KING ISWANDI

2325 Kata
Setelah kurang lebih satu jam melayang di udara, burung besi Air Asia yang ditumpangi Fitri transit di KLIA 2—Kuala Lumpur International Airport 2. Sebagai seseorang yang belum berpengalaman dengan perjalanan ke luar negeri, Fitri yang tak tahu apa-apa tentang seluk-beluk bandara itu hanya mengekori penumpang-penumpang lain. Fitri benar-benar takjub saat memasuki bandara internasional negara Malaysia itu. Bandara itu sangat besar. Dirinya benar-benar merasa sangat kerdil saat harus berjalan di sana. Ia bergerak mengarah ke kantor imigrasi untuk mengurus boarding pass. Setelah urusan selesai, ia melangkahkan kaki menuju boarding room untuk menunggu pesawat yang akan mengantarkan ke Jepang. Fitri mengambil botol air minum yang isinya tinggal setengah dari dalam tas. Ia banyak minum saat masih di Bandara Internasional Minangkabau, tetapi saat di pesawat dirinya sama sekali tak menyentuh makanan atau minuman karena terlalu fokus dengan perjalanan. Gadis itu seakan baru menyadari bahwa dirinya sangat haus. Ia melirik sekitar, mencoba mencari tempat di mana dirinya bisa membeli air minum. “Excuse me, Bang. Ada mini market atau stand minuman terdekat dari sini tidak?” tanya Fitri pada seorang pria yang kebetulan lewat di depannya. “Puan haus?” “Iya.” Fitri menggangguk sambil tersenyum ramah. “Tak payah beli, Puan. Boleh ambil di sane.” Pria bertubuh tambun itu menunjuk sebuah tempat yang dikerumuni orang-orang yang sedang antre. “Wah. Terima kasih banyak, Bang. Saya permisi dulu.” Dengan langkah terburu-buru Fitri mendekati tempat tersebut. Antrean yang cukup panjang membuat kesabarannya sedikit diuji. “Aduh, mana ngantri lama banget. Aku beli aja kali, ya? Di mana coba? Tapi, kan, nanggung juga. Sabar ... sabar,” gumam Fitri mencoba menasihati diri sendiri. Setelah antrean yang lumayan melelahkan, akhirnya tiba giliran Fitri. Dirinya benar-benar tak sabar untuk segera membasahi kerongkongan yang sudah kering. Fitri mengisi botol minumnya yang berukuran cukup besar hingga penuh, berjaga-jaga jika nanti ia kembali dahaga dan tak tahu di mana bisa membeli minuman. “Alhamdulillah, seger banget,” ucap Fitri sangat puas setelah meneguk air yang barusan diambilnya. Pesawat yang akan ditumpangi Fitri untuk menuju Jepang berangkat pukul sebelas malam, sedangkan waktu masih menunjukkan pukul empat sore, sehingga ia harus menunggu di bandara itu selama kurang lebih tujuh jam. Sungguh pengalaman pertama yang melelahkan. Duh, bosan, nih. Lanjutin naskah aja kalo gitu, pikirnya sambil mengeluarkan laptop. Mulailah jari-jarinya ‘liar’ menekan tuts-tuts keyboard. Sebenarnya ia tak ahli dalam hal mengetik. Namun, karena sudah saking banyak melakukan aktivitas itu, ia menjadi terbiasa. Semenjak SMA, Fitri sudah sangat suka menulis. Sehingga saat sang ayah menghadiahi laptop, Fitri luar biasa senang dan mulai belajar mengetik secara autodidak. *** Pukul sebelas kurang sepuluh menit. Penantian melelahkan itu berakhir. Pesawat yang ditunggu sudah datang, Air Asia X dengan kode pesawat D7522 akan terbang dari KLIA 2 ke Bandara Haneda, Tokyo. Sesuai dengan angka yang tertera di tiket boarding pass—nomor 36—ia segera menemukan tempat duduknya, bersebelahan dengan seorang pemuda yang telah lebih dahulu berada di sana. Pemuda berkulit putih dan mengenakan kacamata itu tengah membaca Al-Quran mini di tangannya dengan penuh penghayatan. Khusyuk benar ia mengaji. Sejuk sekali hati siapa pun yang mendengar suara merdu mendayu-dayu itu. Meskipun bukan dengan suara yang keras, tetapi orang yang duduk dekat dengannya tentu akan mendengar dengan jelas. Rasa kagum akan kesalehan pemuda itu mengembang manis lewat senyuman Fitri. Benar-benar momen yang indah, menyaksikan seseorang yang begitu bersahaja dan sangat mencintai ajaran agama. Tanpa sadar dirinya terus memandangi si pemuda. Tiba-tiba, bayangan sosok di masa lalu kembali menyemburat di ingatan gadis itu saat menatap seseorang yang duduk di sebelahnya tersebut. Wajah sederhana pemuda itu mengingatkan ia pada Afash dan merasa Afashlah yang sedang duduk di sebelahnya. Embun kembali jatuh dari mata teduh itu. “Puan, ade yang boleh saye bantu?” tanya pemuda tersebut menyapa Fitri menggunakan bahasa Melayu. Fitri tersentak. “Ma-Maaf. Ti-tidak, Bang.” Ia menggaruk-garuk keningnya yang tak gatal—untuk mengekspresikan rasa salah tingkah yang tiba-tiba mengganggu—dan segera menghapus air mata. “Adik ini orang Indonesia, ya?” Pemuda itu mengganti bahasanya setelah mendengar jawaban Fitri yang berbahasa Indonesia. Sosok berwajah lumayan menarik itu mengeja senyuman santun pada Fitri. “I-iya.” Fitri mengangguk dengan semangat. Di dalam hati ia menduga bahwa pemuda yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya itu juga berasal dari indonesia. “Saya juga orang Indonesia, dari Magelang.” Pemuda itu sangat senang bisa bertemu dengan sesama orang Indonesia di atas pesawat yang menuju negara asing. “Yang benar, Mas? Kalau saya dari Padang. Waaah. Saya senang sekali bisa satu tempat duduk dengan sesama orang Indonesia.” Setelah menyadari bahwa sosok yang berada di sebelahnya itu berasal dari Magelang, Fitri lantas mengganti sapaannya dari ‘Bang’ menjadi ‘Mas’. “Ngomong-ngomong, Adik ada urusan apa ke Jepang?” Pemuda yang belum diketahui namanya itu melirik Fitri penasaran. Namun, dirinya tetap berusaha menjaga agar tak bertatapan dengan Fitri. “Ng ... saya insyaallah akan melanjutkan kuliah di Universitas Waseda.” “S2?” “Iya, Mas.” Fitri mengangguk. “Mas sendiri?” “Saya ada projects syuting reality show tentang upacara-upacara di Jepang.” “Syu-syuting?” Fitri mengernyit. Ia agak bingung saat mendengar pemuda yang menurut penilaiannya bukanlah seorang yang terkenal mengatakan akan melaksanakan syuting. “Iya. Saya seorang sutradara. Sebenarnya syutingnya sudah berjalan selama empat minggu dan sudah hampir selesai. Tapi selama seminggu ini ditunda dulu karena saya ada urusan ke Kuala Lumpur. Teman-teman saya menunggu di Saitama.” Pemuda itu bercerita panjang lebar, menjawab hal-hal yang membuat Fitri bertanya-tanya dalam hati. “Wah, keren. Benar-benar beruntung bisa satu tempat duduk dengan Mas. Oh ya, sebelumnya, kenalkan nama saya Fitri Suada, Mas.” Fitri menyodorkan tangannya. “Saya King Iswandi,” jawab pemuda itu ramah tanpa menjabat tangan Fitri, ia hanya mendekapkan tangan ke d**a dan tersenyum. Benar-benar terjaga sikapnya. Ia benar-benar menyadari bahwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah hal yang haram. Fitri paham, kemudian menarik kembali tangannya. Ada rasa simpati yang mendominasi hati gadis itu saat berhadapan dengan seorang pemuda yang sangat terjaga imannya. Pemuda itu menjadi semakin mengagumkan. "Oh ya ngomong-ngomong, saya panggil Mas King atau Mas Iswandi?” “Terserah Dik Fitri saja.” Lagi-lagi King tersenyum, memperlihatkan jejeran gigi putihnya yang rapi. “ Ng ... Mas King?” “Silakan.” Pemuda tersebut mengangguk. “Oh ya, saya sedang menulis novel, loh, Mas King. Siapa tahu nanti novel saya bisa difilmkan.” Fitri mempromosikan diri sambil tersenyum kecil. Ia berharap King yang merupakan seorang sutradara tertarik untuk mendengarkan gambaran-gambaran kisah yang dituliskannya di naskah novel. “Oh ya? Boleh ... boleh. Kebetulan saya juga nulis, sih, tapi tidak terlalu fokus dengan profesi itu. Kalau novel Dik Fitri selesai, silakan hubungi saya,” ujar King ramah. Sesuai dengan harapan Fitri, King memang langsung memberi penawaran yang diinginkan gadis itu. Fitri atau pun King terlihat sama-sama menguap. Rasa kantuk yang mulai datang menghentikan komunikasi mereka. Memang sudah sewajarnya mereka tidur karena waktu yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Kira-kira tiga jam lagi mereka akan mendarat di bandara Jepang. *** Kurang lebih tujuh jam melesat di udara, pesawat yang mereka tumpangi akhirnya lepas landas. Para penumpang berbondong-bondong keluar membawa barang bawaan mereka. Bandara Internasional Tokyo atau terkenal dengan nama Haneda Kuko. Fitri berdecak kagum sambil memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di bandara—yang hampir semuanya adalah orang asing. Sungguh sulit dipercaya bahwa dirinya telah berada di Negeri Matahari Terbit yang sebelumnya hanya ia kunjungi di dalam mimpi. “Wow, ini Jepang? Luas sekali, Mas,” ujar Fitri sangat takjub. “Ini bandara, Dik Fitri.” King tertawa karena melihat betapa lugu gadis di sampingnya itu. “Maksud saya, bandaranya. Tadi di KLIA saya sudah takjub, apalagi di sini.” Lagi-lagi Fitri harus menggaruk-garuk keningnya yang tak gatal. Dirinya secara spontan memperlihatkan sikap lugu, secara tak langsung menunjukkan bahwa dirinya memang tak akrab dengan bandara. “Apalagi kalau sudah keluar bandara, Dik Fitri akan semakin takjub,” ujar King masih dengan sisa tawanya. Kepolosan gadis di sebelahnya itu sangat menggemaskan. Fitri celangak-celinguk menyusuri sekitar. Ia berusaha mencari-cari sesuatu. Saking takjub dengan sekeliling seakan memberi efek mulas di perutnya. “Mas King, bisa antarkan saya ke toilet dulu?” “Oke. Di sini banyak, loh, toiletnya.” “Toilet di sini pakai tombol-tombol ajaib, ya, Mas?” Fitri kembali mengatakan kalimat polos yang menggelitik. “Dik Fitri ini ada-ada saja.” Tawa King kembali meledak mendengar istilah ‘tombol-tombol ajaib’ yang dikatakan Fitri. Ia benar-benar tak habis pikir bahwa dirinya sedang bersama seorang gadis yang tak diragukan keluguannya. Sesampai di depan toilet, Fitri masih sempat-sempatnya memotret pintu yang bertuliskan Huruf Kanji. King hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia seperti dihadapkan dengan keponakannya yang masih duduk di bangku SMA. *** Cukup lama di dalam toilet, akhirnya Fitri keluar dengan raut muka yang terlihat merasa bersalah karena King telah lama menunggunya di luar. “Maaf. Saya kelamaan, ya, Mas?” “Oh, tidak apa-apa. Ayo kita ke ruang imigrasi,” ajak King. Fitri mengikuti King yang bergerak menuju ruang imigrasi. Ia merasa lega karena King tidak menanyakan kenapa dirinya sangat lama di toilet. Betapa malunya Fitri jika King sempat menanyakan dan mengetahui bahwa ia salah memencet tombol. Tombol-tombol yang ditemukan benar-benar ‘ajaib’, membuat bingung harus memencet tombol yang mana. Apalagi dengan penjelasan yang menggunakan huruf Jepang, sehingga Fitri harus mencoba memencet semua tombol. Untung saja ia tak memencet tombol alarm tanda bahaya karena sudah berhasil menemukan tombol yang dibutuhkan sebelum jarinya ‘tersesat’ ke tombol lain. *** Di ruang imigrasi. Ternyata antrean sudah sangat panjang, sehingga mereka berdiri cukup lama sampai akhirnya mendapat giliran diberi stempel untuk masuk Jepang. Setelah selesai dengan urusan keimigrasian, mereka kembali melanjutkan cerita yang masih belum selesai sambil berjalan-jalan berkeliling bandara. Fitri mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seseorang. Sayangnya, orang yang ditelepon tak menjawab panggilan. Wajah gadis itu mulai mengguratkan kekhawatiran. “Ada apa, Dik Fitri?” King mengernyitkan kedua alisnya saat melihat ekspresi panik dari wajah sosok berjilbab yang berjalan bersisian dengannya itu. “Orang yang akan menjemput saya sepertinya belum datang. Saya telah mencoba menelepon, tapi tidak direspons.” Fitri berusaha untuk meredam kepanikan itu dengan tetap mengatakan kalimatnya dengan santai, tetapi sikapnya tak mampu menyembunyikan keresahan tersebut. Kedua tangannya sibuk mempelintir-lintir ujung jilbab, mengisyaratkan perasaannya yang sedang tak baik-baik saja. “Jangan cemas, Dik Fitri. Insyaallah orang yang menjemputmu pasti datang.” King mencoba menenangkan. Ia dapat membaca kondisi lawan bicaranya itu. “Oh ya, Mas King buru-buru kah? Ada syuting kah?” “Tidak juga. Syutingnya tiga hari lagi. Memangnya kenapa, Dik Fitri?” King mengernyit. “Bisa temani saya di sini sampai yang menjemput saya datang?” tanya Fitri ragu-ragu. King terdiam sejenak. Pemuda itu kemudian menyunggingkan senyuman. “Jangan khawatir. Insyaallah saya akan temani Dik Fitri sampai dia datang.” Ungkapan King terdengar tulus dan sangat bertanggung jawab. Fitri benar-benar bersyukur bisa bertemu dengan King. Ia merasa sangat nyaman saat berada dekat dengan pemuda tersebut. Tiba-tiba ia tercenung. Lagi-lagi, rasa nyaman itu membuat Afash kembali hadir di pikirannya. “Oh ya, gimana kalo Dik Fitri saya traktir makan? Kalau tidak salah ada kafe di sekitar sini. Ayo, kita cari,” ajak pemuda tersebut. “Saya rasa lebih baik saya menunggu di sini saja, Bang Afash.” Fitri tersenyum ramah seakan tak menyadari bahwa ia salah memanggil nama King. “A-Afash?” Kening King berkerut, mengguratkan kebingungan. “Astaghfirullahal’adzim. Ma-maksud saya Mas King.” Fitri berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karena malu. Sudah kali kesekian dirinya bersikap konyol di hadapan seorang yang baru dikenal itu. “Oh. Kalo gitu Dik Fitri tunggu di sini, ya, biar saya beli sebentar.” King bergerak menjauh, meninggalkan Fitri yang masih terlihat salah tingkah. Beberapa menit kemudian, King kembali membawa dua botol minuman dingin dan beberapa makanan kecil. Fitri tak tahu di mana persisnya pemuda itu membeli makanan dan minuman tersebut. Ia ingin bertanya, tetapi sebuah pengumuman dengan pengeras suara membuat dirinya tak jadi menanyakan. “DIBERITAHUKAN KEPADA PENUMPANG PESAWAT DARI INDONESIA YANG BERNAMA FITRI SUADA UNTUK SEGERA MENUJU RUANG IMIGRASI!” “Mas King, sepertinya pengumuman barusan itu buat saya, deh.” “Iya, Dik Fitri, saya juga dengar. Mungkin yang menjemput Dik Fitri sudah datang.” Fitri meminta King untuk menemaninya menuju sumber suara. Terlihat di ruangan tempat suara pengumuman itu berasal, seorang gadis bule sedang duduk dan di tangannya memegang sebuah kertas karton bertuliskan “FITRI SUADA FROM INDONESIA” “Excuse me, are you waiting for me?” sapa Fitri. “Fitri Suada?” tanya gadis bule tersebut. “Yes, i am.” Fitri mengangguk dan melengkungkan bibir, memberikan ekspresi sangat ramah. “Oh … hi, i am Jill ... Jill Taylor,” sapa gadis bule itu tersenyum. Senyuman yang khas, karena giginya yang mirip gigi kelinci. “Hallo, Jill. Mmm ... he is my friend, King.” Fitri menunjuk pria yang telah dengan senang hati menemaninya sampai dijemput tersebut. “Hallo, King.” Jill menyapa King dengan ramah. “Hi, Jill.” “Mas King, terima kasih banyak untuk semua kebaikannya hari ini. Sudah cerita banyak hal, menemani saya dan mentraktir juga,” ujar Fitri. “Iya, Dik Fitri, sama-sama. Oh iya, ini kartu nama saya. Ada nomor ponsel, email dan alamat rumah saya juga. Kalau novel Dik Fitri sudah selesai, hubungi saja saya. Dik Fitri juga bisa datang ke rumah saya di Magelang atau kantor saya di Jakarta Selatan.” Fitri mengambil kartu nama tersebut dan segera memindahkan nomor ponsel King yang tertera di sana ke gawainya, lalu memencet tombol telepon. “Itu nomor ponsel saya, Mas King,” ujar Fitri saat melihat pemuda itu merogoh saku celana untuk meraih ponsel yang berdering. Setelah diberi tahu Fitri, King terlihat mengutak-atik smartphone berlogo apel itu. Mungkin sedang menyimpan kontak Fitri. “Oh ya, kalau begitu saya pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Dik Fitri, Jill,” ujar King sambil melambaikan tangan dan bergerak menjauh. Mereka berpisah di sana. Sementara itu, Fitri mengikuti gadis bule bernama Jill tersebut menuju mobilnya. Mereka masuk ke kendaraan berwarna silver itu dan kemudian mulai bergerak menjauhi bandara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN