ANGELO BRONZE itu masuk ke hidup aku tanpa diundang sama sekali. Jujur, aku dulu sering berpikir bagaimana bisa aku berakhir bersama pria ini. Kita seperti dua kutub yang tidak bisa akur. Kita seperti dua kutub magnet yang tidak bisa bersatu. Dia pria yang punya banyak misteri. Dia pria yang punya banyak rahasia. Dia punya seribu satu masalah dan seribu satu masa lalu yang tidak pernah aku tahu. Dia pria yang lebih banyak diam, lebih banyak melihat, dan lebih banyak mengobservasi dari pada berbicara. Dia pria yang dingin, dia pria yang tidak pernah banyak bicara, dan dia pria yang lebih memilih untuk menyelesaikan masalah dengan tatapan tajam dan rahang yang mengatup.
Dia hanya seseorang yang terlalu jauh untuk bisa aku gapai.
Sementara aku? Aku hanya gadis biasa yang tidak punya banyak hal di hidupnya. Masa lalu aku hanya berisikan masa lalu yang tidak punya dunia. Tidak punya warna. Aku hanya seorang gadis simple yang tidak punya banyak hal menarik. Aku hanya seoarang gadis yang tidak periang, tapi juga tidak anti sosial. Aku bukan gadis yang sangat ramah, tapi juga bukan gadis yang sombong dan tidak mau menyapa. Aku bukan gadis yang banyak bicara, tapi mungkin aku juga bisa dibilang gadis yang pendiam. Aku tidak suka konfrontasi, dan aku lebih memilih tinggal di rumah dari pada harus hang out keluar.
Dari segitu itu saja, sudah terlihat kan kalau aku dan Angelo ini memang tidak pernah bisa akur? Kita bukan seseorang yang mirip. Bukan seseorang yang similar dan bisa saling akur. Kita berada dari dunia yang berbeda.
Jadi, akus sering berpikir kenapa aku bisa berakhir dengan pria ini. Kenpa akau bisa mendapatkan takdir untuk menjadi pasangan dia dulu? Kenapa aku bisa dibawah ke dalam hidupnya, padahal aku bukan seseorang yang spesial?
Dan yang paling parahnya, kenapa hati aku bisa memutuskan untuk luluh dengan pria ini, pria yang seharusnya menjadi orang yang aku takutkan di sekolah sebab reputasi yang buruk? Kenapa juga hati aku harus memilih dia, pria yang rumit dan punya banyak masalah?
Pada dasarnya memang benar. The heart will wants want it wants. Aku tidak bisa memilih. Tidak bisa juga menahan hati agar tidak merasa. Aku tidak bisa menahan hati agar tidak bertingkah semaunya. Aku hanya seorang gadis yang tidak bisa menahan diri untuk menyukai pria dingin yang memeperlakukan dia dengan baik.
Aku hanya gadis yang bodoh.
Itu saja.
***
DIKTUM yang keluar dari labium Ibu kapabel membuat aku tidak tidur dua hari dua malam. Ya, sudah sekitar dua hari dua malam aku pulang ke rumah, dan selama itu juga aku terus memikirkan sosok figur yang masif dan tinggi, dengan wajah yang datar dan kulit yang pucat pasi. Bibir yang tidak pernah atau sangat jarang membentuk garis kurva harsa dan selera humor yang tinggi.
Laki – laki yang berada jauh di sana, di pelosok rumahnya yang tinggi dan banyak lorong, di dalam kamarnya yang hanya ada dekorasi dua hal—meja dan kursi kerja, serta duvet di samping kasur.
Ibu bilang dia datang dengan wajah dibalut agoni. Entah aku harus percaya atau tidak sebab Ibu senang melebih – lebihkan segala hal. Wanita setengah baya itu manusia yang hiperbola. Dia bilang begitu melihat wajah Angelo, sejujurnya dia sudah siap mengusirnya.
Maklum, seorang Ibu pasti tidak ingin melihat laki – laki yang sudah mematahkan hati anak gadisnya.
Tapi di balik itu semua, Ibu punya insting yang aneh begitu melihat figur Angelo. Dan benar saja, Ibu bilang dia nyaris membunuh laki – laki besar itu di depan pintu rumah kami. Lalu dia memberikan eksplanasi pada Ibu, dan aku bisa menebak sebelum penjelasan yang keluar dari mulut Ibu kalau Angelo beberapa hari yang lalu berkata jujur.
Dia melakukan ini untuk melindungi aku.
“Muse, kau ingin panekuk atau sarapan lokal?” tanya Ibu dari balik pintu kamar yang terbuka. Semenjak aku menghilang, aku tidak ingin menutup pintu kamar dan berada di dalam ruangan sendirian lagi.
Rasanya masih sama, seperti semua empat tembok itu akan menyatu dan meremuk aku hidup – hidup.
Aku melirik Ibu dari posisi terlentang di atas kasur. Ibu punya bercandaan tentang sarapan. Menurutnya ada dua jenis menu sarapan. Sarapan barat atau sarapan lokal. “Lokal.”
Aku ingin masakan Ibu. Ingin merasakan khas makanan yang selalu aku nikamti bertahun – tahun saat tumbuh besar. Selama berada di bawah pengawasan Angelo, wanita itu—Linda—kerap memberikan aku jenis – jenis makanan yang aneh.
Ibu mengangguk. “Baiklah, coming right up.”
Aku membuang napas panjang, menatap langit – langit kamar di atas. Aku tatap segalanya yang dulu aku rindukan di rumah besar Angelo. Aku tatap dinging aku sendiri. Berbeda jauh dengan partisi yang ada di dalam kamar tidur Angelo. Dinding aku sudah rapuh dimakan waktu dan usia. Dimakan oleh memori cantik dan perjalanan hdup keluarga ini.
Hari ini matahari bersinar terang. Seperti mencoba membuat aku melupakan kegelapan beberapa hari yang lalu.
Tapi satu yang mereka lupa.
Kegelapan itu sudah membekas di dalam hati, menyelimuti sanubari laiknya ombak menyisir pantai.
Aku sudah tenggelam di sana, bersama wajah pucat dan ekspresi datar seorang figur yang familiar.
***
Setelah sarapan selesai, Ibu mengajak aku menonton film—sebab tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Rasanya terlalu cepat untuk keluar rumah. Terlalu cepat juga untuk kembali beraktivitas seperti tidak terjadi apa – apa. Jadi kami berdua memutuskan menonton film adalah pilihan yang tidak terlalu absurd.
Walau rasanya sepertinya pergit terapi dan memeriksa diriku di psikiater adalah hal yang paling tepat.
Di tengah film, Ibu sepertinya tidak tahan lagi. Dia memutar badan menatapku. “Apa kau tidak akan . . .?”
Dia tidak menyeelsaikan kalimatnya. Tapi aku thau apa yang ingin dia tanyakan padaku. Dia ingin bertanya apakah aku tidak akan menyalahkan Angelo, mengadukan dia pada pihak yang berwajib, membeberkan semua ini.
Ibu menahan untuk tidak menginterogasi aku ketika aku mendadak muncul di depan pintu rumah, tapi sekarang dia sudah habis kesabaran.
“Ibu bukannya ingin memaksa atau apa—tapi ‘kan Angelo . . .” Lagi – lagi dia tidak bisa menyelsaikannya.
Aku memijat kening. “Aku tidak tahu.”
“Kita harus melaporkan—“
“Satu – satunya alasan aku dilepaskan adalah aku berjanji tidak akan mengadukan mereka pada siapa – siapa,” aku memotong Ibu sebelum dia finis. “Aku berjanji. Itu mengapa aku bisa kembali.”
“Dia percaya padamu?”
“Dia tidak punya pilihan lain,” balasku.
“Karena?” Ibu tidak mau kalah. “He loves you, that is why?”
Aku tidak ingin membahas hal ini lagi.
“If he loves you, Muse—“
“Bisakah kita membicarakan ini di lain hari?” aku bersiap untuk beranjak, euforia menonton hilang begitu saja. Aku tidak ingin mendengar apa yang akan ibu katakan. Memangnya wanita setengah baya ini tidak tahu aku sudah sadar? Aku tahu segalanya. Aku pintar. Dia yang membuat aku menjadi gadis yang tahu apa yang dia mau. Dan dia juga yang membuat aku menjadi gadis yang selalu sadar realita. Jadi, aku tidak butuh segala macam ceramah darinya saat ini.
“Kau tahu ini salah, ‘kan?”
Kata – kata Ibu kembali menyelimuti sanubari seperti racun di dalam otak. Selama dua hari dua malam, aku tidak bisa lagi tidur nyenyak.
Kau tahu ini salah, ‘kan?
Kau tahu ini salah, ‘kan?
Kau tahu ini salah, ‘kan?
***
“Kau tahu ini salah, ‘kan?” Angelo menatapku dengan wajah yang kelewat datar. Aku tahu dia sudah menahan kesabaran untuk aku sedari tadi, tapi memangnya aku peduli? Aku sudah terlalu jauh untuk mundur sekarang.
“Jangan berlagak seperti kau tidak pernah melanggar hukum sebelumnya,” kataku sambil terus melakukan aksi konyol itu.
Sesungguhnya, bukan karena aku terlalu dalam, tapi karena aku terlalu malu dan keras kepala untuk mundur di depan Angelo. Terlebih, akuu tidak ingin melihat wajah kemenangan dia ketika melihat aku yang menyerah.
Jika aku menyerah, berarti di awal dia benar. Kalau aku tidak ada nyali sebesar ini.
“Sekarang bukan waktunya untuk membanding – bandingkan catatan kriminal, Muse.” Angelo melipat dua tangan sembari menyandarkan tubuh di sebelahku, wajah kami berhadapan.
Aku meringis ketika punggungnya menghantam loker dan bunyi keras menggema di seluruh lorong.
“Ssshh . . . !” aku berbisik keras. “Kau akan membuat kita tertangkap.”
Ekspresi seperti baru saja menyaksikan aksi komedi yang bodoh di teve terbesit di wajah Angelo sebelum mimik iras itu berubah lagi menjadi datar. “Kau mau melakukan ini tapi takut ketahuan?”
“Aku mau melakukan ini tapi aku juga tidak mau dihukum,” gerutuku sembari terus berusaha membuka paksa loker.
Dia melumat bibir, bosan.
“Apa kau akan membantu?” tanyaku kesal.
Dia mengedikkan bahu.
Baiklah . . . aku rasa aku sendiri di sini.
Tadi pagi ketika aku mengunjungi Esme di perpustakaan sekalian mengembalikan buku sebelum jam pertama berlangsung, aku melihatnya murung dan menahan kesal. Sebagai teman yang baik tentu saja aku menanyakan alasan kenapa dia sudah siap menghabisi orang pagi – pagi begitu.
Tidak butuh waktu lama untuk membuat gadis itu membeberkan segalanya. Dia menggerutu tentang anak – anak yang mengganggunya kemarin ketika menutup perpustakaan. Mereka sekumpulan laki – laki murid orang kaya yang masih berkeliaran di area sekolah. Untungnya mereka tidak melakukan hal – hal yang aku takutkan, tapi tetap saja, kata – kata hinaan yang keluar dari bibir mereka sukses membuat aku panas juga.
Dan sekarang aku berdiri di loker ketua mereka—sebab Esme bilang Ryu Jin yang paling parah saat merundungnya kemarin.
Aku heran. Esme bahkan bukan pelajar di sini. Bisa – bisanya mereka mengganggu Esme juga?
“Dan apa yang akan kau lakukan ketika loker itu sudah terbuka?” tanya Angelo.
Sebagai murid yang bahkan terlambat saja belum pernah, tentu saja aku butuh partnet in crime. Siapa lagi kalau bukan Angelo, orang yang memang sudah punya reputasi buruk? Aku tidak menyangka dia akan menjadi partner yang banyak bicara.
Aku menunjukkan isi ransel yang aku bawa.
Cat warna hitam.
Angelo terkekeh. “Aku tidak pernah menyangka ada pikiran jahat di kepala kecil itu.”
“Kau tidak tahu apa – apa tentang isi kepala kecil ini,” ketusku keras.
Dia mengangguk. “Benar juga.”
Aku menarik napas menahan agar tidak membentaknya kesal. Ketika upaya aku berhasil—membuka paksa kunci loker dengan cara jitu dari yo*tube—aku melompat – lompat girang. Kuberikan wajah kemenangan ke arah Angelo. Laki – laki itu menahan senyum.
“Lalu?” Angelo menatapku tertarik.
Aku mengedikkan bahu. Cat itu aku keluarkan, kuikat di belakang kenop kunci loker dengan karet, lalu aku lilitkan di ujung plastik berisikan cat. Kemudian loker itu aku tutup lagi.
“Dan?”
“Begitu dibuka,” aku memberikan gestur meledak padanya.
Angelo menaikkan alis, jika aku percaya diri, itu seperti tanda bangga.
Leave it to Angelo Bronze to feel proud for someone who is breaking the law.
Aku mengajaknya pergi dari situ sebelum ada yang melihat kami.
“Muse?” Angelo memanggil dari belakang. Aku menyeretnya, jemariku melekat di pergelangan tangan laki – laki itu.
“Apa?”
“Sabtu besok ada acara apa?” tanya Angelo begitu santai aku pikir dia bertanya, “Pulang sekolah jam berapa, ya?”
Aku berhenti tepat di pintu eksit sekolah. Rencananya kami hari ini akan bolos sekolah, agar tidak meninggalkan jejak apa – apa.
“Kenapa?” tanyaku balik.
“Mau menjebolkan loker yang lain?”
Aku tahu itu cara Angelo untuk mengajak aku jalan. Satu – satunya cara untuknya tidak mengatakan hal – hal picisan seperti “Mau kencan denganku?” atau “Kita pergi jalan hari sabtu malam, yuk.”
Jadi aku mengangguk sambil menariknya keluar dari pintu eksit.
“Kau tahu ini salah, ‘kan?” tanyaku menahan senyum.
“Salah pun asal bersamamu segalanya menjadi benar.”
***
Sesungguhnya aku tidak tahu harus berkata apa. Menghindari Ibu lebih mudah dari pada harus meladeni pertanyaan – pertanyaannya tentang laki – laki yang sudah mengurung aku selama nyaris dua minggu itu. Ya, jika kalian belum bisa menebak, lari dari kenyataan adalah keahlian aku.
Aku selalu berusaha untuk tidak mendengarkan hal yang tidak ingin aku dengar. Aku selalu berusaha agar tidak melihat apa yang tidak ingin aku lihat. Aku selalu berusaha menutup mata dan telinga, dari segala macam hal yang akan membuat aku merasa tidak tenang. Itu benar.
Aku lebih suka memalingkan wajah.
Ketimbang berusaha untuk meluruskan masalah, aku malah mengunci diri di kamar, melebur bersama rasa sedih yang tidak tahu pusatnya di mana.
Salah, tidak tahu harus mulai dari mana.
Sebab aku tahu pusatnya di mana. Tepatnya siapa. Pusat kesedihan aku hanya satu, Angelo.
Dia tidak mengirimkan sinyal apa – apa kepadaku. Tidak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi. Tidak meninggalkan alamat. Nihil. Sepetti beberapa tahun yang lalu kembali terjadi.
Angelo hilang ditelan bumi.
Aku menangis dan menangis, membiarkan luka yang masih basah kembali terbuka. Jaitannya melemah, membuat aku berdarah. Di hati, di benak, di seluruh tubuh.
Aku bisa menebak alasan kenapa dia menghilang bertahun – tahun yang lalu itu. Pasti karena dunia ini. Dunia yang seharusnya salah. Seharusnya aku mengadukan dia pada pihak yang berwajib. Ini kriminal.
Ini tidak benar, ‘kan?
Lantas kenapa aku tidak melakukan sesuatu? Kenapa aku hanya diam saja, dan menangis di kamar ketika aku bisa menghentikan aksi – aksi kriminal Angelo yang lain?
Aku menyembunyikan isak.
Karena aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada laki – laki itu.
Kau tahu ini salah, ‘kan?
Kau tahu ini salah, ‘kan?
Kau tahu ini salah, ‘kan?
Aku tahu ini salah. Salah dalam segala cara, segala alasan. Tidak ada kilahan yang bisa membuat cahaya terang di atas kepala Angelo. Hanya ada gelap di sana. Semua aksinya terlihat dari apa yang terjadi di rumah itu. Dia menculik aku. Dia melukai seseorang. Dia merampok bank. Entah apa lagi yang dia lakukan di luar sana.
Tapi hanya karena rasa yang masih menempel di sanubari berkat afeksi bodoh ketika masih sekolah, aku rela membiarkan aksi ini terus terjadi?
Membenarkan yang salah.
Ketika Ibu akhirnya memanggil untuk makan malam, aku akhirnya beranjak dari tempat tidur. Seperti mayat hidup, aku berjalan melewati jendela kamarku. Tapi langkahku terhenti, ketika ujung netra mendapati korteks visual yang aneh di luar sana.
Dari sela – sela pagar rumahku, aku melihat mobil hitam terparkir di seberang jalan rumah. Seseorang dengan pakaian serba hitam dan masker yang gelap menutupi setengah wajah sedang merokok di jendela mobil, menatap ke arah rumah kami.
Saat itu, kata – kata Angelo terngiang di telingaku.
Aku tidak akan mengambil resiko dengan membiarkanmu bebas sementara anak – anak yang lain memiliki akses untuk melukaimu.