Aku mengerjapkan mata ketika sinar matahari menelusup melalui celah jendela kamarku. Kelopak mataku yang masih terbuka setengah lantas menyipit, sebetulnya nyaris menutup kembali sekadar untuk menetralkan cahaya yang masuk dalam mata. Sesuatu yang basah menempel didahiku. Dan dengan adanya benda asing tersebut aku paling tahu siapa pelaku yang harus disalahkan untuk ini. Vhyung. Ngomong-ngomong soal Vhyung, aku jadi perlu mengernyitkan dahi tatkala sepasang lengan mengerat di pinggangku, seolah dia tak membiarkanku barang sedetikpun untuk menarik diri maupun bergeser menjauh dari posisi kami saat ini. “Vhyung...” aku memanggil dia. Suaraku sangat serak nyaris menghilang. Kepalaku sedikit terangkat dari lengan kiri Vhyung yang rupanya sejak entah kapan telah menjadi bantal semalaman. Ata

