Part 7

794 Kata
"Nenek, suruh seseorang masuk untuk mencari di meja rias Kakak. Kotak itu ada di laci paling bawah di sebelah kanan. Ada kotak kayu berukir di sana, dan bukti itu ada di dalamnya." Mata Fiona dingin dan tenang. Kalimat ini mengejutkan semua orang. Dia benar-benar mengatakannya dengan sangat rinci. Benarkah itu? Jika ini benar, maka kebenarannya bukanlah seperti yang dibayangkan semua orang! Imajinasi mereka yang hadir disini menjadi semakin liar. Sepertinya bukan Fiona yang bersikeras ingin bertunangan dengan Mark, tapi Valencia yang punya masalah mencurigakan disini. Orang-orang mulai menyadari ada yang tidak beres. Melihat penampilan Fiona yang masih lemah namun penuh kemarahan, dia Mark tanpa sedikitpun perasaan romansa. Apa dia benar-benar jatuh cinta seperti yang di rumorkan? Tatapan Mark menjadi dingin. Masalah ini penuh liku-liku dan kenyataan dalam kecelakaan ini membuatnya tenang. Setelah memikirkannya dengan saksama, ia merasa Valencia semakin mencurigakan. Matanya tanpa sadar tertuju pada wajah Fiona yang pucat namun keras kepala. Dia masih sangat muda dan tak ada tatapan cinta dimatanya yang indah! Nyonya Bianca mengangguk dan memanggil dua pelayan tua untuk masuk ke kamar Valencia. Valencia masih ingin menghentikan mereka, tetapi dihentikan oleh salah satu pelayan tua itu. Pelayan tua lainnya langsung masuk ke kamar dan mengeluarkan sebuah kotak kayu setelah beberapa saat. Melihat apa yang dibawa di tangan pelayan itu, kerumunan segera berbisik-bisik dengan riuh. Melihat kotak ini, Valencia tidak lagi peduli dengan pelayan tua yang menghentikannya. Ia mendorong pelayan tua itu menjauh dan tiba-tiba bergegas menghampir dan meraih kotak kayu dari tangan pelayan tua itu dan menggenggamnya dengan erat. Kemudian ia berbalik dan berlari ke dalam ruangan. Tanpa diduga, pintu tertutup dengan suara "bang". Semua orang tercengang, lalu wajah mereka berubah. "Valen, Valen, jangan terlalu dibesar-besarkan. Adikmu tidak bermaksud mempermalukanmu. Dia masih muda dan kata-katanya tidak bia dipercaya. Jangan terlalu diambil hati!" Sofia bereaksi paling cepat. Ia segera mendorong kedua pelayan tua yang sebelumnya menahannya dan bergegas ke pintu. Ia mengetuk pintu dan menangis sekeras-kerasnya, seolah-olah Valencia benar-benar ingin bunuh diri karena dipermalukan oleh Fiona. "Mama, Fiona dan Nenek tidak percaya padaku dan bahkan harus mengeluarkan barang-barangpribadi di kamar tidurku. Ini ... ini membuatku malu jika orang lain melihatnya." Valencia yang ada di dalam ruangan juga tersadar saat itu. Ia buru-buru mengikuti kata-kata Sofia dan menangis sekeras-kerasnya di dalam. Tentu saja kertas tulisan itu tidak dapat dilihat oleh orang lain. Dia juga sengaja mengatakan hal ini, maksudnya nenek mereka berpihak pada Fiona dan sengaja mengeluarkan barang-barang pribadinya di depan banyak orang untuk mempermalukannya. Mendengar ini, Sofia pun menghela napas lega di luar ruangan, dan secercah kebanggaan terpancar di matanya. “Ibu, Setiap gadis punya beberapa rahasia yang tidak boleh dilihat orang lain. Lagipula, dia cucumu. Tidak baik jika orang lain melihat rahasia anak gadis dirumah kita, bukan?” Sofia masih membujuk Nyonya Bianca untuk mundur. "Tuan Mark, Jika kakak tidak ingin para pria melihat isi kotak itu, bukankah anda punya pelayan wanita yang bisa memeriksa mewakili kalian?? Cukup katakan apakah isi kotak itu surat atau barang pribadi lainnya." Fiona mundur selangkah dan menoleh ke samping ke arah Mark, yang tertegun dan tidak dapat bereaksi sejenak, dengan sedikit sarkasme di menjelaskan. Tatapan mengejek itu jatuh pada tubuh Mark, lalu perlahan menjauh, menyebabkan tatapan Mark yang agak lesu jatuh pada pelayan wanita di kelompok mereka. Itu Benar!? Memahami arti kata-kata Fiona, itu seperti pisau tajam yang menusuk harga diri Mark yang sombong dan juga menusuk keseimbangan yang dijaganya. Sofia sangat marah mendengar kata-kata Fiona namun dia tidak berani bertindak gegabah karena takut menimbulkan lebih banyak kecurigaan. Wajah Mark memucat dan matanya memerah. Ia mengepalkan tinjunya dan melangkah menuju pintu kamar Valencia. Di dalam ruangan, Valencia begitu ketakutan hingga ia berlutut di lantai dan menyaksikan Mark mendobrak pintu. Ia gemetar dan tampak lemah serta menyedihkan. Dulu Mark akan merasa kasihan pada Valencia ketika melihatnya seperti ini. Tapi sekarang, hanya ada kekerasan di matanya. Ia tak lagi butuh pelayan, ia hanya ingin melihat isi kotak itu. Lagipula hubungan mereka sangat dekat, barang pribadi apa yang tidak bisa dia lihat sekarang? Ia merebut kotak kayu dari tangan Valencia, membukanya, dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. Meskipun hanya meliriknya sekilas, ia tahu bahwa semua yang dikatakan Fiona itu benar. Membaca beberapa kata yang tertulis diatasnya, tangan Mark berubah gemetar. "Calon istriku…" Mark mencibir, tatapannya sedingin pisau pada kertas itu beserta tulisan tangan diatasnya. Ia tak sabar untuk mencabik-cabik Valencia, yang masih terlihat lembut dan halus. "Mark, ini bukan... bukan seperti yang kau pikirkan..." Valencia panik dan memeluk kaki Mark sambil menangis. Mark mengusir Valencia. Ia sangat marah hingga wajahnya pucat pasi. Ia pikir ia telah mengabdikan dirinya untuk menikahi Valencia selama bertahun-tahun dan bahkan tidak pernah memiliki pacar selama lebih dari sepuluh tahun. Pada akhirnya, ia hanyalah mainan bagi Valencia. Jelaslah bahwa ada hubungan yang ambigu antara keduanya. Bagaimana orang lain tidak mengerti dengan panggilan sejelas itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN