“Itu tangan kenapa banyak darah Alya?” kak Fincent langsung berdiri saat aku baru aja masuk bareng profesor Hangga, mukanya langsung berubah panik dan pucat. “Tadi kayaknya gak sengaja kena benda tajam dan ternyata ada pembengkakan di salah satu aliran darahnya, makanya bisa luka sebanyak ini. Lukanya juga cukup dalem, nanti minta tolong buat periksakan secara keseluruhan dulu baru udah itu jait lukanya biar gak keluar darahnya terus menerus.” Profesor Hangga menunjukan lengan yang sekarang di perban. “Ck.. gak usah panik kali, aku aja biasa aja,” komentarku yang mendapat jentikan jari oleh kak Fincent, “sakit kakak ih, sama aja kayak yang lain, suka semena-mena sama aku.” “Lagian kamu, udah tau lagi sakit kayak gini, suka seenaknya sendiri, nanti orang lain yang panik juga gara-gara ka

