Setelah acara mempusingkan diri kemarin bareng sama Quera dan kak Anya, hari ini akhirnya aku mutusin janjian sama Zack untuk keliling kota, melihat situasi-situasi yang ada di negara Timur, terkhusus untuk kotanya. Pakaian yang aku kenakan sekarang simpel banget, cuman baju lengan panjang berwarna biru laut yang aku sandingkan sama celana panjang berwarna hitam, tas selempang warna biru dan sepatu hitam.
“Gila kamu, gercep banget nyampe ke rumah aku, emang gak ketauan waktu masuk?” tanyaku saat membuka pintu mobil, masalahnya waktu janjian antara aku sama Zack itu jam 9 pagi dan dia udah ada di depan halaman aku jam 8 lebih 50 menit, gimana gak kaget.
“Santai aja Al, sebenernya aku juga ngerasa aneh pas masuk soalnya gak seketat itu penjagaannya, malah cenderung longgar buat aku masuk tadi,” jelas Zack melepas topi hitamnya.
“Ya udah, sekarang kita berangkat ke pusat kota ya, kamu sekalian liat-liat dan baca situasinya ya.”
“Siap laksanakan tuan putri,” jawab Zack dengan cepat.
Hanya butuh waktu 15 menit lebih untuk sampai ke pusat kota, aku menghentikan mobil di pusat pembelanjaan terbesar di negara Timur, dan sebagai tempat paling sering mendapat penyidikan dari pemerintah secara mendadak.
“Nah biasanya di sana tuh tempat perbelanjaan,” ucapku yang memegang setir mobil, menunjuk ke arah bangunan yang dipenuhi oleh orang-orang, “kalau kamu mau belanja kebutuhan, paling lengkap di situ, tapi harganya gak mahal-mahal, di sampingnya juga ada pasar tradisional yang jauh lebih murah dari yang di toko-toko, biasanya yang di pasar tradisional itu orang-orang dari desa.”
“Kalau tempat hiburan dimana?” tanya Zack, “ini emang misah atau gimana? Kalau misah ya, kenapa gak nyatu aja gitu, biar gak memusingkan orang dan dijadiin satu tempat aja.”
“Beda lah tempat antara tempat hiburan, biasanya ada di samping kota karena banyak tempat permainan yang di luar ruangan, jadi lebih tepat ada di pinggir kota sekalian nyatu sama alam.”
“Beda ya sama di negara Barat, kalau di negara barat dua tempat itu di gabung dan ada di pusat kota. Soalnya kebanyakan anak muda, jadi sekalian nyegerin otaknya, ya sekalian belanja.”
“Ya kan beda negara,” dengusku yang menyalakan lagi mobil, mengarahkan ke beberapa blok, “nah kalau yang di sebelah sana itu rumah sakit pusat. Di sana fasilitasnya udah beneran lengkap, bahkan alat-alat terbaru tuh ya ada di rumah sakit itu. Di sebelahnya ada apotek yang super duper lengkap, dari obat ringan sampai obat berat, makanya di sana ada penjagaan pemerintah.”
“Kenapa perlu ada penjagaan ketat dari pemerintah? Kasian dong orang-orang gak bisa bebas buat beli obat-obatannya,” tutur Zack seperti wartawan.
Aku menarik nafas pendek, “Soalnya banyak kasus penyalah gunaan obat, terutama untuk obat bius yang digunain sama oknum yang gak bertanggungjawab buat ngelemahin penjaga perbatasan. Makanya pemerintah nyoba untuk mencegah itu dengan ngelakuin penjagaan di pusat apotek dan pusat rumah sakit, lumayan sih ngurangin kasus kayak gitu di sini.”
“Di negara Timur ada berapa banyak rumah sakit sama apoteknya? Terus apa aja perbedaan dari rumah sakit pusat ini sama rumah sakit di luaran sana, dan satu lagi apa semua rumah sakit dan apotek ada penjagaan atau cuman ada di pusat aja?”
“Kek wartawan ya,” gumamku sepelan mungkin, “jadi gini Zack, di negara Timur rumah sakit itu banyak tapi cuman untuk penanganan kasus ringan bukan kasus berat jadi gak seketat ini penjagannya.”
“Ada berapa banyak? Dan disebarnya dimana aja? Aku mau liat,” sahut Zack yang langsung memotong ucapan yang belum sempat aku selesaikan.
“Bisa gak sih kasih waktu buat aku nyelesaiin ucapan aku dulu,” dengusku yang mendapat kekehan, “kalau kamu ngira cuman dikit rumah sakitnya, kamu salah. Di sini ada sekitar 20 lebih rumah sakit termasuk rumah sakit pusat, di sebarnya di beberapa titik kota dan perbatasan untuk memudahkan orang-orang desa berobat. Sedangkan buat apoteknya ada jauh lebih banyak, sekitar 25 apotek termasuk apotek pusatnya, penyebarnya gak berbeda jauh dengan rumah sakit.”
“Al, bawa aku ke rumah sakit sama apotek yang ada di perbatasan, kayaknya ada yang aneh.”
“Aneh kayak gimana deh Zack? Coba kalau ngasih tau tuh sama penjelasannya biar aku gak bingung sama ucapan-ucapan kamu yang setengah-setengah, alasan kamu ngerasa aneh tuh gimana?”
Aku gemas sendiri dengan Zack dari tadi, dia beberapa kali ngomong gak selesai kalau gak ngomongnya gak jelas dan cuman em berakhir kata, gak jadi deh Al, gimana gak gemes aku sama dia.
“Hahaha kesel sendiri ya?” tanya Zack dengan tawanya, “jadi gini Al kalau ada rumah sakit dan apotek di perbatasan kota dengan desa, kita harus mastiin kalau dua tempat itu gak di salah gunain. Kamu kemarin bilang mulai ada pemberontakan kan? Nah bisa jadi tempat-tempat yang ada di perbatasan antara kota dan desa itu dijadiin tempat untuk medapatkan barang yang dijadiin alat pemberontakan, soalnya dua negara pernah ngalamin hal serupa dan tempat dijadiinnya itu di perbatasan.”
“Jadi menurut kamu bisa jadi rumah sakit sama apotek itu sebagai tempat alat jual belinya?”
Zack mengangguk, “Nah bener banget, makanya kita perlu mastiin dari situ Al. Tempat yang paling jarang dilewatin sama orang dimana? Sama yang paling sering dilewatin orang yang mana?”
“Ya paling jarang itu perbatasan sama desa daun, di bagian timur. Kalau yang paling sering itu perbatasan sama desa Azuma, bagian utara kota.”
“Kita ke sana dulu, firasat aku sih bilang di dua tempat itu jadi tempat jual beli ilegal alat-alat khusus. Kalau tempat itu jarang dilewatin, otomatis penjagaannya gak bakalan ketat dan cenderung longgar. Sedangkan kalau ramai, biasanya mereka bisa memanipulalasi keadaan yang ada.”
“Udah pro banget ya masalah kayak gini,” aku menghela nafas, melajukan mobil ke tempat pertama di bagian utara, “ya gimana engga Alya, Zack kan sekarang jadi orang yang di blacklist, terus emang otaknya rada gitu, jadi wajar aja Al, gak usah kaget.”
“Kamu ngomongin aku nih? Kenapa gak di belakang?”
“Kalau di belakang cuman buat pecundang, kalau di depan kan keren banget tuh, kamu bisa dengerin langsung aku ngomong kek gimana. Tanggepin aja, jadi ajang diskusi.”
“Nah kan emang manusia aneh kamu Al, bukan gila lagi, udah lebih dari gila.”
Aku berhenti di apotek yang ada di perbatasan utara, seperti yang aku bilang tadi, perbatasan utara itu yang paling sering di lewatin sama orang-orang baik dari desa, negara lain bahkan sama orang kota yang katanya mencari ketenangan di hutan utara yang sangat asri, atau di desa Azuma.
“Bener kata kamu, tempatnya rame banget. Penjaganya ada di sebelah mana?” tanya Zack yang melepas sabuk pengamannya, aku memperhatikan tingkah Zack yang seperti orang yang sedang tarung alias adu kekuatan dalam perlombaan.
“Ya kan ini tempat keluar masuknya kebanyakan orang-orang Zack, bahkan orang dari luar negara Timur kebanyakan lewat sini soalnya kan gak banyak ranjau, jadi lebih aman untuk nyawa mereka,” jelasku yang menyerahkan masker untuk Zack, kebiasaan di perbatasan ini adalah memakai masker untuk 3 bulan ke depan karena ada letusan yang membuat abu dari gunung bisa terhirup.
“Kenapa harus pake masker? Takut kita ketauan atau gimana?”
Aku menepuk dahi, “Katanya pinter baca situasi, gimana sih! Nih ya Zack, gunung yang ada di desa Azuma itu lagi aktif sekarang, jadi pemerintah lagi menghimbau orang-orang untuk memakai masker biar abu dari gunung gak kehirup. Liat tuh mobil kak Anya, ada debu-debu hitam kan.”
“Kenapa gak dipindahin aja orang-orang dari desa Azuma, masalahnya kita gak tau kapan gunungnya bakalan meletus loh Al, lebih berbahaya dan mengandung risiko yang cukup besar.”
“Gimana ya aku bilangnya, kalau pemerintah itu gak terlalu merhatiin orang-orang yang ada di desa. Mereka lebih merhatiin orang-orang kota, karena kebanyakan yang megang kendali itu orang-orang kota dibanding sama desa. Lagian bukan hal yang aneh lagi Zack, pemerintah tuh cuman mau untung doang dari orang-orang desa, makanya gak ada apotek atau rumah sakit atau tempat pembelanjaan di desa-desa, dan itu yang aku sayangkan sekali dari pemerintah di negara ini.”
Zack mengangguk, “Emang miris sih Al, beda sama pemerintahan di 3 negara, negara Barat, negara Tenggara sama negara Utara yang gimana pun masih merhatiin desa-desa yang ada di sekitar kota.”
“Udah udah, sekarang siapa yang mau turun terus liat situasinya?” tanyaku sebelum akhirnya menahan lengan Zack, “aku aja deh, tadi aku liat Hiraka sama Joe di sini.”
“Seriusan mau kamu Al?” tanya Zack memastikan sekali lagi, aku mengangguk.
“Udah dari sini kita nanti jalan ke pusat kota, lebih tepatnya kantor para petinggi,” ucapku untuk terakhir kali sebelum akhirnya keluar dari mobil.
Hal pertama yang aku rasa saat keluar dari mobil adalah dingin tapi juga panas, cuacanya gak begitu bagus banget buat sekarang apalagi sekarang udah jam 2 siang. Ya bener banget, perjalanan dari pusat kota ke perbatasan utara emang cukup jauh, belum lagi tadi kita berhenti karena harus membeli beberapa makanan dan minuman untuk diperjalanan.
“Joe! Hiraka!” sapaku ke dua manusia yang sedang mengecek kedatangan orang-orang dari luar.
Hiraka yang pertama kali menoleh, “Loh kamu ngapain ke sini Al? Situasi di sini lagi gak bagus loh, tadi aja ada pemberontakan dari beberapa warga sampai ada rumah warga yang kebakar.”
“Ngapain kamu ke sini Al?” tanya Joe yang melepaskan topinya dan menyerahkan ke arahku.
“Aku ke sini mau liat-liat, aku aja Zack ke sini, kita punya beberapa prediksi gitu, salah satunya tentang rumah sakit dan apotek di perbatasan ini Al, Hiraka,” jelasku.
“Jangan hari ini aja Al, sekarang gak kondusif, nanti kalau ada apa-apa aku bakalan bilang ke kamu.”
“Nah saran dari kak Joe bisa di ambil Al. Sekarang lagi banyak p*********n, lumayan bikin kewalahan tim pertahanan di negara kita. Mungkin sementara gerbang di perbatasan bakalan di tutup buat mencegah hal yang gak diinginkan.”
“Masalahnya, Zack bilang bisa jadi ada transaksi ilegal terutama untuk obat-obatan berbahaya di rumah sakit sama apotek di tiap-tiap perbatasan, soalnya kita tau kan kalau di perbatasan gak seketat di pusat kota buat penjagaannya, jadi aku sama Zack mau nyari tau tentang itu.”