PART 56 “SELAMAT ULANG TAHUN,” begitu katanya. Angelo mengatakan itu dengan wajah yang elusif. Aku tidak bisa memberikan eksplanasi tentang mimik wajah tampan itu. Angelo terlihat seperti orang yang sangat ingin ada di sini, tapi juga meminta untuk ditelan bumi dan langit secara bersamaan. Pria itu memegang kue yang similar dengan kue ulang tahun aku kala itu dengan keras. Kue itu membawa banyak memori kembali ke dalam pikiran, hingga kau nyaris mengeluarkan air mata di depan Angelo Bronze. Pria itu akhirnya memaksakan satu garis harsa tipis di bibir. Saat semua lilin sudah mati di atas kue, Angelo menarik kuenya menjauh dari depan wajahku. Aku tidak bisa berkata – kata. Dengan sabar, Angelo mengajak aku duduk di ruang tamu. Dia masih tersenyum tipis. “Selamat ulang tahun,” ucap dia lagi

