Tangan pria itu menjangkau kasur yang telah dingin disampingnya, mencari-cari entitas untuk dapat dirinya raih. Seseorang yang menemaninya tidur selamaman. Namun nihil, dirinya tidak mendapati apapun kecuali selimut kusut yang terlihat begitu besar untuk menutupi tubuhnya yang setengah telanjang. Menyatu dengan ranjangnya yang begitu besar. Mencari kehangatan lain yang lebih baik ketimbang guling maupun selimut tebal. Seakan tak rela bila entitas tersebut menghilang dari jangkauan. Tapi sayang dia tak bisa menemukannya dengan mudah. Sesuatu menghantam perutnya dengan cukup tiba-tiba, sentakan kuat yang hampir saja membuat dirinya mengumpat. Tapi diurungkan kemudian, karena tahu siapa yang melakukan itu terhadapnya. Dia ingat janjinya terhadap dirinya sendiri untuk tidak berkata hal kasar

