Aku membuka pintu rumah, setelah melakukan pengecekan di desa Awan selama 3 minggu lebih, aku harus kembali masuk di rutinitas harianku sebegai tim peneliti pemerintah, ya meskipun sebenernya aku gak rela buat keluar dari surganya dunia, tapi aku bisa apa? Mumpun cuman 1 bulan doang aku di kota, aku bisa sekalian jenguk makan Javier. “Kakak istirahat aja, pasti kemarin cape kan ngurusin warga desa Awan yang terjangkit penyakit yang sama,” ucapku dengan sepelan mungkin, mengambil tas dan jas yang kak Fincent gunakan, sekarang kak Fincent mirip seperti dulu, dari cara bicara dan cara dia menyikapinya. Kak Fincent memijat bahunya pelan, “Agak sakit sebelah pundak ke lengan sih, kayaknya gara-gara kemarin harus bantu bopong warga, peralatan angkut kita juga belum lengkap, masih ada beberapa

