"Yah, gugur." Reksa spontan menoleh menatap sang adik yang kini sibuk menatap pantulan wajahnya di cermin lengkap dengan helaian rambut gugur di tangan. Pemuda itu mendekat, lalu bertanya, "Mau dipangkas sekalian aja, Dek?" "Boleh deh. Daripada nanti terbang-terbang, terus rambutnya kemakan," sahut Heksa dengan cengiran lebar di akhir. "Tapi, Bang. Elo enggak usah ikut-ikutan pangkas karena pengin so sweet sama gue. Lo harus tetap kayak gitu biar gue ingat kalau gue pernah ganteng," lanjutnya. Sang kakak tak banyak bicara. Meski perih, pemuda itu memaksakan diri tersenyum sembari mengusap bahu adiknya. "Sekarang juga ganteng kok." Kalau boleh jujur, sebenarnya Heksa minder dengan kondisinya sekarang. Memasuki minggu kedua radioterapi memberi banyak perubahan padanya. Terutama bobot tub

