BAB 3.

1558 Kata
"Halo" "........" "Benarkah?!" "......." "Ah...baiklah, luar biasa" "....." "baiklah"   Klik//   "Siapa?"Hera mematikan handphonde miliknya, lantas menoleh pada Adrian yang terlihat sedang mengancingkan kemeja biru miliknya. Suaminya itu sedang menatap pantulan dirinya pada cermin di hadapannya, lalu melirik Hera dari pantulan cermin. Adrian memang cukup posesif, suaminya itu selalu ingin tahu apapun yang ia lakukan. Bahkan Hera sering memergoki Adrian yang tengah memainkan ponselnya. Entah apa yang pra itu lakukan. Tapi yang jelas, Adrian sangatlah posesif. "Teman,... alumni sekolah ku dulu, mereka bilang akan mengadakan pertemuan di sebuah restaurant. Aku tidak sabar mau bertemu, sudah lama sekali rasanya, aku merindukan mereka"gumam Hera. Jujur saja. Hera memang merindukannya. Sangat merindukan mereka. "Pria itu ikut?"tanya Adrian yang kini memakai jasnya. Sebelah alis Hera terangkat, bingung apa yang Adrian katakan. "Apa?"Hera terkejut, bahkan matanya mengerjap beberapa kali, merasa aneh dengan pertanyaan Adrian barusan. Ia menatap wajah Adrian dari pantulan cermin. "Huh! Kenapa? Kau percaya dengan kata-kata Elena"Hera ingat, Adrian pernah diceritakan Elena tentang pria idola Hera waktu SMA, dan tingkah Hera yang malu-malu kucing saat berdekatan dengan sang kakak membuat Adrian kesal setengah mati. Bahkan tangan Adrian sampai digigit Hera karena menyebutnya wanita rendah karena terlalu berdekatan dengan seorang pria. Adrian benar-benar meraa sakit mendengarnya, bukan hanya karena sakit di tangannya yang digigit Hera. "Aku percaya, kalau pria itu ikut lebih baik tidak usah pergi" "Dia cinta pertamamu, apa yang bisa dilakukan oleh cinta pertama itu luar biasa, bagi seorang wanita"ucap Adrian yang terlihat jelas sangat kesal. "Aku sudah milikmu, kau kira apa yang bisa ku lakukan, kita punya Allea, hidupku sudah lengkap sekarang, aku tidak butuh pria baik di luar sana, satu pria menyebalkan dan merepotkan saja sudah cukup" "Hei, apa kau bilang?!!"ucap Adrian semakin kesal. "Tidak.. suamiku kemari, aku rapikan dasimu"Hera menarik Adrian mendekat, tangannya beralih pada dasi biru dongker pria itu, merapikannya. "Tidak usah ikut, kau di rumah saja, jaga Allea, memasak, mencuci, membereskan rumah dan layani aku" "Arghhh"teriak Adrian ketika Hera menarik dasinya cukup kencang hingga membuatnya tercekik. "Memangnya aku ini pembantumu. Tidak salah aku bilang kau suami menyebalkan"ucap Hera kesal. "Hei"protes Adrian saat Hera menyentil keningnya. Sementara Hera melipat kedua tangannya di depan d**a. Menatap Adrian dengan mimik wajah memprotes. "Jangan menjadi menyebalkan saat pagi-pagi seperti ini, aku tidak mau melakukan k*******n saat ini.. huh!"Hera meniup kepalan tangannya, yang membuat Adrian meringis. "Aish..sungguh, aku menikah dengan seorang gengster"gerutu Adrian. "Ya benar, jadi jangan macam-macam padaku. Kau mengerti. Jadi cepatlah turun dan sarapan"Hera berbalik, berencana meninggalkan Adrian sebelum akhirnya pria itu menariknya, membuat tubuh wanita itu kembali menghadap ke arahnya. "Kenapa ?!"protes Hera. "Aku sudah bilang padamu tiap pagi harus ada morning kiss, itu wajib. Apa kau lupa?"Adrian mengingatkan Hera, karena sudah berkali-kali Adrian mengatakannya, tapi wanita itu tak kunjung melakukan apa yang sudah menjadi kesepakatan mereka. "Memangnya harus?"Tanya Hera yang semakin membuat Adrian jengkel. "Arghhh..benar-benar"ucap Adrian frustasi saat melihat Hera yang menatapnya dengan tampang datar, wanita ini. "cepat kemari"seru Adrian, meminta agar Hera mendekat ke arahnya ketika wanita itu malah berdiri menjauh, dan menjaga jarak darinya. "Se... sepertinya Allea mencariku"ucap Hera yang mencoba kabur dari sana, namun langkahnya tertahan saat Adrian kembali menariknya. Bahkan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Hera, mengurung wanita itu. "Jangan mencoba lari dariku nyonya Refano, karena sejauh apapun kau berusaha berlari dariku, aku akan menangkapmu, menyeretmu paksa, dan menguncimu hingga kau tidak akan pernah bisa menjauh" "Bahkan menjauh dariku hanya akan berada dalam mimpimu, karena kenyataannya,.. menjauh dariku adalah keinginan yang tidak akan pernah terkabul dalam hidupmu"Hera tersenyum, entah kenapa kata itu begitu berpengaruh dalam hatinya. Kiss~ Hera mencium bibir Adrian, meraup bibir pria itu dan memulai dengan lumatan kecil yang diberikannya, tidak lama hingga akhirnya Hera melepaskannya. "Aku bingung, ancaman itu seharusnya membuatku takut, tapi kenapa aku malah senang mendengarnya!!"Adrian tersenyum dan menatapnya dengan dalam. Adrian merapikan poni Hera, menyisipkan helaian rambutnya ke belakang telinganya. Lalu tangannya turun, pada tengkuk Hera, menariknya lembut dengan perlahan mendekat."Aku mencintaimu"bisiknya yang kemudian berakhir dengan ciuman manis pada bibir Hera. Keduanya saling melumat, menghisap bibir atas dan bawah sercara bergantian, dengan gigitan kecil hingga membuat Hera melenguh karenanya... "eunghhh...."gumam Hera, dengan sedikit dorongan pada tubuh Adrian. Namun pria itu seakan tuli, dan malah terus melanjutkan aksinya. "MAMAAAAAA" Gubrak// "YA.."teriak Hera, setelah mendorong tubuh Adrian hingga menjauh darinya. "HERA"protes Adrian saat Hera mendorongnya hingga terduduk di atas kasur. Hera malah menjulurkan lidahnya, meledek Adrian sebelum akhirnya kakinya berlari keluar dari kamar mereka, utnuk menghampiri Allea dan mengetahui apa yang putrinya lakukan. ** Seattle, 11.48 pm. Hera dan Elena tengah terduduk di dalam sebuah bus, Elena terlihat ceria seraya meceritakan cerita masa SMA mereka, berbeda dengan Hera yang malah terlihat sedikit gugup. Hera masih tidak yakin dengan rencananya ini. Hera sudah dapat mengetahui jika Adrian akan marah. Tapi dia masih saja tetap ingin pergi. Rasa rindu kepada teman-teman lama t "Kenapa? Kau terlihat tidak bersemangat?" Hera merasa, ada rasa tidak enak dalam hatinya. Ia tak pernah hingga sampai seperti ini. melakukan hal yang Adrian tak setuju dan tetap memaksakan kehendaknya. "Aku takut Adrian marah? Kau tahu kan, kalau kedua tanduknya terlihat, dia begitu menyeramkan" "Ya sudah, kau pulang saja, minta ijin padanya? Jangan pergi diam-diam"ucap Elena pada akhirnya karena merasa kesal pada Hera. Pasalnya wanita itu yang mengiyakan tadi dan membuatnya bersemangat, namun sekarang malah bimbang. "Tapi masalahnya kalau aku  minta ijin, akh.. aku sudah tahu jawabannya, tidak.. adalah kata yang akan diucapkannya" "Kalau begitu tidak usah pergi"ucap Elena pada akhirnya. "Tapi aku mau pergi"ucap Hera dengan wajah memelas. "Akh...kau membuatku pusing, kita sudah setengah jalan, jadi atau tidak?"Tanya Elena memastikan. Hera terlihat frustasi, tapi Elena menjadi frustasi karena Hera yang labil. Hera terdiam mencoba menjadi pendengah pada pikirannya yang saling berkonfrontasi. DRRRT... DRRTTTT.... Hera mengambil ponsel dalam saku jaket hitam miliknya, desahan itu kembali keluar dari bibirnya. Ia takut berbicara dengan Adrian. Pria itu mungkin marah. Akan sangat marah. Adrian. Nama yang tertera pada layar handphondenya. "Cepat jawab, dan katakan yang sebenarnya"ucap Elena yang membuat Hera tersenyum pahit. "Halo" "Kau dimana?" "Apa? Kenapa kau langsung bertanya aku dimana?" "Seperti suara kendaraan? Kau sedang berada di luar? Kau mau kemana? Jangan bilang ke tempat reunian SMA mu itu?" Hera beralih menatap ke arah Elena, dan membuat sahabatnya itu menatapnya khawatir. "Bagaimana ini"gumam Hera berbisik seraya menjauhkan handphondenya. "Bilang saja mau belanja bulanan"seru Elena. "Tapi aku baru belanja minggu kemarin"jawab Hera yang membuat Elena kesal. "Memangnya kenapa kalau belanja dua kali"ucap Elena sedikit kesal. "Aku pergi belanja, ada barang yang terlupa" "kalau begitu ,dari sana mampirlah ke kantorku, kita makan siang bersama" "Maafkan aku... aku tidak bisa , aku harus pergi ke rumah Elena, ahjumma bilang ingin bertemu denganku, lagi pula sudah lama aku tidak mengunjunginya" "Hah!..baiklah, hati-hati dijalan" Klik. "Apa dia percaya?"ucap Hera merasa sedikit ragu. "Sepertinya dia percaya" ** Restaurant LasVera,  12.05. "Wah...Hera kau tambah cantik saja?" "Aku dengar kau sudah menikah" Hera hanya bisa tersenyum dengan rentetan pujian yang mereka berikan, teman-temannya menatap Hera dengan penasaran. "Hei....Elena, kapan kau akan menyusul ,jangan terlalu giat bekerja, pikirkan lah pernikahan" Percakapan demi percakapan terus terlontar dari bibir masing-masing. Kenangan demi kenangan yang kembali terucap, membuka sebuah memori dan mengenangnya bersama. "Halo, maaf aku terlambat" "Wah...Kak Melvin, kau datang? Lama tidak berjumpa" Hera menoleh ke arah pria berpakaian kasual itu, pria itu duduk tepat di samping kirinya. "Hera,.. sudah lama ya" Hera tersenyum, sedikit canggung, entah kenapa rasanya dia menjadi begitu gugup. Senyuman itu masih sama, manis dan mempesona. "Apa kabar Kak Melvin?"sapa Hera, pria itu kembali tersenyum dengan begitu manis. "Kak Melvin jangan tersenyum manis seperti itu, kau akan membuatnya mati, lagi pula wanita yang kau senyumi itu sudah berstatus sebagai seorang istri"sindir Elena yang duduk disebrang Hera. "Sungguh? Sepertinya aku terlambat ya" Hera membulatkan kedua matanya, ayolah,...siapa yang tidak akan terkejut dengan pernyataan pria yang kau sukai. "Apa!"ucap Hera terkejut, yang lagi-lagi malah dibalas senyuman oleh sang pria. "Sayang sekali ya"lanjut pria itu yang membuat Hera memalingkan wajahnya. Semuannya kembali larut pada perbincangan mereka, hingga akhirnya menyantap makan siang mereka. Sesekali Melvin menawarkan sebuah makanan untuk Hera, wanita itu terlihat merasa tidak enak, salahkan statusnya yang milik orang lain, kalau masih sendiri, Hera pasti sudah terbang dan tersipu dengan semburat merah di pipinya. Elena mengedarkan matanya, hingga akhirnya sosok pria berkulit putih dengan tatapan bak laser mematikan itu membuatnya terkejut bukan main. Adrian. Suami dari wanita yang tengah menikmati keakraban dengan teman dan idolanya itu, tengah di tatap dengan tatapan membunuh dari sang suami. Adrian Refano sedang berada dalam satu restoran dengan Hera. Suami temannya yang ia bohongi barusan kini hadir, berpapasan tanpa sengaja di hadaannya. "Hera" Elena mencoba memanggil Hera, namun wanita itu tak juga menoleh hingga membuatnya sedikit kesal. Hera memang payah jika di berikan kode-kode seperti ini. "Hera..." "HERA "ucapnya sedikit keras dan berhasil membuat wanita itu menoleh ke arahnya. Hera nampak bingung. Ia menatap Elena bingung sekalaigus penasaran. "Kenapa??" "Arah jam 12" "Apa?"Hera merasa tidak mengerti, ucapan Elena membuatnya bingung. "Arah jam 12, sebelah kananku"ucapnya lagi. Hera tidak mengerti namun ia tetap mengikuti apa yang Elena katakana. Ia menoleh dan BLAMMM!! Hera hampir saja terjungkal ke belakang, kalau saja bangku ini tidak ada sandarannya. Kabar baik,... kebohongannya terungkap, Adrian. Pria itu berada di sini, di ruang yang sama.   Jangan lupakan tentang, menatap ke arahnya dengan begitu tajam dan menusuk. Jika mata Adrian bisa mengeluarkan laser. Maka pastinya Hera sudah terkapar. Suaminya memergokinya di sini, reuni SMA yang dilakukannya, perintah seorang Adrian baru saja dilanggar. Dan Hera Allison harus bersiap menderima konsekuensinya. "Bagaiman ini”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN