Aku menyipitkan mataku untuk menatapnya sebelum menjawab, "Kamu kok ngeselin." Dia terkekeh dan melanjutkan kembali acara makannya. "Aku tadi nggak sempat makan jadinya kelaparan. Kalau aku nggak makan nanti aku nggak punya kekuatan untuk menghadapi kejamnya dunia." "Kamu ngomong kayak kamu baru aja mendapat perlakuan nggak adil aja." "Aku juga manusia jadi perlakuan tidak adil itu memang wajar didapatkan," kataku, masih sambil terus mengunyah, "kamu juga makan yang banyak biar kuat menghadapi dunia." Sabda hanya terkekeh, mungkin dia masih tidak habis pikir kenapa bisa dia memiliki istri yang aneh macam diriku. Usai makan, aku segera mencuci bekas makan kami dan ketika aku berbalik aku menemukan Sabda yang masih berdiri sambil bersedekap di dekat pintu. "Kenapa?" Dia berbalik untu

