Kesempatan Kedua

1027 Kata
Mia Pov Aku tersentak mendengar suara Sabda. Pria itu, apa yang baru saja dia katakan. Apa selama ini pernikahan kami berarti juga dimatanya? Aku menerka-nerka. Kemudian sedikit bernostalgia karena salah satu kenangan mereka terlintas di benaknya. Mia sedikit mengernyit, selama hidup dan tinggal bersama yang paling dia ingat adalah, pria itu sangat dingin, tidak tersentuh, bahkan yang paling parahnya Sabda sangat enggan berkontak fisik dengannya. Terus apa yang sedang pria itu lakukan sekarang? Mia benar-benar mengingatnya. Dia bahkan sampai hafal di luar kepala bagaimana sikap yang diberikan Sabda padanya. Hanya itu yang dia ingat, tapi beberapakali dia pernah memergoki Sabda yang tengah menatapnya lembut. Entah itu benar atau hanya khayalannya saja, semua ingatannya tiba-tiba datang seolah dia memang sedang berusaha menggali kembali kenangan-kenangan lama. "Mau sampai kapan lo diam? Sopir yang lo suruh udah ngakuin semua ke polisi." Sabda menatap Desti yang wajahnya sudah berantakan. Wanita itu juga tampak bingung. Kesabaran Sabda sepertinya setipis tisu, pria itu bergerak cepat mengeluarkan belati dari pinggang pengawal yang berdiri di sampingnya. Tindakannya yang teramat cepat bahkan sampai tidak bisa disadari oleh para pengawal itu. Pria itu seperti kesetanan, dengan tanpa belas kasih dia menancapkan belati itu ke telapak tangan Desti dan memaku tangannya di atas meja. Hal itu sontak membuat gaduh seisi ruangan. Aku sedikit bergidik ngeri, apalagi ditambah suara pilu Desti yang kini sudah pasti merasakan betapa sakitnya itu. Bagaimana tidak, tangannya dipaku di atas meja menggunakan belati itu hingga membuat gadis itu tersungkur. "Gue bakal ngomong! Gue bakal ngomong! Tapi please, jangan bunuh gue!" Air mata Desti mengalir deras. Bibirnya pucat dan dia memohon dengan sangat putus asa. Tanpa disuruh untuk kedua kalinya, Desti langsung menceritakan semua kronologinya. Meskipun kalimat yang dia gunakan terputus-putus, tapi dengan amat jelasnya aku bisa mengetahui dengan jelas semua rencana yang sudah dia dan Mama susun. Semua orang di sini sepertinya juga memahami karena setelahnya suara bergemuruh mengisi ruangan. Aku mengalihkan pandanganku. Entah sejak kapan, tapi wajahku kini sudah dipenuhi oleh air mata. Aku menatap Sekilas pada Sabda yang hanya diam tampak tidak bergeming sedikit pun. Apalagi ketika Desti dan Mama dibawa pergi dengan cara diseret, dia malah mengabaikan keduanya. Untuk beberapa saat aku melihat pria itu masih membeku di tempat. Dia terdiam cukup lama dan perlahan berjalan mendekati fotoku. Dia menyentuhnya dan mengusap lembut dengan kepala tertunduk. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena hal itu tidak pernah terlintas sama sekali dalam benakku. "Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu mau lihat wajahku?" gumamnya dengan suara pelan dan tenang. Setelahnya dia benar-benar melepaskan topengnya untuk pertama kali. Aku cukup terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya. Sabda memiliki alis yang tebal dan mata hitam yang teramat jernih untuk ukuran orang workholoc. Dengan tatapan tajam dan wajah tampan yang membukakan sempurna. Aku tidak mengerti, kenapa dia menyembunyikan wajahnya? Pria itu melepaskan maskernya seolah-olah dia tengah melepaskan beban berat yang ditahannya. Dia menatap fotoku dengan penuh kasih sayang. "Maafin aku." Dia mengatakan itu sambil memeluk erat fotoku. Sosok Sabda yang seperti ini terlihat teramat kesepian dan entah kenapa aku merasa sakit hati ketika melihatnya. Bagaimanapun aku mencoba berpikir, aku tetap tidak bisa mengerti kenapa dia begitu. Apa artinya ini? Mungkinkah... Jangan bilang kalau Sabda menyukainya. Tapi itu tidak mungkin. Pria itu tampak seperti seseorang yang enggan menjatuhkan diri ke dalam percintaan yang merepotkan. Namun saat melihat betapa lemahnya dia, aku tidak memungkiri jika aku merasa tersentuh. Sebelum aku mengetahui lebih banyak apa yang terjadi, tiba-tiba sekilas cahaya putih datang menerpaku. Cahaya itu menelan Sabda dan membuat kesadarannya tiba-tiba menghilang. Ketika aku kembali membuka mataku, semuanya terlihat gelap. Dari tempatnya, dia bisa merasakan nafas hangat seseorang yang berhembus disekitar tubuhnya. Dia mendongak dan menemukan seorang pria yang mengusungnya dengan bertelanjang d**a. Tanpa dijelaskan pun, aku sudah tahu apa yang sedang terjadi. Aku ketakutan dengan pemandangan itu. Tanpa sadar aku mendorong tubuhnya kasar hingga sosok itu berguling ke samping. Setelahnya aku aku dapat melihat jelas siapa sosok tersebut. Aku langsung beranjak dari tempat. Merasa bingung dan aneh sekaligus. Aku sendiri dapat menyentuh tubuh orang itu dan bahkan gilanya lagi, aku dapat merasakan hembusan nafasnya. Aku melangkah menuju standing motor yang terpasang di dekat pintu, aku menemukan bayangan wajahku di sana. Mataku pun menggulir ke seluruh ruangan dan menemukan jam digital yang terpasang di nakas. 2020. Aku... kembali ke masa lalu. Kemasan dimana aku baru saja menikah dengan Sabda. Hari itu, tidak, hari ini, atas paksaan Papanya dia akhirnya menerima Sabda sebagai suaminya. Dan ini adalah pertama kalinya mereka berdua berbagi tempat tidur. Berkat Sabda, perusahaan Papanya terbebas dari krisis keuangan. Kejadian paling mustahil. Kejadian yang sangat tidak bisa dicerna oleh otak. Tapi apapun itu, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang sudah diberikan padaku. Aku tidak mau jatuh di lubang yang sama. Dengan cepat aku segera bergerak kembali menuju tempat tidur yang di atasnya sudah terdapat Sabda yang kini menatapku dengan alis terangkat. Aku merengsek maju dan masuk ke dalam pelukannya. Pria itu tampak tegang dan itu membuatku tersenyum pelan. "Sabda," gumamku pelan. Aku tahu tingkah anehku pasti membuatnya bingung dan dia langsung melepaskan pelukanku dan mendorongku pelan agar dia dapat melihat wajahku. Sabda menatapku lekat. Kondisinya tampak tidak baik-baik saja. Bibirnya pucat, matanya pun memerah. "Kamu ngapain?" Aku hanya diam dan kembali masuk ke dalam pelukannya. Berada di sana membuatku nyaman dan aman disaat yang bersamaan. Mendengar suaranya yang memanggilku pelan membuatku mendongak, Sabda mendekatkan wajahnya, aku pikir dia akan menciumiku jadi aku berinisiatif untuk menerimanya sambil menutup mataku. "Kamu minum?" Sabda mengendus tubuhku dan sepertinya dia mencium aroma alkohol, setelahnya aku dapat merasakan kasur bergerak dan dia mulai duduk. Aku langsung membuka mataku dan merasa malu karena bukan itu yang dia maksud. Melihat dia yang akan beranjak pergi membuatku awas, aku menahan lengannya, "Kamu mau kemana?" Sabda mengusap lembut tanganku sebelum menjawab, "Mau ke ruang kerja. Aku harus mandi." Sabda keluar dari kamar. Aku kira dia pergi karena dia marah, untungnya tidak. Banyak rencana yang harus kususun. Bagaimanapun juga aku harus membalaskan dendamku pada mereka. Pada orang-orang yang sudah memanfaatkanku dengan tanpa tahu malunya. Dan untuk Sabda.... Aku akan mencoba mencintainya karena pada awalnya pun dia sudah lebih dulu mencintaiku. Pria itu hanya terlalu pintar menyembunyikan perasaannya hingga aku tidak menyadari soal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN