Langit sudah gelap ketika Yudi memarkir motornya di depan rumah ibunya. Tubuhnya terasa lemas, karena beban pikiran memberatinya. Sukma benar, masalah ini seperti tak pernah berakhir, meski kecewa dan amar4h padu di d**a, dia tetap datang untuk mendengar penjelasan dari sang ibu. Yudi mengetuk pintu perlahan dan mengucap salam.
"Bu, ini Yudi."
"Masuk, Yud." Suara ibunya terdengar dari dalam rumah.
Yudi membuka pintu dan seperti biasa, ibunya sedang duduk di sofa tua di ruang tamu, wajahnya tampak kusut. Yudi duduk di hadapan ibunya, melihat wajah tua sang ibu yang terlihat suram membuat amarahnya perlahan menguap, sekesal apa pun dia tak pernah tega melihat ibunya bersedih.
“Bu, kenapa Romi bisa menggadaikan sertifikat rumah?”
Ibunya menghela napas panjang, "Romi bilang dia butuh uang untuk modal usaha. Dia mau buka kios kecil-kecilan. Awalnya Ibu ragu, tapi dia terus memohon. Kamu tahu sendiri, Romi itu kalau minta apa-apa nggak dituruti pasti sakit. Ibu nggak tega, Nak.”
Yudi memijat kening, pening di kepalanya semakin menjadi. Sejak dulu Romi selalu menjadi kesayangan ibunya. Pernah tangan adiknya itu tergor3s sil3t, sang ibu menangis satu minggu penuh karena merasa bersalah tidak hati-hati menyimpan benda tajam.
"Lalu kenapa nggak bilang sama aku? Bukannya Ibu pernah janji nggak akan kasih u4ng ke Romi lagi?”
Ibunya berdecak lalu menjawab dengan nada ketus. “Ibu takut kamu mar4h, Yud. Lagipula, waktu itu Romi meyakinkan Ibu kalau ini yang terakhir. Dia bilang pasti bisa bayar. Ibu percaya sama anak sendiri, masa Ibu nggak boleh percaya? Lagian itu kan sertifikat rumah Ibu, kenapa harus ijin sama kamu?!"
Rahang Yudi mengeras, dia mati-matian menahan emosinya. “Karena ujung-ujungnya aku juga yang susah. Lalu sekarang u4ng itu ke mana? Kalau memang untuk modal usaha, kenapa dia belum mulai apa-apa?”
Ibunya terdiam, lalu menjawab pelan. "Ibu sudah tanya, katanya dia belum ketemu tempat usaha yang cocok."
"Belum ketemu? Sebenarnya dia niat nggak sih?" Emosi Yudi mulai terpancing hingga nada suaranya meninggi.
"Ibu nggak tahu."
"Jangan bohong, Bu. Katakan dengan jujut, dikemanakan uang itu sama dia?" Tatapan Yudi menaj4m membuat nyali sang ibu menciut. Yudi tahu tak pantas memb3ntak orang tua, tapi Ibunya sudah kelewatan hingga bablas memanjakan Romi.
"Ibu dengar dari tetangga, u4ng itu dipakai untuk judi online.”
Jantung Yudi seperti berhenti sesaat, rasanya untuk bernapas sangat sulit. Dia memandang ibunya dengan tatapan tak percaya. “Jud1 online? Jadi uang sebanyak itu habis untuk jud1? Ibu tahu ini masalah besar, kan?”
Ibunya mengangguk pelan. “Ibu tahu, Yud. Makanya Ibu minta kamu bantu selesaikan. Rumah ini nggak boleh sampai disita. Ini tempat tinggal kita semua. Ibu yakin Romi nggak bermaksud kabur, kalau punya u4ng dia pasti bayar."
Yudi terdiam, kepalanya seakan dibent-urkan ke dinding mendengar permintaan ibunya. "Kenapa Ibu selalu membela Romi? Ini bukan kali pertama dia bikin masalah. Tiga bulan lalu aku baru saja lunasi utangnya di bank keliling. Utang itu juga gara-gara dia gadaikan sawah Ibu! Apa Ibu nggak sadar, dia selalu memanfaatkan Ibu?”
“Jangan ngomong begitu, Yudi,” ibunya membalas, suaranya terdengar tegas. “Romi itu adikmu. Kamu itu kakak tertua. Sudah tugasmu membantu adik-adikmu. Apa salahnya membantu keluarga? Kamu jangan perhitungan begitu. Ibu juga nggak perhitungan sama kamu, dari kecil sampai gede Ibu yang rawat kamu."
Yudi tertegun mendengar jawaban itu. Ada sesuatu tak kasat mata menus-uk dadanya, bahkan dia harus mengepalkan tangan untuk meredam sakitnya. Perhitungan? Apakah semua pengorbanannya selama ini dianggap perhitungan? Dia bahkan rela berhenti sekolah dan mengubur cita-cita demi membantu keluarganya bertahan hidup. Saat anak-anak lain bermain, dia malah sibuk membantu neneknya mengarungkan gabah di penggilingan padi, lalu memanggul dua karung dedak ke pasar untuk dijual.
“Bu, aku sudah bantu keluarga ini sebanyak umurku sekarang. Aku kerja pagi sampai malam sampai badan ini hampir tumbang. Bahkan istriku ikut bant1ng tulang, tapi Ibu nggak pernah menghargai sedikit saja? Kenapa selalu aku yang harus tanggung semuanya? Kenapa Ibu nggak pernah tegas sama Romi?”
Ibunya kembali berdecak, tidak terima dengan keberatan Yudi. “Ibu nggak tega, Yud. Kamu tahu kan, Romi itu nggak terbiasa kerja berat. Dia itu lemah. Kalau bukan kita yang bantu, siapa lagi?”
“Dia bukan anak kecil lagi, Bu. Dia sudah tiga puluh tahun, sudah dewasa!” Yudi hampir berteriak, tapi lagi-lagi dia menahan diri. “Dia harus bertanggung jawab atas hidupnya sendiri!”
"Pokoknya jangan sampai rumah ini disita, Anggap saja ini pengorbanan terakhirmu untuk keluarga!" Perintah sang ibu dengan tatapan nyalang ke arah Yudi.
Yudi menatap ibunya, hatinya berkecamuk, ingin menolak dan mengatakan bahwa ini bukan tanggung jawabnya lagi. Namun, di satu sisi, dia tidak ingin dianggap anak durhaka. Pikirannya penuh dengan bayangan Sukma yang pasti akan m4rah besar kalau dia menyanggupi permintaan ini.
Akhirnya, dia hanya mengangguk pelan. “Baik, Bu. Aku akan cari cara.” Yudi kalah dengan perasaan kepada sang ibu.
Ibunya tersenyum lega. “Terima kasih, Yudi. Kamu memang an4k yang paling bisa diandalkan.”
Kata-kata itu tidak membuat Yudi merasa bangga. Justru sebaliknya, dia merasa seperti tali yang semakin menjer4t leh3rnya sendiri.
*
Yudi tiba di rumahnya hampir tengah malam. Sukma yang sedang membereskan piring di dapur bergegas ke ruang tamu dengan wajah cemas.
“Kamu dari mana saja, Mas? Aku cemas nunggu dari tadi.”
“Dari rumah Ibu,” jawab Yudi lemah, dia duduk di kursi panjang sambil melepas sepatu.
"Jadi, apa rencanamu? Kamu nggak akan mengiyakan permintaan Ibu, kan?” Dia berdiri di depan sang suami setelah meletakkan air minum di atas meja.
Yudi tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggung di sandaran kursi, wajahnya tergurat lelah. "Sukma, aku nggak punya pilihan lain."
Sukma terdiam, wajahnya berubah masam. "Mas, aku sudah bilang, aku nggak akan mendukung kalau kamu terus memanjakan mereka. Berapa kali Romi bikin masalah? Berapa kali kamu harus menanggung akibatnya?"
“Aku tahu,” suara Yudi bergetar, tapi aku nggak bisa biarkan rumah Ibu disita. Aku nggak punya pilihan.” Kali ini Yudi terlihat memelas ke Sukma. Dia tahu istrinya lelah dengan drama keluarganya, tapi mau bagaimana lagi? Sejak kecil dia terbiasa mengambil beban keluarga di pundaknya.
Sukma memandang Yudi dengan mata berkaca-kaca. “Mas, kamu sadar nggak, kamu sudah merusak hidupmu sendiri karena mereka? Apa kamu nggak peduli sama aku, sama pernikahan kita?”
Yudi membuka mulut, tapi sebelum sempat menjawab, pandangannya tiba-tiba gelap. Tubuhnya limbung seketika.
“Mas!” Sukma berteriak panik, dia sigap menangkap tubuh Yudi yang rebah ke arahnya.