan jantung tau," ujar Sia mendelik. Tetapi menyebalkannya, Alex—nama salah satu bartender yang sudah mengenal Sia—malah cengengesan tak jelas alih-alih merasa bersalah karena sudah membuat Sia terkejut. "Have fun, darling! Panggil gue aja kalo mau nambah," ucapnya seraya melengos. Dilihatnya, Alex mulai bergelut melayani pengunjung lainnya yang juga turut memesan. "Aduh, aku kebelet, nih, Kak. Toilet sebelah mana ya?" Tiba-tiba saja, Isyana mengeluh dan tidak tahan ingin mengosongkan kantung kemihnya yang agak mendesak. "Dari sini kamu lurus, terus belok kiri mentok. Di sana ada toilet cewek sama cowok. Kamu bisa bedain antara logo cewek sama cowok, kan? Soalnya di sini gak pake tulisan atau gambar yang mencirikan cewek dan cowoknya. Di sini pake logo yang suka ada di pelajaran biologi gitu," terang Sia rinci. Beruntung, Isyana pun tidak bodoh-bodoh amat ketimbang membedakan logo cewek dan cowok yang baru saja Sia maksud. Untuk itu, tanpa perlu berlama-lama lagi, Isyana pun segera berjalan menuju ke arah yang sebelumnya sempat ditunjukkan oleh kakak sepupunya. Sementara Isyana sudah pergi ke toilet, Sia pun mulai menuangkan cairan alkohol dari dalam botol yang ia pesan tadi ke dalam gelas kecil khusus peminum standar. *** Sekitar pukul 9 malam, Raha baru saja selesai mengerjakan pekerjaan kantornya. Seperti biasa, dia memang terbilang suka sekali lembur sendirian. Meski orang kantor lainnya sudah lebih dulu pulang di jam sebiasanya, pria ini justru cenderung suka menyendiri sembari fokus menyelesaikan tugas-tugasnya. Raha menggeliat sebentar. Kemudian, ia pun teringat akan percakapannya tadi siang bersama sang mama. Membahas soal Sia yang katanya tiba-tiba saja meminta perjodohannya dibatalkan. Secepat kilat, Raha pun meraih ponselnya yang sedari tadi tergeletak di samping laptop. Sembari menutupkan laptopnya, ponsel Raha pun sudah bertengger di telinga kanannya selagi menunggu panggilannya tersambung. Dengan sabar, ia pun menanti sahutan dari sang gadis yang kelak akan dinikahinya. Tepat di dering ketiga, panggilannya pun sukses tersambung. "Haloo...." Mendengar dari suara bising di seberang sana, sontak Raha pun mengernyitkan dahi seraya bertanya, "Kamu sedang di mana? Kenapa kedengarannya ramai sekali di sana. Apa kamu tidak sedang di rumah?" Di tengah kejanggalannya, tahu-tahu Sia pun meracau. "Gak usah kepo, deh! Lagi pula, emangnya lo siapa? Gue sama lo gak akan jadi nikah, okey. So ... jangan berlagak seolah-olah lo akan sungguhan menjadi suami gue. Mending urusin aja pacar gay lo itu! Bukannya lo bilang kalian udah match banget ya," celoteh Sia terang-terangan. Dalam sekejap, Raha pun menduga bahwa Sia sedang berada di sebuah tempat di mana tak seharusnya ia ada di sana. "Tolong share lokasi kamu sekarang! Saya akan jemput kamu ke sana sekalian membicarakan lagi perihal perbincangan antara saya dan kamu di siang hari tadi. Dan sebaiknya kamu tidak minum terlalu banyak! Kamu bisa mabuk kalo—" Belum selesai perkataan Raha, sambungan pun diputuskan sepihak oleh gadis tersebut. Dongkol, Raha yang kepalang kesal pun lantas bertekad kuat untuk menemukan keberadaan gadis itu dan membawanya pulang. Tidak sedang sok peduli. Hanya saja, Raha perlu bicara panjang lebar dengan calon istrinya. Apalagi setelah ada ucapan dari Sia bahwa ia ingin perjodohan mereka dibatalkan. Paling tidak, Raha harus tahu dulu akar permasalahannya apa. Dengan begitu, ia pun bisa segera mencarikan solusi yang terbaik untuk keberlangsungan dirinya dan sang gadis. "Saya melakukan ini demi supaya Prasasti gak terus merengek dan memaksa saya untuk segera menikah. Itulah sebabnya, saya perlu bicara dengan Asia agar minimal dia tak keberatan untuk menjalankan pernikahan kontrak saja dengan saya nantinya," gumam Raha seorang diri. Selepas itu, ia pun bangkit dan mulai menyambar jas kerja yang sempat ditanggalkannya tadi selama dirinya fokus menyelesaikan pekerjaan. Kemudian, pria itu pun bergegas pergi meninggalkan ruangannya dengan tak lupa meminta satpam jaga—melalui intercom yang terhubung ke pos jaga—untuk mengunci pintu ruangannya seperti biasa. *** Sia dan Isyana sudah mulai beraksi di lantai dansa bersama-sama. Mengikuti irama musik yang berdentum, keduanya pun tampak menikmati lenggak-lenggok tubuh rampingnya seakan sudah terbiasa. "Oh iya, Sya. Nanti, aku bakal kasih kamu akses khusus supaya bisa masuk ke sini tanpa perlu liatin identitas ke petugas yang jaga di depan sana. Pokoknya, kamu bisa kapan aja mampir ke sini kalo lagi suntuk. Keamanan di sini terjamin, kok. Beda banget sama club malam lainnya. Di sini, pengunjung wanita jauh lebih dihargai. Kalo ada yang macem-macem, petugas bakal langsung seret orangnya tanpa pandang bulu," lontar Sia berteriak. Demi supaya suaranya tak teredam oleh bunyi musik yang semakin menggila, maka Sia pun merasa perlu mengeluarkan teriakan supernya agar Isyana bisa menangkap semua penjelasan yang sesaat lalu sudah dilayangkan oleh Sia. "Emangnya gapapa, Kak?" Isyana turut berteriak melontar tanya. "Ya gapapa, dong. Kan, usiamu masih tujuh belas. Otomatis kalo masuk tempat kayak gini, itu biasanya perlu didamping sama yang usianya sembilan belas ke atas. Menariknya, kalo kamu ada akses pribadi yang nanti aku bakalan kasih ke kamu, aku jamin gak ada yang berani usir kamu sekalipun satpam jaga yang bertugas mengecek identitas. Mendengar itu, sontak saja Isyana bahagia. Sejak lama, ia memang selalu mendambakan bisa masuk ke dalam club malam dan sejenisnya. Akan tetapi, hanya larangan yang selalu ia dapat mengingat di kartu identitasnya tertulis tahun lahir yang tak mendukung dirinya untuk memasuki dalamnya club malam yang cenderung negatif.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN