“Kamu nggak keberatan, kan? Kalau besok-besok aku menginginkan kamu lagi seperti tadi?” tanya Batara mengulurkan tangan untuk mengelus pipi Aruna. “Tapi Batara harus janji jangan mengeluarkan di dalam seperti tadi. Aku takut hamil lalu diusir dari rumah ini kalau ketahuan Nyonya Hafsah. Nanti aku nggak bisa bertemu Tuan Jingga dan Batara lagi,” ujar Aruna tulus. Batara melihat kejujuran dan ketulusan terpancar dari sorot mata polos Aruna. Sepanjang hidupnya ia hanya melihat sorot mata seperti milik Aruna ini ada pada satu orang saja yakni Jingga, anak laki-lakinya. Hati Batara menghangat detik itu juga. Ia menghambur ke pelukan Aruna dan berjanji dalam hatinya tidak akan pernah melepaskan gadis naif itu. Ia akan memikirkan cara terbaik untuk melindungi masa depan Aruna. “Nggak ada yang

