"Berani datang juga? Aku kira setelah menjual wanita yang kamu hamili, gak akan berani ke sini." Suara seorang laki-laki menyambut kedatangan mereka. Dhenis memutar memorinya, ia seperti mengenali suara tersebut. "Aku hanya menghormati Megha atas undangannya dan tidak ada urusan dengan Anda, Tuan Abiyan." Dhenis menjawab tanpa menolahkan wajahnya. "Lagi pula kejadian itu bukan murni salahku, dia yang mau!" Dia menjawab santai. Abiyan mengepalkan tangan. Siapa sangka dunia lebih sempit dari yang dia kira. Dhenis, adalah sahabat kakaknya ketika kuliah, dan hal itu baru saja diketahuinya tadi sore. Dhenis melangkah tanpa menoleh ke arah Megha. Setengah mencengkeram lengan wanita itu lembut, dia memaksa Megha mengikuti langkahnya. Mereka berhenti di samping kolam renang. Mehga tampak menga

