Bab 9. Jalan-jalan

1017 Kata
Xella mual-mual begitu turun dari motornya Sakha. Bahkan gadis itu tidak peduli dengan helm-nya yang jatuh menghantam paving batako. Perutnya yang bergejolak membuatnya lemas. "Lo muntah gara-gara bonceng gue kebut-kebutan?!" "Biadab lo," maki Xella dengan nada lirih. Energinya terkuras habis. "Gue nggak biasa naik motor begitu." "Oh." Sakha merespon santai, memungut helm Hello Kitty warna pink punya Xella lalu meletakkannya di jok motor. Sakha berlalu masuk ke bengkel yang penghuninya secara terang-terangan menjadikan mereka berdua sebagai pusat perhatian. Pasalnya Sakha ini sedikit gila, bagaimana mungkin Xella nyangkut dengan laki-laki itu? "Bos, Xella ngapain ikut lo? Kena pelet?" tanya salah satu anak buahnya, anak jalanan yang hobi nyanyi merupakan karyawan di bengkelnya. Bengkel rakitan Sakha sendiri. "Samperin sana. Kasih minum, Jo." Jojo bingung, mau nyamperin Xella yang duduk ngemper di teras bengkel atau tetap diam karena perintah Sakha ambigu. Memberi izin atau sedang mengetes saja. “Suami sialan,” maki Xella mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan. Masih terbayang-bayang kematian di depan mata saat dibonceng Sakha. Berulang kali mengeratkan pegangan di pinggangnya faktanya Sakha memang seacuh itu. “Lagi pula gue berharap apa? Cih,” decih Xella. Hendak beranjak memesan ojek akan tetapi, tangannya langsung diseret masuk ke bengkel. Tanpa peduli berulang kali Xella memberontak. “Harus banget diajak-ajak kayak anak kecil. Emangnya lo nggak punya inisiatif sendiri? Cuma orang bego yang milih ngemper disaat pintunya terbuka lebar. Masuk! Mau jadi pengemis lo duduk di situ.” Xella membuang muka. Nurut saat bahunya ditekan untuk duduk di sofa. Sedangkan laki-laki itu pergi begitu saja ke sebuah belokan kecil yang Xella rasa penghubung ruangan lain. "Ssstttt kok lo bisa sama bos Sakha?" tanya Jojo berbisik. Dia yang paling kepo dan mewakili pertanyaan teman-temannya. Xella melengos enggan menjawab pertanyaan teman suaminya. Mereka hanya sebatas tahu nama jadi Xella tidak memiliki kewajiban menjawab pertanyaan basa basinya. "Nih minum. Habisin biar perut lo enakan. Kalau masih mual gue kasih minyak angin." Jojo tersedak mendengar perkataan Sakha. Matanya membulat sempurna dengan bibir melongo tidak percaya. "Bunting, Bos? Kok bisa," celetuknya tanpa sadar yang mendapat pelototan laki-laki itu. "Ampun. Cuma tanya doang, Bos." "Sana kerja! Yang lain kerja lo malah makan gaji buta. Mau potong gaji?!" "Kejam banget, Bos. Gue ngaso dulu, nggak sengaja ngeliat Xella di sini," ujarnya milih bangkit ngacir meninggalkan dua sejoli yang pada akhirnya saling diam. Xella diam memegang gelas sisa setengah air hangat, perutnya sudah lumayan enakan. "Ini bengkel punya lo?" Sakha berdeham menjawab. "Yang kerja di sini anak-anak kampus, Ka? Apa nggak bahaya kalau—" "Lo berharap kita backstreet? Atau lo berharap diakui sebagai pacar gue?" "Nggak ada yang punya harapan begitu tuh. Ngarang!" bantah Xella. "Gue cuma khawatir kalau mereka bocor ke kampus dan berimbas ke beasiswa gue." "Kan gue udah bilang. Nikah sama gue beasiswa lo bakalan aman sampai lulus. Bahkan kalau lo perlu koneksi perusahaan dengan mudahnya gue kasih. Kenapa lo khawatir?!" Xella lupa. Maklum isinya memang banyak pikiran. "Pesenin mereka makanan," titah Sakha melemparkan ponselnya jatuh di pangkuan gadis itu sedangkan dia beralih sibuk otak-atik motor. *** Usai mengajak Xella ke bengkel nyatanya mereka tidak langsung pulang. Malam-malam masih di jalanan muter-muter entah sampai kapan, lalu berakhir di gerobak nasi goreng. Xella turun berpegangan bahu suaminya karena tingginya motor membuatnya kesusahan naik dan turun. Untungnya Sakha tidak kebut-kebutan di jalanan, Xella toleransi akan hal itu. "Makan dulu, sekalian bungkus buat mama," kata Sakha berlalu menuju ke tenda tanpa menunggu Xella yang masih meletakkan helm. Pergerakan Sakha yang sukses membuat pusat perhatian, apalagi di gerobak nasi goreng ini banyak muda-mudi yang nongkrong, bukan hanya cowok-cowok, cewek-cewek juga banyak, bahkan yang berpasangan juga ada. "Dia sering ke sini?" Monolog Xella melihat keakraban Sakha dengan cowok-cowok di pojok tenda yang sedang bermain gitar. Xella pikir Sakha akan bergabung, tapi rupanya laki-laki itu memilih meja paling tengah. Xella menghampiri, duduk di sebelah Sakha karena kebetulan tempatnya yang strategis. "Mereka kenal lo. Sudah sering ke sini, ya? Gue pikir orang-orang kaya mainnya nggak ke tenda." "Gue juga main ke klub. Mau ikutan?" Sarkas Sakha akan perkataan Xella yang memandangnya sebelah mata, terkesan pandangan negatif. “Waduh lama absen dari warung Uwa giliran datang bawa gandengan,” goda sang penjual yang merupakan bapak-bapak dengan handuk kecil yang mengalun di leher tuanya. “Istri, Wa. Kemarin-kemarin sibuk sama bengkel, baru sempat mampir,” ujar Sakha memperkenalkan Xella yang disambut Xella mengulurkan tangan bersalaman. “Waduh-waduh.” Sakha tertawa terbahak-bahak saat wajah terkejut uwa sampai menatap Sakha dan Xella secara bergantian. Tentu Sakha paham dengan keterkejutan orang-orang karena Sakha adalah playboy yang mudah mencuri dan mencampakkan lalu datang-datang memperkenalkan Xella sebagai istrinya. "Harusnya lo bangga karena jadi istri gue ha-ha!" Sakha terbahak-bahak menyendok nasi dalam porsi besar. "Sehat lo? Gue biasa aja jadi istri lo. Apa yang perlu dibanggakan? Harta juga bukan harta lo, kok." "Bebasin aja lo mau ngomong apa, La, La. Serah lo, deh. Makan, terus pulang. Gue merasa bawa pergi anak gadis orang." Sakha geleng-geleng kepala. Dalam benak Xella dia juga mulai condong melihat Sakha dengan sudut pandang berbeda. Laki-laki itu terlihat beda saat di rumah dan di kampus. Tindakan Sakha natural, bahkan begitu mudah berbaur dengan orang asing, menyapa, dan menolong. Seperti saat masih di bengkel dia membawa bapak-bapak tua yang motornya mogok. Sakha bahwa menangani motornya sendiri, bukan hanya servis, dia memberi beberapa lembaran uang alih-alih meminta bayaran untuk jasanya. "Lo itu terlalu misterius, Ka," batin Xella diam-diam melirik Sakha yang sedang merokok di belakang tenda. “Udah?” tanya Sakha berbalik badan menganggap Xella sepenuhnya, laki-laki itu membuang puntung rokok yang sisa setengah tinggi saat Xella memberi anggukan. Gadis itu tercengang saat lengannya disambar. Mereka menghampiri uwa membayar makanannya sekaligus bungkus satu. Padahal Xella tak masalah kalau harus menunggu Sakha selesai merokok. “Pegang,” titahnya memberikan kresek berisi nasi goreng dan es teh manis. Sakha beli sepaket dibawa pulang. “Ada sesuatu yang mau dibeli dulu sebelum pulang? Atau mau langsung pulang? Jam segini udah ngantuk,” ujar Sakha melirik spion motor memperhatikan wajah sayu Xella yang berulang kali jatuh di bahunya. “Pulang aja,” baiknya. Sakha menurunkan laju kendaraannya saat menyadari tangan yang melingkar di perutnya mengendur. Mata Xella juga terpejam sayup-sayup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN