Ditanya kepikiran mau berumah tangga oleh mamak camer membuat hatiku jedag-jedug. “Saya sih menunggu yang siap melamar saja, Ma eh Bu.” Duh, coba keceplosan mulu nih mulut. “Panggil Mama juga gak apa, Meera.” Ibunya Mas Bos Duren tersenyum, tampak lembut dan baik, sih. “Gak enak, Ma eh Bu.” Hadeuhhhh … nih mulut, ya! Kulirik dia yang lagi meeting hanya tersenyum sambil menggeleng kepala. Duh, makin ganteng saja sih so cool kayak gitu. Jadi pengen-pengen cepet dihalalin, eh. “Hmmm … kalau Mama boleh tahu, Ameera kalau mau cari calon suami yang seperti apa?” Aku kembali menelan saliva. Kok rasanya lagi sidang skripsi, ya! Tegang dan deg-degan. “Yang jelas dia harus lelaki, Bu. Terus single, punya penghasilan dan mencintai saya, Bu.” Akhirnya satu mata pertanyaan kujawab dengan

