PART 23

1639 Kata
AKU PERNAH BERTANYA pada Angelo kenapa dia sangat jahat. Kala itu, dia menolak ajakan kencan salah satu teman yang aku punya di sekolah hanya karena Angelo merasa gadis itu bodoh sudah melakukan hal tersebut di tengah orang banyak. Dia bahkan tidak memikirkan sama sekali seberapa malunya gadis itu nanti. Angelo tidak peduli sama sekali terhadap Sarah Low, dan aku tidak tahu harus melakukan apa dengan fakta itu. Dia bilang dia tidak punya waktu untuk merasa simpati pada orang lain. Dan itu lebih membuat aku merasa kacau. Apa yang membuat Angelo sampai dia merasa begitu? Apa yang membuat Agnelo sampai dia merasa kalau di dunia ini, tidak ada waktu untuk merasa kasihan pada orang lain? Aku ingat saat Sarah Low dengan berani dan percaya diri berjalan ke arah pria yang sedang berdiri mengantri makanan di antrian yang panjang. Aku masih ingat Lucky dan Felix yang berdiri di belakang mereka, membentuk sebuah piramida yang kokoh. Aku masih ingat saat Sarah Low secara tiba – tiba bertanya padaku di pagi hari tentang orang seperti apa Angelo Bronze itu. Aku masih ingat kalau jawaban kau terlalu santai dan tidak berpikir panjang. Jawab aku terlalu biased dan terlalu subjektif sebab aku sudah berteman dengan pria itu. “Dia pria yang baik. Dia pria yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri. Aku bisa berkata begitu sebab aku sering melihat dia meluangkan semua waktunya untuk adiknya, dan selalu mengutamakan kebutuhan mereka dari pada dia sendiri. Aku juga tahu kalau sejujurnya dia hanya malas bicara dan tidak suka meladeni orang tidak jelas, bukan pria yang jahat, sombong, dan angkuh. Apa lagi pria yang antagonis.” Aku seharusnya bisa melihat dari sorot mata Sarah Low kalau ada rasa kagum di sana. Jadi, aku tidak bisa menghentikan gadis itu ketika dia menyatakan perasaannya. Tapi itu tidak penting saat ini. Yang pening adalah, kenapa Angelo bisa berkata begitu saat aku menanyakan kenapa dia sangat jahat pada Sarah Low? Kenapa dia bisa merasa kalau di dunia ini tidak ada tempat dan waktu untuk berbuat baik dan merasa simpati pada sesama? Apa yang sudah terjadi pada Angelo Bronze? *** TERNYATA memang benar, jika kau berani macam – macam dengan seorang Ibu—terlebih jika dia wanita paruh baya yang membesarkan anaknya seorang diri alias single parent—itu sama saja meminta kematian untuk mengentuk pintu kehidupan kamu. Jangan pernah berani melakukan sesuatu pada anak di depan ibunya, atau kau akan terima ganjarannya. Dan percayalah, nothing is worth facing a mother’s wrath. Mungkin suara teriakan dariku yang membuat insting Ibu bekerja dua puluh kali lipat lebih besar dari biasanya. Mungkin juga karena laki – laki di depan kami yang berpakaian asing dan mencurigakan. Mungkin karena dia sudah tahu dari atmosfer tegang yang mengerikan. Tapi begitu pekikan nyaring terlepas dari bibir aku, Ibu bergerak cepat. Bahkan lebih cepat dari laki – laki yang mencoba untuk mnedekat ke arah kami itu. Dia melompat ke depan aku, berjaga seperti seorang ibu beruang yang menjaga anak perempuannya, dan berhadapan langsung dengan laki – laki serba hitam itu. Laki – laki itu terlihat terkejut untuk beberapa saat, sebelum dia akhirnya menderap lagi. Ibu terkesiap, napasnya tercekat ketika akan ditarik. Sepersekian detik itu dia gunakan untuk membanting pintu agar tertutup rapat, tapi tentu saja siapa pun di balik masker hitam tersebut lebih cepat dari pada gerakan ibu. Dia menahannya, satu tangan di pintu, dan bahu mendorong keras. Ibu bersusah payah mendorong balik, berusaha sekuat tenaga agar laki – laki itu tidak sampai masuk ke rumah. Aku menatap segalanya dalam diam, terpatung di tempat laiknya imbesil tidak karuan. Seperti ada slow motion di depan mataku, di mana ibu berjuang agar laki – laki itu terkunci di luar, dan laki – laki itu membalas balik sekuat tenaga agar bisa masuk ke dalam rumah. Ibu menoleh ke arahku, wajahnya memerah, napasnya terengah, dan lubang hidungnya kembang kempis. Aku menatap wajah itu. Wajah yang sering dikatakan masih terbilang awet muda, sangat awet muda hingga aku kerap disebut seperti kembaran ibu, atau lebih parahnya adik perempuan dia. Iras itu sedang kesusahan, seperti akan meledak satu sekon lagi. Dia mengerang kuat. “Muse!” aku mengerjapkan mata padanya. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. Tapi seperti ada magnet yang membuat aku membeku di tempat. Aliran darah di tubuhku seperti arus yang dingin dan mematikan. Aku tak kuasa menahan teror. Seseorang akan menyerang aku lagi. “Muse!” Ibu kembali berteriak, kali ini nyaris terdorong kasar. “Bantu aku, jangan diam di sana saja! Dorong pintunya!” dia menjerit. “Sekarang!” Seperti ada penarik tuas di tubuh yang mengatakan bergerak sekarang! Saraf motorik di dalam tubuhku akhirnya kembali berfungsi kuat. Aku segera berlari ke samping ibu, menaruh kekuatan seberat mungkin di sana dan mendorong, mendorong, dan mendorong . . . Aku dan ibu kewalahan, dua tenaga kami tidak ada bandingannya dengan laki – laki yang sedang mendorong balik tanpa kesusahan itu. Lalu aku melepas dorongan dan mencari – cari benda. “Muse, apa yang kau lakukan?” bentak Ibu tak sabar. Aku tidak menggubrisnya, tidak meladeni kata – kata lain yang keluar dari bibirnya sebelum aku menemukan benda yang bisa aku pakai. Secara cepat aku berlari ke arah dapur, mengambil pisau dapur dari tempatnya, dan kembali ke pintu depan. Mataku terbelalak ketika pintu itu nyaris terbuka. Kini hampir sebagian dari badan laki – laki itu sudah berada di dalam rumah. Tanpa banyak basa – basi aku menghambur ke arahnya dengan pekikan kencang. Ibu belum sempat mengatakan apa – apa, hanya matanya yang membulat lebar melihatku menderap ke arah laki – laki itu. Aku tusuk lengannya yang menahan pintu, begitu dalam hingga aku merasakan sesuatu yang keras. Dia berteriak, suaranya tertelan oleh masker hitam yang menutup bibirnya. Aku menatap dua mata yang menusuk aku tajam. Sorot matanya murka, kejam, dan penuh janji kalau apa yang aku lakukan padanya akan dia balas berpuluh – puluh kali lipat lebih parah dari ini. Ketika aku tarik pisau dapur itu, darah bercucuran ke mana – mana. Sekilas aku nyaris muntah di tempat, merasakan mual yang melanda abdomen. Tapi aku tahan itu, sebab aku kembali mengacungkan pisau dan menusuknya lagi, kali ini di tempat di bawah ketiak. Lagi pula, berbagai macam film dengan genre thriller yang aku saksikan jauh lebih mengerikan dari pada ini. Jauh, berjuta - juta kali lebih menyeramkan dair pada ini. Darah semacam ini masih belum ada apa - apanya, dibandingkan darah yang sering mereka perlihatkan dalam film classic thriller jaman dulu. Aku menelan ludah dan mengatur komposur tubuh. Dia mendesis, tidak berteriak seperti di awal, dan akhirnya taktik itu berhasil. Pegangannya di pintu terlepas, dan aku menarik pisaunya keluar. Ibu mendorong sekuat tenaga. *** Bunyi pintu terbanting saat ditutup meresonasi di udara. Dengan sigap, wanita itu menguncinya. Aku ingin mengatakan kalau manuver itu sia – sia, bahwa jika dia mau, laki – laki itu bisa saja mendobrak pintu ini, tapi aku tidak ingin membuat Ibu panik. Aku berlari ke dapur lagi, kali ini meraih gagang telepon yang terpasang di dinding dekat meja makan. Aku hubungi nomor telepon pihak yang berwajib. Beberapa detik nada dering sambungan terdengar. Kring . . . Kring . . . Kring . . . seperti latar belakang musik dalam film teror milik aku sendiri. Kring . . . Kring . . . Kring . . . Klik. Aku melebarkan netra. Kulihat tangan ibu memutus hubungan telepon. Dia menatap aku lekat, dadanya naik dan turun tidak beraturan. “Tidak.” “Tidak?” aku tidak bermaksud menaikkan nada bicaraku, tapi ibu sedang tidak masuk akal. “Apa maksudmu? Kita harus menghubungi—“ “Angelo.” Ibu menelan ludah. “Kita harus menghubunginya.” “Er . . . jika aku tidak salah, kau yang ingin membunuhnya tidak berapa lama waktu yang lalu.” “Dia sudah memperingati aku tentang ini . . .” Ibu menelan ludah lagi. Aku tidak akan mengambil resiko dengan membiarkanmu bebas sementara anak – anak yang lain memiliki akses untuk melukaimu. Kali ini, aku yang menelan ludah. “Apa yang sedang kau katakan?” “Kita harus menghubungi Angelo, karena sepertinya, apa yang dia katakan kalau kau akan menjadi titik kelemahannya benar.” “Jika kita melakukan itu pun—yang aku masih tak percaya kau bisa menyarankan ini—bagaimana bisa kita menghubungi—“ Ibu meninggalkan aku. Aku menaikkan alis ketika dia masuk ke kamar, mencari sesuatu, dan keluar lagi sembari menyodorkan aku sebuah kartu nama putih. Angelo Bronze. “Kau . . .” Aku menggeretakkan gigi. “Kita tidak punya banyak waktu,” Ibu melengos. “Cepat hubungi dia, sebab aku tidak yakin kita berdua bisa melawan laki – laki ini sendirian.” “Dari mana kau mendapatkan ini?” tanyaku keras ketika Ibu sudah berjalan ke pintu depan. Dia tidak menjawab. Entah kapan dia sudah meraih pisau dapur yang berlumur darah dariku, tapi dia terlihat seperti malaikat pencabut nyawa. Aku membuang napas panjang. Tidak ada gunanya adu argumen dengannya saat ini. Aku melihat tatapan yang dia berikan padaku. Itu tatapan Ibu yang berarti tidak ada yang kau katakan yang bisa membuat aku berubah pikiran. Kau anak, aku ibu. Turuti apa yang aku mau. Tatapan itu sama saja argumen terakhir dalam konversasi ini. Ketika aku mendengar bunyi nada dering sambungan, aku menahan napas. Kring . . . Kring . . . Kring . . . Apa yang akan aku katakan padanya jika dia sudang mengangkat telepon di sana? Kring . . . Kring . . . Kring . . . Apa yang harus aku bilang pada laki – laki yang sedang tidak ingin aku dengar vokalnya? Kring . . . Kring . . . Kring . . . “Halo?” Aku nyaris terhyung jatuh. “Angie?” tanyaku ragu. Suaraku lirih dan menyedihkan. “Muse? Muse! Muse, ada apa? Apa yang terjadi? Apa kau terluka?” Aku menarik napas panjang. “I need your help, Angie.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN