PART 21

2203 Kata
“APA MAKANAN yang paling kau suka?” tanya aku saat aku melihat Angelo mulai merasa bosan. Pria itu memainkan pulpen yang sedang dia pegang. Dia putar pulpen itu berkali – kali hingga aku merasa kalau aku akan merasakan motion sickness. Pria itu tidak menggubris aku. Dia hanya melanjutkan gestur tersebut sembari menatap buku di hadapan dia dengan seksama. Angelo bersandar di pohon rindang sekolah yang menjadi tempat favorit pria ini. Aku pikir dia senang di sini hanya karena di sini rindah dan tidak terkena sinar matahari sama sekali, tapi tetap saja, aku masih merasa panas dan sinar matahari yang terik. Apa dia sudah gila selalu duduk di sini dengan seragam sekolah yang gerah? Angelo masih tidak memedulikan aku. Dia kali ini melempar pulpennya ke atas, menangkapnya lagi, dan melemparnya lagi. Begitu terus sampai aku frustasi. Angelo ini memang bukan pria yang sudah aku kenal lama, tapi aku sudah tahu dengan jelas apa saja yang membuat dia bosan, marah, kesal, dan tidak suka. Atau yang membuat dia nyaman, suka, dan tenang. Saat ini, aku tahu dia sedang tidak tenang. Jika dia sedang tidak bisa fokus, dia akan melakukan hal secara berulang, lagi dan lagi seperti semua motion yang tidak jelas. Aku tahu jika ada bola basket di sini, dia pasti akan memutar bola itu di ujung jarinya sampai kukunya pendek dan berdarah. Aku mengecap lidah. Bukan satu kali atau dua kali saja dia tidak mengabaikan pertanyaan dari aku. Mungkin bagi pria ini aku hanya lalat tidak penting yang selalu mengganggu dia dan dunianya. Dengan kesal aku ikut bersandar. Bahu aku bersentuhan dengan bahunya di tubuh pohon yang rindah ini. Saat aku menoleh, Angelo masih tidak menoleh sama sekali ke arahku. Jika aku jahat, aku akan menarik pulpen itu dan membuatnya menaruh atensi padaku. Tapi aku tahu itu tidak akan membuat Angelo semakin kesal. Jadi, aku menunggu dengan sabar sebab aku tahu kalau pria itu sejujurnya mendengar apa yang aku katakan tadi. Setelah menunggu beberapa lama, Angelo akhirnya menghentikan gesturnya. Dia menoleh ke arah aku secara perlahan sekali. “Apa yang kau katakan?” Begitu katanya. Itu saja yang dia tanyakan padaku. Aku mengedikkan bahu dan melengos. Langit hari ini sangat indah. Sangat biru. Sangat memukau. Aku membiarkan Angelo kembali ke dunianya sendiri. Pertanyaan itu terhisap angin dan langit yang cerah. Aku sudah tahu jawabannya. Lagi pula, untuk apa bertanya lagi? Pizza. Angelo sangat suka pizza. *** KUMPULAN kapas kolosal di langit tidak memperlihatkan keagungannya. Mereka kelam. Hitam. Menakutkan. Diikuti oleh suara gemuruh yang membisingkan telinga, menggetarkan rumah – rumah, menyebabkan hati berdegup kencang dan terkut. Langit mendung. Sama seperti suasa hatiku. Dan lama – kelamaan, likuid bumi berjatuhan menampar pavemen dan jalanan, sama seperti likuid netra yang berjatuhan bergilir di pipi kiri dan pipi kanan. Aku menangis. Lagi? Iya, lagi. Sudahlah. Di titik ini, aku hanya akan percaya apa kata ibu dan yakin kalau waktu yang akan menyembuhkan segalanya. Dan aku tahu, aku tidak bisa melakukan apa – apa. Tidak ketika setiap kali aku mencoba untuk melupakan segalanya, yang ada aku malah kewalahan, dan semua memori berebut masuk ke dalam otak. Semuanya sia – sia. Jadi pagi itu, ketika rutinitas yang sama kembali terjadi lagi—bangun, menatap langit – langit kamar, membuang napas dan menariknya dan mengulangi manuver itu lagi, dan mencoba bangun—aku biarkan realita menampar aku di wajah sekeras mungkin, hingga air mata itu keluar seperti air mancur Niagara. Tidak ada gunanya menahan itu semua. Lebih baik dilepaskan dan berharap hati akan lebih baik lagi. Aku meraih ponsel baru yang Ibu belikan kemarin di super market. Tidak ada yang bisa aku lakukan di gawai baru itu selain bermain games, membuka media sosial, atau mengikuti berita gosip terkini. Aku tidak punya banyak teman, selain beberapa orang dari sekolah menengah atas yang masih kontak dengan aku, dan satu – satunya nomor yang ada di ponselku ini selain mereka hanya ibu. Wanita setengah baya itu sepertinya sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami, jadi aku memutuskan untuk menyeka air mata. Menyeret kaki untuk bersih – bersih, lalu menyusul ibu ke dapur. Benar saja, dia sedang sibuk menyiapkan sarapan panekuk, lagi. Aku tahu ini cara dia untuk membuat suasana hatiku lebih baik, dan itu sukses. Aku tersenyum pada ibu. Aku kecup pipinya manis dan mengeluarkan kotak jus jeruk dari dalam lemari pendingin. “Selamat pagi.” “Selamat pagi,” balas ibu sambil membalikkan adonan panekuk di panci. “Tidurmu nyenyak?” Aku tidak tahu harus menjawab apa. Nyenyak? Aku sudah tidak tahu arti kata itu semenjak hari di mana aku harus pergi ke salah satu bank terbesar di Mapo-Gu. Bahuku naik beberapa senti meter. “Begitulah.” “Duduk, sebentar lagi selesai.” Ibu tidak mengomentari jawaban absurd tersebut. Dia sibuk menaruh adonan yang lain, lagi dan lagi sampai aku yakin dia bisa menandingi menara pisa. Menara panekuk di piringku sanggup memberika makan lima orang anak kecil. Aku melirik ibu yang mengedipkan mata padaku. “Makan yang banyak, anakku sayang.” “Terima kasih, ratuku.” Kami berdua makan dengan nikmat, sesekali bercanda hal – hal yang tidak penting. Aku membiarkan ibu mengawali konversasi, hanya sibuk menyahut dan meladeni perkataan darinya. Ibu menceritakan terntang masa mudanya, tentang ayah ketika dulu—dan mata ibu tentu saja menjadi berkaca – kaca—tentang ibu di sebelah rumah kami yang ternyata kehilangan suaminya ketika aku sedang absen. Ibu menceritakan tentang pengalaman dia back pack ke Australia ketika masih muda dan masih banyak lagi. Aku mendengarkan dengan seksama. Tidak pernah terbayang olehku kalau aku akan merindukan suara ibu, gerakan hebohnya ketika bercerita, manuvernya yang penuh ekstasi, matanya yang berbinar. Dan lebih parahnya, aku rindu ibu yang cerewet, ibu yang sadis, ibu yang tidak akan segan menendang aku jika aku macam – macam dan bersikap tidak sopan. Selama itu, pikiran aku sesekali mendarat pada laki – laki mencurigakan kemarin. Aku yakin, laki – laki yang ada di mobil kemarin, ada orang yang sama dengan yang mengantar pizza. Ciri – ciri mereka sama—dan yang membuat aku bingung, bukankah seharusnya yang mengantar pizza menggunakan seragam atau semacamnya? Seratus persen aku tidak akan menceritakan itu pada ibu. Bisa – bisa dia bertingkah dramatik dan menghubungi polisi, padahal aku masih belum yakin jika ini hanya paranoid atau memang nyata. Angelo memang menjelaskan kalau dia takut sesuatu akan terjadi padaku, tapi memangnya aku siapa? Selama bertahun – tahun aku hidup baik – baik saja, tanpa ada masalah sama sekali. Aku tidak pernah diperhatikan oleh orang asing, menerima tukang deliveri yang aneh, atau bertemu laki – laki mencurigakan. Ibu menelengkan kepalanya padaku. “Apa yang kau pikirkan?” Aku berani bersumpah, wanita ini diam – diam bisa membaca pikiran. Dulu aku pikir dia semacam Profesor X si pemimpin X-MAN yang bisa membaca dan mengatur pikiran orang lain itu. Dia selalu bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan. Entah itu perasaan marah, senang, benci, atau suka. “Muse?” ibu memanggil lagi. Aku mengerjapkan mata mencoba memasang tampang yang polos. “Ada apa, Eomma?” “Jangan pura – pura tuli, Muse.” Aku menahan senyum. “Tidak ada apa – apa, aku baik – baiks aja.” “Muse, dari skala satu sampai sepuluh, seberapa bodoh kau pikir aku ini?” “Er . . . apa itu pertanyaan jebakan?” Ibu melotot ke arahku dengan tajam. “Jawabannya hanya satu, nol. Kau benar – benar berpikir aku bodoh?” “Well . . . terkadang kau tidak bisa membedakan hijau dan biru.” Aku mengedikkan bahu. “Dan aku tidak pernah berpikir kalau kau bodoh atau semacamnya.” Dia menyipitkan mata. “Baiklah, kau sukses mengalihkan pembicaraan.” Sial. Sungguh, dia pasti bisa baca pikiran. “Sekarang katakan padaku ada apa,” Ibu melipat dua tangan di depan d**a, bersandar tegak di kursi makannya. Aku menarik napas, otak bekerja keras untuk mencari alasan. Ibu pasti tidak akan percaya jika aku mengatakan kalau tidak ada apa – apa. Maka dari itu, aku harus mendapat satu alasan yang pasti. “Er . . . aku hanya, memikirkan segalanya itu saja.” Ibu meluluh. Baiklah? Itu cukup cepat . . . biasanya dia akan terus mendesak aku untuk mengatakan yang sejujurnya. Sepertinya keahlian akting aku semakin mahir. “Muse, kau tahu kau bisa mengatakan apa saja padaku, ‘kan?” Ibu terlihat ragu. “Termasuk . . . apa yang terjadi padamu di sana.” “Oh, no . . .” Aku menggeleng. “Percayalah, walau pun mereka menahan aku di sana, mereka tidak melakukan apa – apa padaku. Sungguh.” “Mmereka tidak melukaimu sama sekali?” tanya Ibu. “Tidak,” jawabku yakin. “Sama sekali? Tidak ada satu orang pun?” Sial. Four . . . Melihat aku yang ragu, ibu secara otomatis menyondongkan tubuh ke depan, matanya penuh curiga. “Muse? Apa yang tidak kau ceritakan?” Aku menarik napas panjang. “Dengarkan ini tanpa harus berlebihan, janji?” “Aku tidak bisa menjanjikan itu,” jawabnya cepat. Aku berdecak. Ibu pernah nyaris menendang anak orang lain sebab dia berani mengganggu aku di taman bermain. Iya, ibu itu semacam wanita bar – bar, tapi dia wanita barbarik yang hanya akan mengeluarkan taringnya jika ada yang berani macam – macam dengan orang yang dia sayangi. Jika kau baik padanya, maka taring beserta tanduk wanita itu tidak akan pernah keluar. Lalu aku menceritakan padanya secara perlahan tentang apa yang terjadi dengan Four malam itu. Tentu saja, aku melewatkan detail tentang Angelo yang mengancam akan membunuhnya. Jika di pikir- pikir lagi . . . aku masih belum tahu nasib terakhir laki – laki itu bagaimana. Aku berusaha untuk melembutkan semua fakta agar ibu tidak mengeluarkan taringnya di depanku. Bahkan anak gadisnya ini juga merasa takut pada kepribadiannya yang lain itu. Ketika aku sudah selesai, ibu nyaris mengeluarkan asap dari dua lubang hidungnya. “Dan dia . . .” Ibu menarik napas. “Mencekikmu?” “Welli . . . aku rasa begitu.” Aku meringis melihat ibu memerah. “Tapi tenang saja, waktu itu dia tidak berhasil. Aku di sini, ‘kan?” “Sudah kuduga . . .” Ibu memijat kening. “Seharusnya aku menghabisi anak itu ketika dia muncul di depan pintuku.” Ibu bukan wanita yang suka kekerasan. Dia selalu menjadi wanita yang berkelas di mata aku sendiri. So classy. Itu sih menurut aku. Jadi, dia pasti sangat kesal pada Angelo sampai bisa berpikiran untuk menyakiti pria itu. Aku menelan ludah. Saat itu, aku merasa iba pada eksistensi Angelo Bronze. *** Butuh waktu cukup lama bagiku untuk bisa meyakinkan ibu kalau pembunuhan itu tindak kriminal dan ibu bisa mendapat masalah yang besar. Lagi pula, dia tidak bisa main mencari Angelo begitu saja dan membunuh laki – laki itu. Apa ibu lupa seberapa besar dan masif laki – laki itu? Selama seharian penuh dia terus menyipitkan netra, mengumpat rendah, sembari membanting – banting barang yang dia pegang atau yang berada di dekatnya. “Aku menyesal sudah memberinya makan waktu itu,” ibu menggerutu lagi. Jika aku tidak mengingat kalau ini adalah hal yang signifikan dan bukan bercanda, aku akan tertawa. Leave it to Mom to bring up the past. Dulu dia pernah memberi makan Angelo, sampai laki – laki itu nyaris tidak bisa bernapas lagi. Aku menggigit bibir. “Kau tahu tidak ada gunanya menggerutu di sini, ‘kan?” “Kau yakin tidak ingat di mana mereka tinggal?” Ibu memegang pisau dapur yang sedang dia gunakan untuk memotong sayuran. Aku menaikkan alis. “Apa yang akan kau lakukan dengan itu?” Ibu melirik pisaunya. “Oh, there are a lot of ways I can think of, Muse.” Kali ini aku tertawa sungguhan. “Satu, aku yakin Angelo akan dengan mudah mengalahkamu.” Aku mengangkat satu jari lagi. “Dua, sudah aku bilang, ketika aku diantar pulang, mereka menutup mataku.” Ibu membuang napas panjang. “Ini sia – sia. Seharusnya kita melaporkan ini ke pihak yang berwajib.” Aku tidak menjawab. “Jangan bilang kau kasihan,” Ibu menuduh. Well . . . tidak menuduh. Karena sebagian dari diriku memang merasa iba dan tidak mau melihat Angelo tertangkap. Jujur, aku merasa jijik dengan diri sendiri. Belum juga aku bisa maldeni ibu lagi, mendadak bel pintu kami berbunyi. Aku berdiam di tempat, sementara ibu melirik ke arah pintu depan. Matanya menyipit, tajam dan serius. Keningnya mengerut, menyebabkan aku ikut melakukan hal yang sama. “Kenapa?” tanyaku pelan. “Siapa yang datang jam segini?” tanya Ibu lebih seperti pada diri sendiri. Aku membeku. Aku dan Ibu memang sangat jarang menerima tamu. Kami hanya memiliki teman sedikit, dan kami lebih sering mengunjungi orang dari pada mereka yang datang ke sini. Ibu menatap aku. “Diam di sini,” dia berjalan ke depan sembari memegang pisau dapurnya. Tentu saja aku tidak mendengar. Kami berdua berjalan secara perlahan ke depan, mendengarkan napas kami masing – masing memburu dengan paranoia yang membludak. Aku menarik napas ketika ibu mengintip dari jendela. Lalu alisnya naik ke atas, sangat tinggi hingga aku yakin mereka akan menyentuh kening. Dia mengatupkan rahang. “Well . . . aku rasa doaku terkabul.” Aku mengernyitkan dahi namun segalanya terjawab begitu ibu membuka pintu dan figur masih yang familiar menyambut kami. “Muse.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN