8. Pria Terkenal

1026 Kata
Tanpa diduga-duga, kerabat-kerabat orang tuanya memiliki ide buruk menjodohkan Juwita dengan Ardi. Membayangkannya saja sudah sangat buruk, kini mereka berdua malah digiring ke halaman belakang yang memiliki halaman luas dan tidak memiliki banyak pengunjung. Kalau bisa, ia ingin sekali mendorong pria itu ke dalam kolam renang. Berurusan dengan putra bermasalah Atmajaya tersebut hanya akan melibatkannya ke dalam masalah-masalah yang nantinya ditimbulkan. Juwita ingat betul berita hiburan beberapa tahun silam. Tentang penyanyi dangdut yang dicampakkan suaminya berselang dua minggu saja setelah melahirkan. Alasan perceraian itu pun luar biasa konyol. Karena si penyanyi sudah tidak cantik lagi semenjak melahirkan. Dan kebetulan sekali mantan suami sableng itu adalah Ardi. Namanya sudah wara-wiri di dunia hiburan beberapa kali karena skandal dengan penyanyi dangdut tersebut. Betul-betul skandal merepotkan yang sampai mengerahkan petinggi-petinggi dunia hiburan untuk menutupi berita. Jika melihat skala keluarga Atmajaya yang besar, masuk ke dalam lingkaran keluarga pebisnis kecil seperti mereka, bukankah itu sebuah pertanda bahwa pria ini mungkin saja sudah dijauhi atau bahkan dibuang dari keluarganya. “Mbak Juwita,” panggil Ardi selagi Juwita berpikir serius sedari tadi. Juwita menoleh ke belakang, di mana sang pria menikmati es siropnya dengan tenang. Cih, padahal pria itu setiap pergi ke kelab malam selalu saja mencari minuman keras. Anggap saja sedang pencitraan. “Iya.” Balasan singkat itu diakhiri dengan senyuman bisnis. “Namanya cantik. Ternyata orangnya cantik juga.” Serangan seorang casanova! Juwita meringis. Kalau ada Bisma di sini, entah apa yang dilakukannya kepada Ardi. Untuk saat ini, jangan sampai jatuh pada perangkap murahan khas playboy. Juwita pun membalas, “Kalau kata orang-orang saya memang cantik. Jadi jangan dipertegas lagi.” Juwita memperlebar jarak. Sungguh, padahal halaman belakang di tempat ini cukup luas, tapi ia merasa sesak harus berbagi udara yang sama dengan pria itu. Lebih menyebalkan lagi karena tidak ada seseorang yang dapat membantunya keluar dari kecanggungan ini. Mungkin mereka sengaja membiarkan ia dan Ardi berduaan di halaman belakang. Dengan harapan Ardi berhasil melepaskan gelar perawan tua Juwita. Sungguh kocak. “Hmm, Mbak Juwita orangnya pintar menilai diri sendiri. Enggak heran kalau Mbak Juwita dibilang sukses, ya? Saya sempat dengar kalau Mbak Juwita punya semacam bisnis rahasia. Sampai sekarang pun orang tuanya Mbak Juwita enggak tahu apa bisnis itu.” Tak cukup hanya mengobrol dari kejauhan, Ardi berpindah posisi, ia menghadap Juwita. Mengesampingkan tatapan bengis si perempuan. “Saya penasaran bisnis apa itu. Bukannya mencurigakan merahasiakan bisnis hebat yang bisa bikin Mbak Juwita punya rumah dan mobil sendiri.” “Kayaknya itu bukan hal yang harus Mas tahu. Kenapa juga Mas harus tahu bisnis saya. Emangnya Mas kira bisa ketemu saya lagi? Kalau bukan karena orang tua saya, enggak mungkin saya datang ke sini, apalagi ketemu sama Mas. Semua orang juga udah tahu pamor Mas sebagai pria hidung bilang yang gonta-ganti perempuan. Kalau semisalnya pun keluarga saya mau menjodoh-jodohkan kita berdua, saya punya alasan tepat buat menolaknya. Mana ada keluarga yang mau anaknya jatuh ke tangan pria seburuk itu?” Kesal, Juwita melampiaskan semua kekesalan dalam satu tarikan napas. Tak menduga-duga bahwa seluruh kekesalannya malah membuat pria itu … terkesan? Sungguh menjijikkan. “Hei, keluarga kamu bakal dikenal sama keluarga Atmajaya, loh. Itu langkah pertama mengembangkan bisnis kuliner kecil kalian ke tahap yang lebih besar dan luas. Saya yakin juga kalau kalian pastinya juga berharap dengan meningkatkan hubungan kita berdua, semua keluarga kamu bakal dapat keuntungan itu,” balas Ardi percaya diri. Lihatlah pria itu yang sekarang menyilangkan kedua tangan di depan d**a sembari memasang wajah paling arogan. Juwita mendesis, “Orang ini sudah gila.” “Dan orang gila akan tetap dipasangkan denganmu apa pun yang terjadi. Mana mungkin keluargamu melepaskan kesempatan berbesanan dengan keluarga Atmajaya. Kamu pasti bakal paham kalau lihat betapa mereka tergila-gila sama nama Atmajaya.” Dengan Ardi yang mengungkung Juwita di antara kedua lengannya, sang sulit melepaskan diri. Ekor matanya mendapati beberapa orang tengah mengawasi dari kejauhan. Mereka tampak sangan menikmati pemandangan ini. ketika Juwita yang bahkan tidak pernah sudi disentuh laki-laki selain bapak angkatnya tiba-tiba saja terlihat takluk di depan sosok Ardi, putra Atmajaya. “Mereka benar-benar tergila-gila sama keluarga Atmajaya, jadi mereka sampai lupa kalau Atmajaya yang ada di depan saya ini dalam keadaan buruk. Sampai-sampai bergaul pada kalangan keluarga dengan bisnis kecil. Apa saya salah?” Pertanyaan itu dijawab dengan seringai jahat. Ardi menundukkan kepala, memberikan pemandangan lebih baik untuk orang-orang yang menonton dari dalam. Pria itu hanya berbisik. Dan kata-katanya tidak terlalu menyenangkan. “Lihat saja, apa pun yang terjadi, aku pasti akan mendapatkanmu di ranjangku. Kamu akan mengangkang hanya untukku. Persetan dengan kondisiku yang sekarang, aku tetap bakal dapatkan kamu.” Nada bicaranya yang dipertegas tiap kata, embusan napasnya seolah terburu. Harga pria ini baru saja dijatuhkan, tapi ia tidak memiliki pilihan selain tetap menjadi anjing penurut. Jika melukai perempuan ini barang sehelai rambut saja, rencananya akan gagal total. Menjauhkan wajah dari Juwita, pria itu tidak menduga bahwa perempuan itu akan balas berjinjit dan berbisik di telinga. “Maaf, ya. Saya enggak bisa ngangkang di depan orang yang murahan. Mas tahu sendirilah. Pria yang enggak bisa jaga k*********a, enggak ada bedanya sama binatang. Daripada sama pria kayak gitu, mending saya sama binatang aja langsung.” Ardi menegang. Juwita yang seumur hidupnya tidak pernah merendahkan laki-laki dengan cara seperti ini cukup khawatir. Mungkin saja perkataan itu melewati batas. Nantinya hanya akan membawanya ke dalam masalah. Ardi sendiri betul-betul menahan marah. Giginya sampai bergemeletuk. Dan Juwita puas karena itu. Ardi tidak akan pernah bisa menyakiti Juwita jika berada di sini. Kandang keluarga Juwita sendiri. Pria itu terlihat seperti seekor kera besar yang tengah menahan amarah. “Kalau Mas mau marah, silakan. Mas bisa tampar saya, tendang saya, apa pun yang bikin amarah Mas reda. Tapi Mas tahu sendiri kalau mislanya Mas melakukan itu, Mas bisa kehilangan calon rekan potensial. Jadi … puas-puaskan saja dulu nahan marahnya. Kalau Mas betulan mau cari rekan dan sokongan baru, jadilah penurut kayak anak anjing.” Juwita menunjuk wajah Ardi lembut lalu terkekeh lembut. Ia menang. Dan pria itu tidak punya pilihan selain diam. Juwita akan sangat menikmati momen ini. Dan ia akan menyimpan wajah menyedihkan pria itu seumur hidupnya. Di masa lalu pun pria ini pernah menghinanya. Hinaan yang sampai sekarang masih membekas hangat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN