Sindiran Telak

1532 Kata

“Bang, pulang gih. Kamu kelihatan capek banget.” Reksa yang tengah membaca buku, langsung menghentikan kegiatannya sejenak, enyempatkan diri melirik sang ayah yang kini menatapnya. Setelah membetulkan letak kacamatanya, pemuda itu langsung menggeleng. “Aku enggak bisa meninggalkan sesuatu yang harusnya aku prioritaskan,” sahutnya tanpa ekspresi. Jangan lupa, Reksa masih marah karena ayahnya menghilang di saat mereka sedang membutuhkan lelaki itu. Kelopak mata Bara melebar mendengar apa yang dikatakan putranya. Meskipun tidak terang-terangan, tetapi kalimat itu jelas mengarah padanya. “Papa minta maaf. Di sana susah jaringan. Jadi, chat kamu baru Papa buka tadi.” Aku enggak mau dengar alasan Papa karena aku tahu semuanya cuma kebohongan. Reksa berujar dalam hati. Beruntunglah ia masih sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN