God! Kepalaku pening mendengar hirupikuk gelegar tawa dan decitan lantai dansa. Aku tidak menyangka akan seramai ini. Seharusnya, aku mendengar saran Kyrene untuk tetap tinggal. Semua ini bermula dari empat minggu lalu ketika pertemuan rutin The Boss digelar. Kami datang dengan beribu satu alibi untuk menutupi upacara pengeboman mobil pemimpin The Marrakesh. Tapi, ternyata hari itu dewi Fortuna menjelma menjadi jamuan makan malam di Foxwoods. Tak ada lagi mata yang menghardik kami diam-diam. Usut punya usut, bersamaan dengan datangnya Mr. Pierre ke markas kami, sekelompok organisasi mafia yang berada dibawah kekuasaannya membelot. Mereka merusak markas dan menghancurkan aset bisnis The Marrakesh. Akhir kata pertemuan itu berjalan mulus, seluruh kecurigaan diletakkan d

