5. Pemantik – II

1182 Kata
Suatu hari, ayahnya mendapatkan sebuah undangan pernikahan. Lokasinya cukup jauh karena berbeda kecamatan. Untuk pergi ke lokasi harus menggunakan mobil. Terlebih lagi karena undangan itu dikhususkan untuk dua orang, yaitu ayah beserta ibunya, maka Estri tidak bisa ditinggalkan sendirian di rumah. Mereka sesekali masih kedatangan orang-orang itu. Meninggalkan Estri seorang diri di rumah hanya akan membahayakan anak perempuan delapan tahun itu. Putra pemilik pabrik, Atmajaya, bukan seseorang yang mudah ditalkukkan. Seorang pria yang memiliki obsesi besar. Tapi pria itu menyebut obsesinya sebagai cita-cita sederhana. Sederhana matamu. Ingin rasanya Estri mengatai itu langsung kepada bos sang ayah. Pemilik pabrik yang usianya sudah cukup tua adalah pria dengan pandangan lurus, maka ia menitipkan pabrik jamu kepada ayahnya yang juga sama lurusnya. Sedangkan Atmajaya bukan orang selurus itu, Obsesinya memiliki perusahaan keluarga besar memakan konsekuensi dan harga yang setimpal. Mengubah pabrik jamu tradisional menjadi pabrik miras dan obat tanpa izin edar sebenarnya tidak permanen. Hanya beberapa bulan saja agar memberikan pemasukan lebih besar. Beberapa pabrik cabang yang lain telah diubah pula dan pemasukan mereka meningkat tajam karenanya. Menyasar pasar ekonomi menengah ke bawah dengan harga lebih murah, ternyata cukup berhasil. Menjual miras kepada supir-supir truk, pengamen, preman, dan orang-orang yang tidak jelas tujuan hidupnya lebih cepat mengembalikan penghasilan daripada menjual jamu. Jika bisnis rahasia ini tetap berjalan perlahan selama beberapa tahun ke depannya, mungkin saja pemilik pabrik telah meninggal dan kendali sepenuhnya jatuh kepada Atmajaya. Jika sudah begitu, maka ia akan bebas melakukan apa pun dengan pabrik peninggalan orang tua. “Estri, nanti ikut sama Ayah dan Ibu ke nikahannya teman Ayah sama Ibu, ya? Kalau di rumah sendirian, emangnya kamu berani?” tawar ibu ketika Estri baru saja pulang dari bermain bola. Ia betul-betul kusam dan berantakan, tapi ibu sama sekali tidak mengomel. Beberapa hari ke belakang ketika kunjungan Atmajaya dan dua anak buahnya menjadi semakin liar, ibu menjadi lebih banyak diam. Seharusnya Estri senang karena tidak perlu lagi mendengar omelan sang ibu, tapi melihat beliau menjadi lebih banyak diam tentu saja masih mengirimkan firasat tidak menyenangkan. Estri biasanya akan menolak. Ia lebih banyak menolak tawaran sang ibu daripada menerimanya. Namun kali ini ia menjawab ‘iya’ tanpa banyak drama. Hanya terdiam sebentar berpikir, lalu secara mengejutkan memberikan persetujuan. “Estri enggak berani di rumah sendirian.” Hanya jawaban itu yang terlontar dari bibir mungil Estri. Ia tidak peduli lagi sehabis itu dipaksa ibunya mandi lebih wangi dari biasa. Memakai pakaian yang sangat feminin, rambut dibuat sedemikian rupa agar terlihat cantik, dan bagian menyebalkan adalah mengenakan sandal berhak. Ya, bahkan anak kecil saja dipaksa mengenakannya agar terlihat lebih cantik dan agak dewasa mungkin. Jika ia tidak mengenakan sandal itu, ibu mengancam tidak akan membawa serta Estri. Sungguh, gara-gara sandal saja. Kepergian mereka ke acara pernikahan tersebut tentu tidak sekadara mengucapkan selamat dan foto-foto bersama. Ayah mencari suaka baru. Tempat di mana ia melindungi keluarga kecil mereka melalui orang lain. Namun, jangan anggap menemukan suaka baru akan semudah itu. Pertama-tama, ayah masih memikirkan cara bagaimana bisa melepaskan diri dari Atmajaya. Bahkan jika itu harus melepaskan pekerjaan yang secraa langsung diberikan kepadanya oleh pemilik pabrik sendiri. Dan lagi, karena sudah mengetahui rahasia besar Atmajaya, ia harus menyimpannya rapat-rapat seumur hidup. Tidak boleh membagikannya kepada siapa pun jika tak ingin berurusan lagi dengan pria obsesif tersebut. Dan, walaupun ayahnya sudah bertanya-tanya kepada beberapa kandidat, ia tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Atmajaya lebih menakutkan daripada yang dikira. “Aku enggak tahu gimana lagi kita akan cari tempat. Aku bisa saja langsung resign, bilang ke Bapak sendiri. Tapi kalau keluarnya mendadak begini, dia pasti juga curiga. Tahu sendiri kalau Pak Atmajaya juga enggak mau cara kotornya bekerja sampai masuk telinga bapaknya,” ujar ayah di mobil dalam perjalanan pulang. Ia dan ibu sengaja membicarakannya dengan leluasa karena mengira Estri telah terlelap di jok belakang. Padahal seperti biasanya, anak perempuan itu tidak tidur. Memaksakan diri menjadi pendengar untuk mengetahui bagaiamana kondisi mereka saat ini ternyata malah membuatnya betulan tidak bisa tidur. Melihat orang-orang itu sering kali datang ke rumah membawa banyak ancaman, ia mendapatkan firasat buruk. Keserakahan orang-orang itu mungkin akan membahayakan mereka, mungkin di tahap kehilangan nyawa. Uh, sialan. Bagaimana bisa anak berusia delapan tahun sepertinya berpikir sejauh itu? “Yah, dari tadi mobil di belakang ngikutin kita,” ujar ibu cemas. Karena perkataan sang ibu, Estri betul-betul merasa jika nyawa mereka sedang berada di ujung tanduk. Terlebih lagi ketika bagian belakang mobil ditubruk secara keras. Ayahnya mempercepat laju mobil, berharap bisa menciptakan jarak lebih jauh dan lepas dari kejaran. Di posisi itu, Estri sudah tidak berpura-pura sedang tidur. Ia yang sempat terlempar ke depan karena tidak memakai sabuk pengaman disambut dengan tatapan luar biasa cemas sang ibu. “Estri, pakai sabuk pengamannya, Nak. Jangan takut dulu, ya. Ibu mohon, ya.” Ibu sendiri melepaskan sabuk pengamannya supaya bisa membantu Estri kembali duduk di tempatnya dan mengenakan kembali sabuk pengaman. Namun keputusan itu membawanya pada masalah. Mobil secara tiba-tiba dibanting ke sisi lain jalan setelah dipepet dan ditabrak beberapa kali. Ibu dan Estri sempat terantuk menabrak jendela mobil. Selagi ayah mengkhawatirkan mereka, serangan dari mobil misterius itu tidak kunjung berhenti. Padahal di depan mereka, sebuah jurang sedalam lima meter tengah menanti. Mobil misterius itu mundur, sebentar yang mungkin akan memberikan satu tubrukan paripurna untuk mendorong mereka bertiga masuk ke jurang. Tepat sasaran, ketika ayah bermaksud memanfaatkan kesempatan itu untuk mengebut, mobil misterius tersebut mengegas dengan kecepatan tinggi. Tanpa diduga, sebuah truk yang cukup besar tiba-tiba saja muncul dari arah tidak terduga. Menghalangi jalan mereka dan memaksa ayah banting setir. Dan satu-satunya tempat yang menyambut mereka adalah jurang sedalam lima meter itu. Satu hal yang Estri ingat, bahwa ibu memeluknya sangat erat. Ayah yang menjerit dengan kencang. Lalu suara tabrakan kencang. Ia benar-benar tidak berharap bertemu kematian secepat ini, tetapi jika ia dan keluarganya betul-betul bertemu dengan kematian itu sendiri, semoga saja tidak terlalu menyakitkan. Namun, entah kematian memang tidak ingin bertemu mereka lebih cepat atau menundanya karena ingin memberikan rasa sakit yang lebih lama, suara ibu dan ayah masih terdengar. Begitu membuka mata, Estri telah mendapati ia dalam gendongan sang ibu. Ibunya sendiri tengah berlari dengan sisa tenaga yang dipunya kendati ia terluka. Darah yang bersumber dari pelipis itu telah membasahi wajahnya dan juga menempel ke tubuh Estri sendiri. Bau anyir yang entah mengapa membuatnya teramat pusing. “Bu … Estri diturunkan aja, ya. Estri kan berat,” lirih Estri ketika menyadari betapa kesulitannya sang ibu saat ini. “Jangan! Kita harus lari menyelamatkan diri apa pun yang terjadi!” Ayahnya yang berada di belakang mengawasi. Bahkan sang ayah juga berada dalam kondisi terburuk, tetapi ia tetap memaksakan diri berlari kendati tangannya mungkin patah dan darah telah mengubah warna kemeja krem itu menjadi merah. Di belakang mereka, beberapa pria mengejar. Pria-pria itu bukan tamu-tamu ayah yang waktu itu, tapi di belakang mereka, Estri menemukan salah satu di antaranya. Pria itu menodongkan sebuah pistol yang terarah ke depan. Ke arah sang ayah. Belum sempat Estri memperingati sang ayah, peluru itu sudah lebih dulu melesat. Menembus tubuh sang ayah, menyipratkan darah dari bibirnya hingga pria itu ambruk ke tanah. Ibunya menjerit, Estri sendiri membeku di sana. Warna merah itu membuatnya mual.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN