Adara baru merasakannya sekarang. Tidak pernah mengira, jika perasaan semacam ini akan suka rela singgah sejenak di lubuk hatinya. Menimbulkan kegusaran, tidak fokusnya otak dalam berpikir, yang tentu saja berdampak pada kondisinya yang sering kali menghabiskan waktu dengan melamun. Dulu, Adara selalu menanti-nanti pergantian waktu agar terus bergulir lebih cepat. Kalau bisa dua kali atau tiga kali lebih cepat dibandingkan waktu dua puluh empat jam versi standar. Ia yang banyak masalah selalu menunggu waktunya ia pulang. Agar tidak lagi mengenyam yang nanya penderitaan. Menjalani hari demi hari penuh luka. Menciptakan sesak yang terus menggerogoti isi hati. Sampai membuatnya kehilangan rasa percaya, jika semesta benar-benar menyertakan yang namanya bahagia dalam setiap sesinya. Karena se

