Aku kembali lagi ke dapur untuk memeriksa masakan yang Bi Susi ajarkan padaku dan juga aku tidak lupa membawa sisa lauk pauk yang belum disajikan di meja makan. Begitu aku kembali, aku melihat Bi Susi yang sedang menceritakan tingkahku yang gagal dalam memasak. Sabda tetap diam dan tidak merespon cerita Bi Susi, tapi aku dapat melihat pria itu melirik ke arah masakan yang sudah tertata rapi.
Aku meletakkan sayur yang tadi kubawa dan mengambil tempat tepat di depan Sabda. Aku mengambil mangkuk milik Sabda dan mengisinya dengan sup lalu meletakkan benda itu kembali di depannya.
"Cepat dimakan," ucapku. Dia menurut dan langsung mengambil suapan pertamanya.
Aku menatap Sabda dalam diam. Walau responnya tidak sesuai ekspektasi tapi aku cukup bersyukur karena dia tidak menolak. Apalagi sejak menikah kami memang jarang berada disatu meja yang sama hanya untuk makan bersama dan ini merupakan kesempatan langka yang sangat aku nikmati. Saling duduk berhadapan sambil sesekali mencuri pandang.
Aku terkekeh pelan karena ide konyolku. Bagaimana bisa disaat seperti ini aku lebih mementingkan hal itu.
Aku kembali membantu mengambilkan lauk pauk untuknya dan dia menghabiskan semua yang aku berikan.
"Lumayan," kalimat itu yang keluar dari bibirnya untuk pertama kali setelah dia menghabiskan dua piring nasi dan semangkuk sup makaroni.
Senyumku langsung tersungging begitu mendengar dia mengucapkan itu. Rasanya sangat menyenangkan ketika hal yang kulakukan diapresiasi, walau masakan ini sepenuhnya ada campur tangan Bu Susi.
"Aku bakal terus belajar masak biar bisa buatin makanan enak untuk kamu," kataku penuh semangat. Dia harus tahu jika aku benar-benar akan menjadikannya satu-satunya pria yang harus kulayani.
Sabda terbatuk, dia mendelik tajam ke arahku.
"Aku juga mau kasih tahu, aku bakal muncul di acara reality show sama aku juga ikut beberapa audisi, jadi kayaknya aku bakal jarang ada di rumah," kataku. Aku meminta izinnya karena dia suamiku. Larangannya adalah hal mutlak yang harus aku lakukan.
Sabda mengangguk, "Iya nggak masalah. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, kehidupan di entertainment tidak selamanya mulus dan aku mau kamu jaga diri kamu. Jangan sampai bertingkah aneh-aneh," pesannya yang langsung aku angguki. Selama aku mendapatkan izin aku tidak akan pernah melanggar, karena mendapat kepercayaan dari Sabda merupakan hal yang susah-susah gampang.
"Makasih. Aku janji aku bakal jaga diri aku baik-baik. Aku suka akting, aku juga suka nyanyi, dan aku udah buat banyak list supaya aku bisa dapetin penghargaan sebagai aktris multitalenta," ucapku menggebu-gebu. Aku tidak bohong, semenjak tahu jika banyak hal yang bisa aku dapat dari mengulang waktu, aku sudah mempersiapkan semuanya.
"Tadi kan aku ada casting dan di sana aku ketemu sama aktor senior. Kamu tahu Ethan nggak? Pemeran utama di serial 'Number One', dia itu luar biasa ramah ternyata." Aku memulai ceritaku. Mungkin Sabda tidak peduli dengan apa yang aku lakukan, tapi aku sudah meniatkan diri untuk selalu terbuka dan hal yang kulakukan pertama kali adalah bercerita tentang apa yang aku lakukan seharian tadi.
Dari kejadian konyol hingga kejadian tidak penting pun aku ceritakan padanya. Beberapa kali aku melirik Sabda, pria itu memang tidak berkomentar tapi dia tetap mendengarkan semua ceritaku sambil menyantap buah-buahan yang kini sudah mengisi meja. Para pelayan langsung mengangkat piring kotor kami begitu Sabda memberi isyarat tadi. Dan kini dia tengah memakan buah sambil mendengarkan ceritaku.
Aku tahu dia mungkin juga bingung bagaimana harus memperlakukanku. Jarak usia kami terpaut 7 tahun dan sepertinya dia juga tidak memiliki pengalaman bergaul dengan wanita. Tapi melihat bagaimana dia yang masih mau mendengar mengartikan jika Sabda sudah mulai terbuka denganku.
Ceritaku masih tidak berhenti dan tampaknya Sabda menyadari jika di sini hanya dia yang makan. Tindakan dia selanjutnya benar-benar membuatku terkejut. Sabda menyuapiku buah dengan garpu yang sama seperti yang dia gunakan. Kejadian ini mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tapi bagiku ini terlalu romantis.
Kini perhatianku sepenuhnya kucurahkan pada Sabda. Aku menatapnya lekat dan itu juga tidak membuat pria itu protes.
"Terima kasih Om," ucapku pelan dan itu membuat Sabda membeku di tempatnya, "terima kasih karena Om nggak protes walaupun aku berisik. Terima kasih juga karena Om masih mau makan bareng sama aku."
"Buat kedepannya kamu nggak boleh panggil aku Om lagi," putusnya.
"Kenapa?"
"Menurut kamu kenapa?" Aku menggeleng tidak paham dengan apa yang dia maksud, "aku bakal dengan senang hati ingatin kamu kalau kamu lupa. Kamu itu istri aku," singkat, padat, dan jelas. Khas Sabda sekali.
"Terus kenapa om?" godaku. Aku sudah tidak lagi berhubungan dengan Dimas dan saat ini fokusku sudah beralih pada pria yang tengah menatap datar ke arahku.
Sabda memajukkan tubuhnya hingga jarak wajah kami hanya sejengkal jari. Bahkan hembusan nafas pria itu terasa hangat di sekitar wajahku.
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, ketika aku sudah akan membuka mulut untuk berbicara, Sabda juga maju. Dia mengecup bibirku hingga aku terkejut dan tidak bisa berkutik.
"Kalau kamu masih terus panggil aku Om, aku bakal kasih kamu hukuman kayak gini," ancamnya. Ada nada bahagia yang tersirat dari ancaman yang dia berikan.
Aku sendiri tiba-tiba langsung berdiri dan berlari kencang menuju kamar tanpa menoleh kembali ke belakang.
Sesampainya di kamar aku langsung menyender ke daun pintu yang ada di belakangku. Di depanku ada standing miror yang menampakan jelas bagaimana raut wajahku saat ini. Wajahku memerah dengan degup jantung yang teramat kencang. Aku tidak menyangka efek kecupan dari Sabda akan seluar biasa ini. Pria tampan itu memang tidak baik untuk kesehatan jantungku. Apa mau dikata, aku tidak bisa lebih tepatnya tidak mau menolak jika dia akan terus melakukan itu berkali-kali.
Aku sudah berada di dalam kamar dan hari ini Dean sengaja memberikanku waktu untuk istirahat karena aku belum mendapat kabar bagaimana hasil audisiku kemarin. Aku sudah ada di sini dan akhirnya kuputuskan untuk mempelajari kembali naskah drama kemarin.
Sepuluh menit berlalu dan aku juga sudah memahami bagaimana karakter Lisa, bertepatan dengan ponselku yang berdering dengan nama id Dean sebagai penelpon.
"Kenapa kak?"
"Lo lolos," jeritnya tertahan yang membantu memulihkan senyumku. Hari ini sepertinya aku sedang hoki karena mendapat banyak berita bahagia, "Kita bakal tanda tangan kontrak besok lusa."
"Akhirnya... Nggak sia-sia berarti perjuangan gue," ucapku jumawa. Dean terkekeh di ujung sana yang menandakan dia juga amat bahagia.
"Ada satu lagi kabar baik buat lo. Gue baru aja ngehubungi produser acara Saturday Night. Ada slot kosong yang bisa lo isi dan rencananya syutingnya bakal diadain beberapa hari lagi."
"Beneran? Nggak salah kan?" tanyaku tidak percaya, "kalau gitu gue perginya besok sama lo aja ya. Soal bayaran nggak usah dibahas dulu yang penting gue bisa tampil di sana."
Biasanya masalah pembayaran akan dibahas di awal, tapi karena acara ini masih belum memiliki investor tetap, aku tidak akan terlalu memikirkan soal bayaran karena nantinya namaku juga akan ikut melambung berkat acara ini. Itu merupakan bayaran yang setimpal untukku.
"Oke. Kalau gitu gue aja yang pesan tiket pesawatnya."