Devid sudah siap dengan seragam batik dan celana abunya. Sekarang pelajaran seperti biasa akan dimulai, awal semester dua. Disemprotkannya pewangi bermerek, seoles gel rambut tak membuat berantakan, tertata rapi. Tangannya menggapai sesuatu di dalam lemari, membuka tutupnya lalu menelannya cepat diakhiri air putih yang mengalir di kerongkongannya. Sweter abu tak bergambarnya sudah menempel di badannya, handband hitam pun terpakai, agar rambutnya tak berantakan. Ransel hitam yang dihiasi tali sepatu di depannya, sudah ia sampirkan seperti biasa dan berjalan menuruni anak tangga. Nasi goreng dipadukan telor mata sapi kesukaannya sudah tersedia, tak biasanya meja makan hanya menyediakan dua piring. Mengartikan, Acha takkan datang. "Kalian berantem soal apa lagi, Dev?" tanya Dinda sambil men

