MALAM TANPA TIDUR

1503 Kata
Dunia di luar jendela kediaman Baumann telah berubah menjadi hamparan putih yang sunyi. Salju turun begitu lebat hingga menutupi jalur pendakian di bukit Zurichberg, menciptakan isolasi yang sempurna dari hiruk-pikuk pusat kota. Namun di dalam kamar utama, kesunyian itu tidak membawa kedamaian. Bagi Sienna Baumann, malam adalah musuh yang paling jujur, saat di mana semua topeng ketangguhannya sebagai CEO jatuh dan menyisakan rasa sakit yang nyata. Sienna terbangun tepat pukul dua dini hari. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena mimpi buruk, melainkan karena rasa sakit yang menusuk di pangkal tengkoraknya. Ia mencoba mengangkat kepalanya dari bantal sutra, namun lehernya terasa kaku seperti semen yang mengering. Rasa sakit itu berdenyut seirama dengan detak jantungnya, menyebar ke belakang mata dan membuat pandangannya sedikit berkabut meskipun lampu kamar hanya menyala redup. "Sial," bisiknya parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lemah dan penuh kerapuhan yang ia benci. Ia meraba-raba meja nakas, mencari tombol pemanggil perawat atau asistennya, Clara. Namun tangannya gemetar hebat. Dalam kegelapan yang remang, ia melihat botol obat yang diresepkan oleh Dr. Ulrich. Sejenak ia teringat wajah Marc di rumah sakit, peringatan dingin pria itu tentang dosis yang akan membunuhnya, dan ramuan aneh yang ia bawa semalam. Sienna menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia adalah seorang Baumann. Ia dididik untuk memercayai sains, data, dan protokol medis terbaik yang bisa dibeli dengan uang. Marc hanyalah seorang suami kontrak yang dipaksakan oleh wasiat kakeknya yang sudah pikun. Namun, saat ia melihat botol obat itu, ada keraguan yang menyelinap masuk ke dalam benaknya. Mengapa rasa sakit ini justru semakin hebat setiap kali ia mengikuti prosedur medis yang ada? Ia menolak untuk menekan tombol panggil. Ia tidak ingin Dr. Ulrich atau Paman Urs datang dengan jarum suntik mereka lagi. Ia benci perasaan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri saat obat penenang itu mulai bekerja. Dengan sisa kekuatannya, Sienna memaksakan diri untuk duduk di tepi tempat tidur. Keringat dingin membasahi baju tidurnya, membuat tubuhnya menggigil dalam suhu kamar yang sebenarnya sudah diatur dengan pemanas sentral. Di saat yang sama, di sayap kiri bangunan yang terisolasi, Marc Fischer tidak sedang tidur. Ia duduk bersila di atas lantai kayu yang keras di kamarnya. Matanya tertutup, namun indranya yang tajam menangkap setiap perubahan frekuensi energi di rumah besar itu. Ia bisa merasakan kegelisahan Sienna. Melalui teknik pengamatan spiritual yang ia lakukan sebelumnya, jiwanya masih terhubung tipis dengan jejak qi yang ia tinggalkan di titik Baihui milik Sienna. "Dia keras kepala," gumam Marc. Ia membuka matanya yang berkilat biru di kegelapan. "Jika dia terus menahan sakit itu sendirian, aliran darahnya akan membeku sebelum fajar." Marc berdiri. Ia telah menyiapkan sesuatu sejak sore tadi. Di sudut kamarnya, di atas sebuah kompor listrik kecil yang ia beli secara sembunyi-sembunyi melalui kurir daring, sebuah periuk kecil dari tanah liat berisi ramuan herbal sederhana. Ia tidak menggunakan bahan-bahan langka karena ia tidak memilikinya, melainkan hanya kombinasi dari jahe kering, kulit kayu manis, dan sedikit ekstrak bunga krisan yang ia temukan di dapur saat para pelayan sedang lengah. Bagi orang awam, itu hanyalah teh herbal biasa. Namun di tangan Marc, suhu perebusan dan urutan pemasukan bahan diatur berdasarkan prinsip alkimia kuno untuk memaksimalkan energi hangat yang bisa menembus sumbatan dingin di saraf. Ia menuangkan cairan cokelat jernih itu ke dalam sebuah cangkir keramik polos. Ia tidak membawa nampan perak atau sendok kristal. Marc berjalan keluar dari kamarnya, menyusuri koridor yang kini benar-benar sepi. Ia tidak perlu lagi bersembunyi dari pengawal; ia tahu jadwal pergantian shift mereka. Marc sampai di depan pintu kamar Sienna. Ia tidak mengetuk. Ia tahu Sienna tidak akan mengizinkannya masuk jika ia bertanya. Sebaliknya, ia meletakkan cangkir itu di atas sebuah meja kecil yang berada tepat di samping pintu masuk kamar, di area yang terlindung dari embusan angin koridor. Ia membubuhkan secarik kertas kecil di bawah alas cangkir. Setelah memastikan posisi cangkir itu aman, Marc mengetuk pintu kamar Sienna sebanyak tiga kali—ketukan yang pelan namun memiliki resonansi yang cukup untuk didengar oleh seseorang yang sedang terjaga dalam kesakitan. Tanpa menunggu jawaban, Marc segera menghilang kembali ke dalam bayang-bayang koridor sebelum pintu sempat terbuka. Di dalam kamar, Sienna tersentak mendengar ketukan itu. Siapa yang berani mengetuk pintunya di jam seperti ini? Clara biasanya akan memanggil lewat interkom terlebih dahulu. Paman Urs selalu masuk tanpa mengetuk jika ada keadaan darurat. Dengan langkah gontai dan tangan yang memegang dinding untuk keseimbangan, Sienna berjalan menuju pintu. Ia membukanya sedikit, berharap melihat perawat jaga, namun koridor itu kosong. Hanya ada kegelapan yang sunyi dan cahaya lampu redup yang memantul di lantai marmer. Matanya kemudian tertunju ke bawah. Di atas meja konsol kecil di samping pintu, sebuah cangkir mengepulkan uap tipis yang membawa aroma pedas dan manis yang sangat menenangkan. Bau jahe dan kayu manis itu mendadak memotong aroma disinfektan yang selama ini menyesakkan hidungnya. Sienna ragu-ragu. Ia mengambil cangkir yang masih sangat hangat itu dan menemukan secarik kertas di bawahnya. Tulisan di kertas itu sangat rapi, bergaya kaligrafi kuno yang tegas. "Minumlah selagi hangat. Ini bukan obat, hanya cara untuk membuat darahmu kembali mengalir. Jangan biarkan egomu membunuhmu sebelum matahari terbit." Sienna tahu siapa penulisnya. Tidak ada orang lain di rumah ini yang akan berbicara dengan nada setajam dan sedingin itu sekaligus menawarkan bantuan. Ia menatap cairan di dalam cangkir itu dengan penuh kecurigaan. Apakah ini racun? Ataukah ini benar-benar bantuan? Rasa sakit di kepalanya kembali menyerang, kali ini begitu hebat hingga ia hampir terjatuh. Dalam keadaan putus asa, Sienna membawa cangkir itu masuk dan menutup pintu. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap salju yang jatuh di luar, lalu perlahan menyesap ramuan itu. Rasa hangat pertama yang menyentuh lidahnya terasa sangat kuat, hampir membakar. Namun saat cairan itu menuruni tenggorokannya, Sienna merasakan sesuatu yang ajaib. Rasa hangat itu tidak berhenti di perut, melainkan menyebar ke ujung-ujung jarinya yang membeku, lalu naik ke pangkal lehernya yang kaku. Seolah-olah ada bongkahan es di dalam tubuhnya yang mulai mencair. Ketegangan di lehernya perlahan mengendur. Denyut menyakitkan di belakang matanya mulai memudar menjadi rasa pegal yang tumpul dan jauh lebih bisa ditoleransi. "Bagaimana bisa?" gumam Sienna. Ia menatap sisa ramuan di cangkirnya. "Ini hanya teh jahe biasa. Mengapa dokter-dokter spesialis dengan peralatan jutaan franc tidak bisa memberikan rasa nyaman seperti ini?" Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia merasa bisa bernapas tanpa harus berjuang. Pikiran-pikirannya yang biasanya dipenuhi oleh angka penjualan saham dan pengkhianatan dewan direksi mulai melambat. Ia mulai bertanya-tanya tentang sosok Marc Fischer yang sebenarnya. Siapa pria yang ia nikahi ini? Mengapa ia tampak begitu tidak berdaya di depan umum, namun begitu berkuasa di tengah malam yang sunyi? Sienna tidak sadar kapan ia tertidur di kursi itu, namun tidurnya kali ini sangat dalam, tanpa mimpi buruk tentang jarum suntik atau tatapan dingin Paman Urs. Sementara itu, Marc berdiri di balkon kamarnya yang terbuka, membiarkan salju mendarat di bahunya. Ia bisa merasakan melalui hubungan energi yang tipis bahwa Sienna telah meminum ramuannya. Napas wanita itu kini stabil. "Setidaknya kau punya cukup kekuatan untuk menghadapi serigala-serigala itu besok pagi, Sienna," ucap Marc pada kegelapan malam. Namun Marc tahu bahwa bantuan kecil ini hanyalah penunda sementara. Penyakit di tubuh Sienna bukanlah sesuatu yang bisa disembuhkan hanya dengan teh hangat. Itu adalah racun yang aktif dan cerdas, yang akan segera bereaksi kembali begitu pengaruh ramuannya habis. Ia harus segera mencari cara untuk mendapatkan akses penuh ke tubuh Sienna guna melakukan akupunktur pembersihan total. Ia juga menyadari bahwa tindakannya malam ini berisiko. Jika Hans atau pengawal menemukan cangkir itu sebelum Sienna, mereka akan menuduhnya melakukan sabotase medis lagi. Marc harus lebih berhati-hati. Kekuatannya saat ini hanya cukup untuk perlindungan pasif. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, memberikan warna merah muda yang pucat pada langit Zurich. Marc kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Ia merasakan qi dalam tubuhnya sedikit meningkat setelah meditasi malam ini, namun itu masih sangat jauh dari yang ia butuhkan. "Besok adalah rapat dewan direksi yang krusial," pikir Marc. "Urs akan menyerang dengan segala yang dia punya. Dan aku harus berada di sana, meskipun hanya sebagai pajangan yang tidak dianggap." Marc mulai merapikan pakaiannya, menyiapkan jas formal yang jarang ia gunakan. Ia tahu bahwa hari ini akan menjadi titik balik bagi posisi Sienna di perusahaan. Dan meskipun ia adalah suami yang diasingkan, ia tidak akan membiarkan istrinya jatuh tanpa perlawanan. Malam tanpa tidur itu telah berakhir, namun perang yang sebenarnya baru saja akan dimulai saat sinar matahari pertama menyentuh puncak-puncak Alpen. Di dalam kamarnya, Sienna terbangun dengan perasaan yang lebih segar, menatap cangkir kosong di atas meja dengan pandangan yang tidak lagi penuh dengan kebencian, melainkan penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab. Ia meraba lehernya. Rasa sakitnya belum hilang sepenuhnya, tapi ia merasa lebih hidup. Ia berdiri, berjalan menuju cermin, dan melihat pantulan dirinya. Ada sedikit warna merah di pipinya yang biasanya pucat. "Marc Fischer," bisiknya pelan. "Siapa sebenarnya kau?" Jawaban atas pertanyaan itu mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkannya, atau justru menghancurkannya sama sekali. Namun untuk saat ini, Sienna memilih untuk memercayai rasa hangat yang masih tersisa di dadanya, sebuah sisa dari malam panjang di mana seorang tabib agung memberikan perhatiannya dari balik bayang-bayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN