Kali ini aku memilih untuk berjalan sendiri di desa Awan, ingin lebih mengenal tentang desa ini, masih banyak tempat yang belum aku jelajahi karena kesibukan aku sendiri, tapi sebenernya masih ada yang ingin aku coba tapi bukan waktu yang tepat saat ini. “Udara paginya seger bukan?” aku melangkah mundur saat mendengar suara dari balik semak-semak, lenganku langsung bergegas mengeluarkan alat pengaman untuk berjaga-jaga. Perempuan dengan tudung hitam dengan lengan yang memegang ujung bawah ransel keluar, dia membuka tudungnya, tersenyum ke arahku dengan jubah yang sudah kotor dan terdapat noda darah. Aku mengacungkan alat yang aku pegang, mengangkat dagu seolah aku tidak takut dengan orang di depanku, aslinya aku menahan rasa takut yang sudah membuat lututku terasa lemas. “Nadeva,” dia

