5. Flashback: H-1 Pernikahan

1193 Kata
Athaya menangis saat melihat jemari tangan dan kakinya sudah dibaluri dengan pacar kuku. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak Athaya akan menikah dengan laki-laki lain selain dengan Ofar. Karena mereka sudah merencanakan masa depan untuk hidup bersama. Bahkan, mereka sempat berpikir untuk kawin lari jika Ibu tidak juga merestui hubungan mereka. "Tha ...." Athaya mendongak menatap pintu kamar yang terbuka. Sinar, sahabat Athaya sejak duduk di bangku SD datang menemuinya. "Nar ...." Athaya memeluk Sinar sambil menangis. "Lo tahu kan, kalau semua ini bukan keinginan gue. Gue cuma mencintai Ofar." Sinar juga tahu kisah cinta Ofar dan Athaya yang penuh perjuangan melawan restu Ibu selama lima tahun. "Tha, nomor lo kenapa nggak bisa dihubungi lagi?" Sinar menarik diri dari pelukan Athaya, lalu mengusap wajah Athaya yang bersimbah air mata. "Hape gue ditahan sama Ibu." Athaya nggak berhenti menangis. "Ofar gimana keadaannya?" Sinar menghela napas sambil geleng-geleng kepala. "Kacau, Tha. Katanya, udah dua bulan lo menghilang dan tiba-tiba dia denger kabar lo mau nikah." Sinar menatap Athaya dengan sendu. "Hampir tiap malam gue jemput Ofar ke kelab karena mabuk dan berantem dengan preman di sana. Aduh, Tha, kacau banget." Athaya tampak cemas. "Nar, gue pengen banget ketemu Ofar sekarang. Paling enggak, gue harus pamit sama dia. Tapi ...." Athaya menatap pintu kamarnya. "Gue takut." Sinar memutar bola matanya seolah tengah berpikir. "Gue mau bantu lo buat kabur dari sini, Tha." "Please bawa gue. Gue udah muak dengan drama ini." "Oke. Lo tunggu sini bentar." Sinar keluar dari kamar Athaya cukup lama. Kemudian kembali lagi ke kamar. "Kita lewat pintun belakang aja, Tha. Lagi nggak ada yang jaga di sana." Athaya mengangguk. Athaya langsung memakai jaket, topi dan kacamata guna menyamar. Kemudian mereka berdua mengendap-endap keluar menuju dapur. Sinar berjalan paling depan untuk memastikan tidak ada orang di luar. Sampai akhirnya Sinar berhasil membawa Athaya ke dalam mobilnya. Mobil melesat jauh menuju apartemen Ofar. *** "Faar, buka pintunyaa! Ini ada Athaya di depan!" Sinar menggedor kencang pintu Ofar. Sampai tetangga sebelah Ofar keluar dari kamarnya. "Woy, berisik lo, Kampret!" "Lo yang kampret!" Sinar membalas cacian tetangga sebelah Ofar. "Mau cari mati lo sama gue!" Lelaki itu maju selangkah. "Mas, maaf, Mas. Temen saya nggak bermaksud pengin nantangi Mas, kok." Athaya berusaha mencairkan suasana. "Kasih tahu sama teman lo tuh. Memang ni apart punya bapaknya!" Laki-laki itu masuk sambil membanting pintu. "Sial!" Sinar menggerutu kesal. Tapi, ia tetap menggedor kencang pintu Ofar. "Faar, buka pintunyaa. Athaya pengen bicara sama lo!" Sebelum tetangga Ofar kembali buka pintu dan membacok kepala Sinar. Akhirnya Ofar membuka pintu apartemennya. Athaya langsung memeluk tubuh Ofar sambil menangis. Ofar sudah lemah dan tidak berdaya, bahkan ia sampai susah menopang tubuh Athaya lagi. Mereka berjalan lunglai masuk ke dalam apartemen dalam kondisi masih berpelukan. Sampai akhirnya mereka berdua terjatuh ke lantai. Sinar menghela napas saat melihat kondisi rumah Ofar yang berantakan. Minuman kaleng, botol kaca bir, bungkus makanan, semuanya berantakan di lantai dan di sofa ruang tengah. Sinar membantu membereskan kekacauan yang terjadi. "Far, I'm sorry. Aku nggak bisa hubungi kamu karena hapeku disita sama Ibu. Dan aku nggak bisa temui kamu karena Ibu ngurung aku di kamar. Ini aku kabur dari rumah berkat bantuan Sinar," ujar Athaya sambil nangis. "Kenapa kamu tega banget sih, Tha? Aku salah apa sampai kamu bikin aku hancur sehancur-hancurnya!" "Aku nggak bermaksud bikin kamu terluka. Tapi ... aku nggak bisa berbuat apa-apa selain ngikuti semua kata Ibu." "Bahkan kita belum sempat bilang putus, Tha. Sehari sebelum kejadian kita baik-baik aja. Tiba-tiba kamu hilang dan menikah, semua ini bikin aku mau bunuh diri saja rasanya." "Nggak, sayang. Kamu nggak boleh ngelakuin hal itu." Athaya menyentuh wajah Ofar dengan kedua telapak tangannya. "Kamu bukan laki-laki lemah." "Gimana aku nggak lemah, Tha. Ngelihat ini aja ...." Ofar menyentuh kedua tangan Athaya yang sudah dipenuhi dengan pancar kuku. "Aku sakit hati! Kita udah ngerencanain mimpi berdua, kita udah janji satu sama lain nggak akan pisah meski Ibu kamu menentang. Tapi apa ini? Apa ini semua? Kamu mau menikah? Bunuh sajalah aku, Tha. Bunuhhh!" Athaya tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk Ofar sambil menangis. Athaya sendiri bingung apa yang harus dia lakukan saat ini karena besok adalah hari pernikahannya. "Kita lari aja, Tha. Kita kabur dan hidup berdua. Aku janji bakal ngebahagiain kamu. Kalau begini, aku lebih baik mati daripada harus kehilangan kamu." Athaya menggigit bibir dan mengusap wajah Ofar yang bersimbah air mata. Athaya akhirnya mengangguk. Dia juga ingin kabur di acara perniakahannya dan hidup bahagia bersama Ofar. Meski harus melawan restu ibunya. "Haaah udah nih!" Sinar menghela napas kelelahan setelah membersihkan rumah Ofar. "Tugas gue udah selesai, gue pulang dulu yaa." Kemudian menatap Athaya. "Kalo elo pengen pulang, lo telepon gue aja biar gue antar balik ya, Tha. Sekarang kalian bisa menghabiskan waktu berdua dulu." "Makasih ya, Nar. "Okey!" Sinar menacungkan jempol, lalu meninggalkan Athaya dan Ofar berdua di apartemen. Mereka mencoba untuk mengembalikan suasana menjadi tidak sendu lagi. Athaya memasak makanan untuk Ofar menggunakan bahan apa adanya yang ada di dalam kulkas. Lalu mereka berdua menikmati makan malam berdua sambil ngobrol di teras dan melihat bintang yang tengah bersinar malam itu. Selesai makan, Athaya dan Ofar duduk di sofa sambil menikmati siaran Netflix. Sudah lama mereka tidak menikmati suasana seperti ini semenjak Athaya menghilang dari kehidupan Ofar. "Siapa orangnya?" Athaya menoleh. "Calon suami kamu." Ofar membalas tatapan Athaya. Athaya menarik napas dalam-dalam. "Dia Dokter spesialis paru yang biasanya menangani Ibu di rumah sakit." "Dokter ya?" Ofar mengangguk-anggukkan kepala. "Pantes ibumu setuju. Apalah dayaku yang cuma anak band." "Jangan ngomong begitu." Athaya mencubit perut Ofar. "Aku nggak cinta sama dia." "Lama-lama juga cinta kok, Tha." "Ofar!" Athaya cemberut. "Aku nggak pernah lihat laki-laki dari profesinya. Tapi, aku cuma ingin bersama orang yang aku cintai. Masalah mapan atau enggak, kita bisa mulai semuanya dari nol bersama-sama. Aku yakin kamu bisa sukses, Far. Aku yakin kamu akan selalu berusaha bahagiain aku dengan cara kamu." "Makasih, sayang." Ofar mencium kening Athaya, lalu turun ke bibir. Ciuman mereka semakin dalam sampai tangan keduanya bergerliya mengacak rambut. Lalu Athaya memegang sudut kaos Ofar dan ingin membukanya. Ofar langsung menyentuh tangan Athaya dan melepaskan ciuman mereka. "Nggak, Tha." "Please." Wajah Athaya penuh mohon. "Selama ini orang selalu menganggap kamu laki-laki b******k, padahal mereka nggak tahu kalau kamu selalu menjaga aku dengan baik." Selama lima tahun mereka pacaran, Ofar nggak pernah sekalipun merenggut keperawanan Athaya. Ofar sangat menjaga Athaya. Ofar berjanji akan menikahi Athaya dan melepas keperawanan Athaya ketika sudah menikah. Selama ini, mereka hanya sebatas ciuman saja. "Nggak Tha, aku nggak mau ngerusak kamu." "Aku lebih memilih dirusak sama kamu daripada disentuh dengan laki-laki itu. Aku nggak siaap, Far." "Tha ...." "Pleaseeee .... Sentuh aku untuk malam ini saja. Aku justru berharap bisa hamil, agar pernikahan aku dan Dokter itu batal. Atau, kalau pun nggak batal, kamu bisa menjemputku dan anak kita." Athaya meneteskan air mata. "Please, Far, untuk malam ini saja." "Kalau seandainya kita punya anak, kamu mau kasih nama anaknya siapa?" "Jasmine." "Kenapa Jasmine?" "Aku suka princess Jasmine. Setiap kali nonton Film Aladdin, aku teringat dengan kisah cinta kita yang mirip dengan kisah Aladiin dan Jasmine." Ofar terkekeh geli, lalu melanjutkan aksinya dengan mencumbu Athaya sampai akhirnya Athaya terbuai dalam cinta satu malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN