TIDAK banyak hal yang membuat aku kesal. Tidak banyak juga hal yang bisa aku katakan jika ditanya apa saja hal – hal yang tidak aku suka di dunia ini. Terlebih, karena aku memang tidak banyak terganggu oleh apa pun. Dengan mudah, aku bisa mengatakan kalau aku orang yang tidak banyak mau dan tidak ribet. Dan aku sedikit bangga dengan fakta itu.
Jaman sekarang banyak sekali orang – orang yang mau ini itu, banyak pilihan—dan lebih parahnya orang – orang yang tidak bisa memilih.
Entahlah, tapi aku tidak pernah banyak mau. Memang begitu dari sananya.
Dulu sekali aku selalu menjadi kebanggaan ibu di depan banyak orang. Katanya aku adalah bayi yang selalu diam. Tidak pernah menangis. Tidak pernah rewel. Tidak pernah membuat susah apalagi membuat ibu kewalahan. Aku adalah anak yang pendiam, pintar, bisa diatur, dan tidak membuat banyak susah.
Apalagi nakal. Tidak pernah. Aku hanya seorang gadis yang tidak banyak mau, dan tidak banyak protes. Pada dasarnya, aku hanya anak tunggal yang penurut dan selalu ingin membuat dua orang tuanya bangga. Senang. Dan tenang. Itu saja. Jika aku melihat dua orang tua aku tersenyum, itu sudah akan cukup bagi aku yang masih belum bisa memberikan mereka apa – apa.
Pada dasarnya lagi sih, siapa yang akan mengira Muse Lee itu nakal? Aku adalah anak yang pendiam. Aku takut orang. Jujur saja. Setiap kali melihat orang, aku akan kabur jauh sekali atau bersembunyi di belakang ibu aku. Itu sebuah anomali yang aneh. Ibu bilang aku akan bersembunyi jika ada tamu yang datang dan menolak untuk menyapa mereka. Mungkin aku ini semacam anak yang pemalu. Jadi tentu saja aku anak yang tidak banyak mau. Yang aku inginkan hanya diam di rumah saja. Aku bukan anak yang mudah bergaulm dan bisa punya banyak teman. Jadi, siapa yang akan aku ajak bicara dan menjadi anak yang nakal?
Aku tahu ini semua tidak penting. Aku sedang diculik. Bisa – bisanya aku memikirkan masa lalu? Tapi aku tidak bisa menahan untuk memikirkan Ibu. Apa yang dia lakukan saat ini? Apa yang sedang dia pikirkan? Apa dia sedih? Apa dia makan dengan benar? Apa dia mencari aku ke mana – mana? Aku tidak bisa membayangkna ibu makan sendiri. Ibu tidur sendiri. Tanpa aku. Anak satu – satunya yang dia punya. Dia pasti kesepian. Dia pasti kehilangan arah. Sendiri di rumah yang kosong dan hening. Apa yang dia pikirkan ketika sadar kalau aku tidak pulang?
Entah. Aku harus mengalihkan perhatian. Aku harus memikirkan hal lain, karena jika tidak, aku bisa runtuh di sini memikirkan Ibu. Ibu yang sendiri dan tidak punya orang lain.
Aku benci Angelo.
Tidak banyak juga yang bisa membuat aku kesal dan frustasi.
Karena aku memang selalu tidak memedulikan banyak hal. Jika ada yang membuat aku kesal, aku hanya akan mengesampingkan fakya itu dan melanjutkan hidup.
Tapi saat ini, menunggu kedatangan Angelo Bronze nyaris membuat aku melempar mejanya hingga terbalik. Aku ingin tahu apa yang dia katakan pada Ibu. Ingin tahu apa yang dia pikirkan hingga bisa – bisanya bertemu dengan orang tuaku. Apa yang akan dia katakan? Memangnya penjelasan macam apa yang bisa dia berikan pada wanita itu?
“Halo, Ibu, maaf aku Angelo Bronze, laki – laki yang dulu pernah mematahkan hati anak gadismu. Aku ingin mengatakan kalau dia sedang dalam awasan aku—dan saudara – saudaraku yang bodoh—karena dia sudah menjadi saksi perampokan salah satu bank terbesar di Mapo-Gu.”
Lalu apa?
Mohon pengertiannya?
Aku bisa membayangkan wajah Ibu, yang awalnya bingung dan kesal karena waktunya sudah dihabiskan, atau setelah dia tersadar kalau Angelo tidak main – main, wajahnya akan berubah murka, dan api akan membara di dua pupil cokelat itu.
Dan sebelum Angelo bisa berkedip, dia sudah akan terbakar di inferno.
Aku bergidik. Seberapa bencinya aku pada laki – laki itu, aku tidak ingin melihatnya mati. Iya, ‘kan . . .?
Hatiku secara otomatis mencelus membayangkan skenario buruk tersebut. Di mana Angelo terluka dan menghembuskan napas terakhir.
Tidak. Kau tidak boleh lemah sekarang, Muse. Sekarang adalah waktunya interogasi.
Tapi detik demi detik berjalan, berubah menjadi beberapa jam aku duduk di kasur sembari menggigit jari – jari. Figur Angelo tidak juga datang. Bahkan setelah aku mulai mengantuk dan lelah.
Angelo tidak muncul dibalik pintu itu.
Dan aku tahu, malam ini tidak akan ada dua lengan besar yang membawa aku ke dalam dekapan hangatnya.
Tidak akan ada rasa familiar yang terasa hangat. Tidak akan ada rasa aman yang palsu, yang akan membuat aku setidaknya merasa kalau semua ini tidak seburuk yang aku pikirkan. Tidak akan ada semua itu. Dan aku hanya bisa berharap semua ini akan segera berakhir.
***
Hari berjalan seperti biasa. Aku tidak bisa menahan untuk berpikir kalau aku sudah sepeti tahanan penjara. Segalanya sudah sesuai dengan rutinitas. Bangun, makan, memandang dinding hingga bosan, menahan diri untuk tidak melempar meja besar Angelo Bronze, makan lagi, dan tidur. Itu saja.
Selama dua hari berturut – turut aku nyaris mati berdiri. Nyaris mati penuh kuriositi tentang pertemuan Angelo dan Ibu. Tapi aku tidak bisa mendapat apa – apa. Tidak juga dari Linda yang kembali membawa makan siang di hari ke tiga.
“Di mana Angelo?” tanyaku dengan mulut penuh, mencoba bepura – pura seperti aku tidak begitu tertarik.
“Sedang ada urusan,” jawab Linda dari dalam kamar mandi, mungkin sedang membersihkan sesuatu.
“Apa dia tidak akan datang melihat tahanannya?”
Aku tidak bermaksud sinis pada satu – satunya orang yang menemani aku di rumah besar ini, tapi aku tidak bisa menahan diri. Sepertinya akhir – akhir ini aku kekurangan kesabaran. Linda keluar dari kamar mandi mengenakan ekspresi iba.
“Aku yakin Angelo pasti merindukan—“
Aku tertawa. Tipis dan sarkas.
Linda menarik napas panjang. “Aku—“
Dia tidak pernah menyelesaikan kalimat itu sebab sosok Angelo sudah berada di ambang pintu. Dia menyender di sana, memerhatikan kami berdua. Tidak lama Linda mundur, dan memberikan aku senyum mendukung yang menyedihkan.
“Aku akan pergi.” Linda menyentuh lengan Angelo halus sebelum menghilang dari balik pintu.
Angelo menghampiri aku, dan aku tidak melewatkan bagaimana pintu di belakang tidak ditutup. Aku menatap ruang tamu di luar dengan alis terangkat.
“Hai.” Vokalnya berat dan serak.
Hai? Laki – laki ini menyapa aku setelah tiga hari tidak bertemu?
Aku mengatupkan rahang sebab tidak tahu apa yang aku katakan pada laki – laki itu.
“Do you want to hear a good news?”
Aku menggeratakkan gigi. “Tentang apa? Tentang kau yang diam – diam menemui Ibuku?”
Angelo tidak terlihat terkejut.
“Apa? Ingin mengatakan kalau kau sudah mengurus hal itu, dan aku harus tetap menjadi tahanan di sini?” aku berseru penuh sangsi.
To my surprise, Angelo justru menggeleng. Dia menatap aku dengan sorot yang tajam. Namun dibalik itu, aku bisa merasakan tubuhnya diselimuti rasa sedih.
“Tidak. Aku ingin memberitahu kalau kau hari ini bisa pulang.”