Aku mengambil kompresan baru untuk Zack, udah 1 jam lebih Zack tertidur pulas di sofa setelah perdebatan panjang tadi. Aku mengusap peluh yang bercucuran di sekitar pelipis Zack dengan kain kecil yang aku buat kemarin, ya setelah menyukai dunia penelitian, aku sekarang jatuh cinta dengan dunia rajut dan menjait, rasanya aku bisa jauh lebih santai.
“Lukanya kenapa makin banyak sih,” gumamku, menarik kaos Zack sampai d**a, meringis melihat luka-luka baru yang ada di tubuhnya, kalau kayak gini berarti kondisi negara Selatan beneran gak dalam baik-baik aja.
“Engh.. aw.. sh..” gumam Zack dalam tidurnya saat aku mengusap luka-lukanya dengan cairan steril, mengganti kapas-kapas yang sudah menguning karena obat tetes.
“Maaf ya Zack, tapi kalau gak aku ganti nanti takut ada kuman,” ucapku pelan, mengusap sekali lagi luka baru yang ada di bahunya, luka yang cukup memanjang sampai hampir menyentuh dadanya.
Aku mau menangis tapi ini bukan waktu yang tepat, aku gak boleh keliatan lemah disaat orang-orang di sekitar aku terluka kayak gini. Aku yang jadi penguat bukan mereka, ya itu yang bisa aku lakukan sekarang. 1 jam lebih aku berkutat dengan luka-luka di tubuh Zack, banyak kapas dan kain kasa yang sekarang melilit di tubuhnya apalagi di luka yang masih basah.
“Bentar deh, mumpung Zack lagi tidur, aku bisa nyari informasi dari data yang dia bawa!” aku berjalan menuju ruang kerja Zack yang ada di sebelah selatan, memasuki ruangan yang bernuansa gelap, terlihat suram sekali tapi ya cocok dengan pribadi Zack.
Aku mengobrak-abrik isi laci sebelum menemukan dua buku besar, “Waktunya bakalan cukup gak ya?” gumamku menarik ikatan rambut di lengan, mengikat rambut dengan gaya kuncir kuda.
Aku membuka buku pertama yang bertuliskan “PENELITIAN AWAL DAN AKHIR ZARDYA DAN ZACK”. Aku mengerutkan dahi membaca nama yang tertera di sana selain Zack, mengambil pulpen dan kertas untuk menulis poin-poin dari penelitian itu.
PENELITIAN PERTAMA! ALAT TRANSPORTASI ANTAR DIMENSI DAN RUANG DI ANGKASA.
Ini akan menjadi alat pertama yang bisa mengguncang bahkan merubah peradaban yang ada ke depannya, penelitian ini akan berlangsung selama 3 tahun 10 bulan dengan dua peneliti ilegal tapi hebat dari negara Utara, Zardya dan Zack!
Penggunaan suku ganda dari alat ini akan memakan penelitian selama 4 bulan, harus menggunakan caira khusus dari tanaman langka yang ada di negara Barat, tanaman untuk bahan senjata di negara itu dan hanya ada di pasar ilegal di negara Utara. Untuk pengaturan waktu dan dimensi bisa menggunakan pemanfaatan komputer dengan perakitan khusus dari Zack, penggunaan suku cadang masih diperlukan di sini jadi perlu ada tanaman langka itu di lab khusus.
“Tanaman langka ini katanya ada di 3 negara dan menjadi tanaman langka.” ~ Zardya.
“Dua suku cadang khusus untuk perakitan komputer dengan energi yang bersumber dari ledakan nuklir di perang dunia ketiga, bisa diambil di gua yang ada di negara Timur laut.” ~ Zack
“Cairan khusus ini aku kasih nama cairan biru, kerja zatnya baru efektif jika bisa dilarutkan menggunakan pelarut khusus dari campuran tanaman Aqrytan dan Asytry, gak bisa diganti dengan tanaman lain bahkan kalau itu tanaman yang memiliki zar yang sama.” ~ Zardya.
“Susunan komputer udah 10% berjalana, rakitan awal masih sulit, energinya terlalu besar dan gak bisa dikendalikan, bisa menyebabkan mutasi permanen untuk lengan yang terkena langsung.” ~Zack.
Deru nafasku menjadi memburu, setiap kata yang ditulis di buku ini bisa membuat aku lama-lama menjadi gila! Masalahnya ini hampir sama dengan alat yang aku rancang selama 2 tahun terakhir ini, alat yang hampir rampung dan membutuhkan pasukan energi yang pas.
“Kamu sekarang gak sopan ya Al,” suara Zack membuat aku gelagapan, aku menutup buku pertama itu dengan cepat, berjalan ke arah Zack dan tanpa basa-basi menampar wajahnya.
“Maksud kamu apa di buku itu? Kamu bilang ke aku, kamu gak tau apapun tentang dunia teknologi Zack!” ucapku dengan emosi yang meledak, “Aku butuh bantuan kamu karena---“
“Zardya mati setelah mencoba alat itu, 3 tahun yang lalu, alat itu berhasil rampung. Sesuai rencana awal aku dan Zardya, alat itu bisa kita rampungkan dalam 4 tahun lebih, tapi kita gak tau efeknya kalau kita langsung gunain alat itu. Zardya yang terlalu antuis langsung menggunakan alat itu tanpa uji coba awal dulu, dan di depan mata aku aku ngeliat Zardya terbakar karena ada kesalaha dari energinya. Komputer yang semula berfungsi dan menunjukan angka untuk kami berpindah, langsung terbakar.”
“Tapi kamu gak bisa bohongin aku Zack! Aku udah dari lama berusaha untuk nyari cara gimana alat itu bekerja, sumber energi apa yang pantas untuk alat itu, dan kamu tau tapi kamu gak mau bantu aku.”
Zack menangkup kedua pipiku, “Aku gak bisa untuk liat orang-orang yang berharga untuk aku merenggut nyawa oleh alat monster itu, meskipun aku gak bisa ngeraguin kamu tapi tetep aja kita gak tau ke depannya bakalan kayak gimana. Ini salah satu penyebab ada luka bakar di sepanjang perut.”
“Zack..” aku memeluk tubuh Zack, mencoba merasakan ketakutan yang Zack hadapi sekarang, “aku tau kamu takut, tapi kamu gak boleh nutup kesempatan buat aku rancang alat itu.”
“Itu terlalu berbahaya Al, aku gak bisa liat satu lagi nyawa dari orang yang berharga buat aku.”
Aku melepas pelukannya, mengusap dahi Zack yang mengerut antara takut dan menahan emosinya terhadap pilihan aku. Lenganku bergerak pelan menelusuri wajah Zack sebelum akhirnya berhenti di pipi Zack, mengusap pelan, menyampaikan secara tersirat kalau aku bakal baik-baik aja.
“Kamu gak bakal liat nyawa orang yang berharga buat kamu itu hilang, kamu bakal liat kalau aku baik-baik Aja Zack, kamu gak perlu takut dan gak perlu nyalahin diri kamu.”
“Zardya mati karena aku, aku yang nyusun pemrograman komputer dan ngusulin energi nuklir itu.”
“Hei Zack, liat aku sekarang,” aku menggelengkan kepala, “bukan salah kamu, kita gak punya kekuasaan buat nentuin hidup matinya seseorang, kita cuman bisa berusaha tanpa tau akhirnya bakalan kayak gimana Zack. Kamu udah berusaha nyari cara kan, jadi bukan salah kamu.”
“Itu tetep salah aku Al, kalau aku bisa berusaha lagi nyari cara untuk nemuin sumber energi itu, mungkin Zardya masih ada di bumi ini, dia masih bisa bersamain aku sekarang.”
“Kalau kayak gitu, sekarang bantu aku ya untuk cari cara nemuin sumber energi untuk alat itu daripada kamu cuman bisa menyesal sama semuanya. Kamu harus bangkit dan buktiin sama Zardya kalau kamu sekarang udah bisa ngerancang alat hebat yang kali impikan, lewat perantara aku. Kamu mau kan?”
Siangnya..
“Siang semuanya!!” sapaku dengan ceria, aku melambaikan tangan ke arah teman-teman ilmuwan yang sibuk di ruang istirahat, ya aku termasuk orang yang datang terlambat hari ini.
“Alya kamu telat!” gerutu Lizy dengan muka cemberut, dia memasukan sisa puding di cup dengan tergesa, hampir sisanya langsung ia masukan sampai mulutnya penuh.
“Pelan-pelan hei! Aku gak bakalan minta kali,” ucapku menyerahkan satu botol minum ke arahnya.
Dia mengambil dengan wajah cemberut, “Abisnya kamu telat banget nyampe ke sini, jadi pada linglung semua mau ngelakuin apa tadi, pengen marah-marah.”
“Biasa lagi dapet tamu bulanan, jadi pusing sendiri dia,” bisik Quera yang aku angguki, pantesan.
“Ya maaf, tadi kemarin aku ke tempat Zack, kondisi dia masih belum terlalu baik terus kalian harus tau nih sebuah info yang bakalan megegerkan kita semua, Zack itu pernah ngelakuin penelitian kayak kita, tapi sayangnya penelitiannya gak berjalan sesuai keinginannya. Salah satu temennya meninggal dan itu bikin dia trauma, tapi tenang, sekarang dia mau bantu kita buat----“
“Mau nyoba masukin orang luar ke proyek kita? Seriusan nih?” tanya Zifra yang membuat semua terdiam, gak berani bersuara termasuk aku, “aku gak mempermasalahkan, cuman seriusan nih?”
“Emang kenapa kalau kita ajak orang luar di proyek kita? Bakalan bermasalah sama proyek kita?”
Zifra menggeleng, “Bukan bermasalah Que, cuman bakalan ribet untuk satu atau dua hal lain nantinya. Misalnya untuk hak paten atau kalau ada sesuatu, siapa yang bakalan tanggungjawab?”
“Bener sih ucapan Zifra, cuman permasalahan sekarang itu waktu kita gak banyak lagi buat ngerangkai alat-alat ini, terus kita sampai sekarang masih diam di permasalahan yang sama yaitu sumber energi.”
“Kata Arvi bener banget, sekarang tuh waktu kita gak banyak apalagi secepatnya kita harus mindahin semua alat ini ke desa Awan, terus lagi permasalahan sumber energi tuh udah dari lama, buka sebulan dua bulan doang loh, masa mau ngabisin waktu untuk hal itu terus,” jelasku yang diangguki.
“Aku sih gak mempermasalahkan kalau Zack masuk, tapi ya gitu, yang lain gimana? Setuju atau engga, cuman kalau iya nih kalian gak setuju. Pertanyaannya, mau berapa lama kita nyari sumber energi buat alat itu? Setahun atau dua tahun lagi hm? Atau mau sampai semua kota hancur.”
“Kata-kata kamu serem banget Lizy,” komentarku yang dibalas delikan mata tajam dari Lizy, “sekarang tuh gini deh, mau nerima Zack di penelitian kita atau kita stop ini penelitian.”
Semua langsung hening, masalahnya ini menjadi permasalahan yang jauh lebih berat sekarang. Merelakan penelitian yang udah dari lama kami garap atau membiarkan orang baru masuk di penelitian kami, pilihan yang sulit.
“Aku sih milih Zack masuk, daripada biarin penelitian ini berakhir.”
“Aku setuju, gak masalah kalau Zack masuk, lebih seru kali kalau ada dari luar.”
“Zack ganteng loh, jadi sekalian cuci mata deh, jadi aku setuju banget Zack masuk ke penelitian.”
“Mikirnya cowok dasar Que, tapi aku setuju sih Zack masuk, dia lebih berpengalaman juga kan, penelitian ini gak boleh berhenti gitu aja!”
“Jadi gimana?” aku mengangkat kedua lenganku, “jawabannya adalah...”
“Setuju Zack masuk!!”