Episode 11 - Siapa Tahu Ada Kesempatan

2107 Kata
Cinta itu terasa akan sangat sakit bila tidak tepat sasaran. Meleset sedikit saja, bisa berabe pan. ___ Maria merasakan sakit di d**a yang begitu menyesakkan. Sakit yang begitu hebat. Dia meraung menangis sejadi-jadinya, kesedihan yang sudah tidak dapat dibendungnya. Dia terus berada di dalam kamarnya, dengan mengabaikan semua telepon yang masuk. Dia sudah tidak peduli lagi dengan semua, sakitnya yang melebihi dari putus cinta sebelumnya itu membuat dia seperti orang gila. Mengunci pintu kamar, menangis meraung bahkan tidak mau makan dan minum. Dia sudah hampir seharian seperti itu. Cinta memang dahsyat ya, mampu membuat orang berubah dengan seketika menjadi gila. Cinta buta, cinta gila. Wanita bar-bar sekalipun, dibuatnya kelimpungan seperti tak mempunyai arah tujuan. Maria yang sudah tiga hari mengunci kamar dan tidak keluar, semedi dan bertapa untuk mendapatkan jawaban atas hidupnya. Akhirnya dia memutuskan untuk bekerja kembali. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap bahagia apapun yang akan terjadi nanti. Dimana selama tiga hari itu, dia banyak memikirkan banyak hal. Hal yang selama ini dia rasakan dan seharusnya dia abaikan. Para sahabatnya sudah sangat panik tidak mendapat kabar Maria. Semua telepon dan chat dia abaikan, hanya dibaca saja. Namun, dia mengabarkan di grup chattingnya bahwa dia baik-baik saja sedang berlibur. Bohong memang, tapi dia tidak mau membuat orang panik. Dia juga tidak mau orang lain tahu bahwa dia sedang patah hati berat. Ancur Bray!! Wanita bar-bar itu sekarang bangkit kembali, dengan kekuatan super yang baru. Kekuatan dari dalam dirinya yang baru, seolah terlahir kembali dengan sempurna. Maria sudah sampai di kantor seperti biasa. Menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya. Dan kenapa Tuhan begitu dahsyatnya, iya saat itu, pagi itu juga, Maria dipertemukan dengan Erik. Seolah tidak ada yang terjadi antara hatinya dan hati Erik, Maria menyapanya dengan sumringah. "Hai Rik, apa kabar lu? Dah lama banget deh kita gak ketemu, sibuk ya lu?" sapa Maria dengan senyum getir. "Eh lu Mar. Gak kok, gue biasa aja. Seperti biasa aja, kayak gini-gini aja. Gak sibuk gue, cuman lagi ngadem aja. Pengen menenangkan hati dan pikiran aja, ngadem dalam kantor aja,” jawab Erik sedikit menyindir. “Gitu amat sih hidup lu, kasian bener dah, haha,” “Asem lu, Mar. Lu sih mau kawin, jadi calon pengantin orang lain, gue kan jadi sedih, haha,” "Hahaha, buset lu. Sedih malah ketawa sih, kacau lu! Calon pengantin dari hongkong apa ya. Lu kali tuh, katanya sibuk menyiapkan tunangan ama Dinda. Gue udah tahu kali, beberapa hari yang lalu si Nusa bilang gue. Ah lu mah bisanya gitu aja sih memutarbalikkan fakta, tapi selamat ye atas pertunangan kalian. Ikut senang gue, akhirnya diantara kita ada yang mau berkomitmen untuk serius. Nanti kabarin kita-kita dong, biar disiapkan hadiah special.” “Duh kelamaan ngobrol, gue duluan ya kalau gitu, dah telat euy. Bye, " sambung Maria, seolah memberi tanda bahwa dia tidak pernah menjadi calon pengantin orang lain. Bukannya menjawab, Erik masih mematung dengan apa yang dibicarakan Maria. Masih tidak mengerti apa maksud dari omongan Maria itu. Erik tampak bingung sekarang, belum lagi hati dan jantungnya berdegup kencang bertemu Maria. Erik yang sebenarnya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, lebih dalam dari Samudera Pasifik, dia masih menyimpan rasa pada Maria. Erik yang masih berdiri mematung, disadarkan oleh tepukkan bahu oleh Ricard. "Heh, lu kenapa cuy? Melongonya gitu amat, kesamber lu nanti. Sadar oiiii," kejut Ricard. "Eh lu Cad, kaget gue. Iye gue barusan ketemu Maria. Katanya dia bukan calon pengantin orang lain. Masa iya sih? Bukannya dia kemarin lamaran ya ama si Rey itu? Bener kan?" tanya Erik yang sangat penasaran. Terlalu jujur saat ini, karena rasa penasaran yang dibuat Maria. "Apaan sih lu, pagi-pagi begini udah ngomongin Maria jadi pengantin. Lu kesurupan apa?" ucap Ricard bingung, sambil memegang dahi Erik. "Serius gue Cad, kesurupan apa sih ah. Gue tanya sekali lagi, si Maria jadi pengantin atau enggak?" tanya Erik semakin penasaran. "Kagak tahu juga sih, tapi sejak kapan si Maria jadi pengantin? Orang waktu itu dia cerita, dia belum jawab lamarannya si Rey. Lagi galau dia tuh. Kalau dia jadi pengantin, pasti bakal kasih tahu kita cuy, gak mungkin enggak. Tuh kayaknya masih galau dia, makanya tuh kemarin tiga apa empat hari katanya kagak masuk kantor, sakit dibilang Nusa sih, " jelas Ricard. "Sumpeh lu? Dia ngomong gitu? Gak jadi pengantin?" Erik yang penasaran kembali bertanya pada Ricard. "Sumpeh. Ngapain gue bohong. Ribet amat sih lu, tanya sendiri sana ama dia langsung! " pekik Ricard kesal. Dia pun pergi meninggalkan Erik yang masih kebingungan. Antara senang dan sedih, perasaan Erik sekarang. Lebih ke g****k sepertinya. Terlalu jual mahal atas hatinya sendiri, akibatnya sekarang dia harus menanggung dari kegoblokkannya itu. Erik terlalu penasaran, dia berlari mengejar Maria ke ruangannya. "Mar, sumpah lu gak jadi pengantin?" tanya Erik dengan nada ngos-ngosan. Tanpa permisi masuk ruangannya. “Apaan sih, pengantin apaan Rik? Air terjun pengantin kali,” samber Nusa yang mendengar pertanyaan Erik. “Maria bukannya dilamar si Rey, dan jadi pengantin?” ucap Erik tergesa. "Hellow, sejak kapan gue jadi pengantin?" jawab Maria santai. "Ngapain sih lu ke sini, sana ih gue mau kerja!!" sambung Maria. "Gak ada apa-apa, gue cuman pastikan itu aja. Thanks Mar," ucap Erik dengan senyuman yang paling manis. "Eh, lu cantik banget rambutnya maroon gitu," sambungnya dengan menggoda Maria sambil mengerlingkan sebelah matanya. "Gilaaaaa, kalian pacaran depan mata gue? Tanpa peduli ada gue di sini. Kampret memang kalian," protes Nusa menggoda, dalam hatinya bahagia melihat kedua sahabatnya bertegur sapa lagi. "Lu yang kampret, siapa bilang kita pacaran. Ogah gue pacaran ama tunangan orang lain. Ih amit-amit, entar dicap pelakor gue!!" jawab Maria tegas. Nusa hanya bisa tertawa puas saja. Nusa sangat mengetahui perasaan masing-masing kedua sahabatnya itu. Tanpa mereka sadari, Nusa sejak lama memperhatikannya. ‘Kasian banget sih kalian berdua, karena gengsi yang tinggi dan selalu mengatasnamakan sahabat, kalian mengabaikan perasaan masing-masing. Dan sekarang kalian baru sadar akan perasaan itu, tapi semoga belum terlambat untuk kalian ungkapkan. Semoga kalian bahagia selalu, doa gue hanya begitu saja. Kalian sahabat gue yang baik, semoga bahagia dengan tepat.’ Batin Nusa penuh harapan. Maria melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat yang baru, sudah tidak memikirkan apa pun lagi. Sekarang sudah plong, menjadi diri sendiri tanpa beban apa pun. Bagaimana tidak, saat dia merenung beberapa hari yang lalu itu, dia memutuskan untuk menjawab lamaran Rey. Dia memutuskan untuk putus saja dengannya, dengan arti, dia menolak lamaran Rey dan meminta untuk menjadi teman biasa saja. Waktu empat tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk menjalin suatu hubungan. Namun menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Maria, juga dengan Rey sendiri. Mereka berdua putus dengan baik-baik dan berjanji akan berteman baik sampai kapan pun itu. Maria maupun Rey, harus tetap menjalani hidup dengan bahagia penuh senyum tanpa beban. Rek yang baik hati, menerima semua keputusan Maria dengan lapang d**a. Dia tidak cukup kuat untuk memaksakan kehendaknya itu, karena dia sendiri ingin Maria bahagia. Tentunya, dia pun ingin bahagia walau tidak bersama Maria. Cinta bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan, namun yang lebih menyakitkan lagi adalah saat dimana cinta itu musnah sudah sebelum diungkapkan. Gugurnya sebelum berkembang. Pedih kapten rasanya itu. Hati orang tidak ada yang tahu, karena hati itu tersimpan sangat dalam. Tak kasat mata sehingga sulit untuk menemukan hati yang benar-benar baik. Maria sudah putus dan menolak lamaran Rey, sedangkan Erik baru mengetahui Maria bukan calon pengantin orang lain, bukan itu saja sebenarnya yang terjadi. Maria masih belum memberitahu para sahabatnya tentang hal itu. Dia memang tidak berniat untuk memberitahu mereka dalam waktu yang dekat, dia mempunyai alasan tertentu untuk menyembunyikan itu semua. Erik yang sedang bahagia, karena baru sadar dia salah paham atas Maria, yang dia kira akan menjadi calon pengantin orang lain. Tapi rasa bahagia itu lenyap begitu saja ketika dia teringat hubungannya dengan Dinda. "Damn!! Anjrittt gue lupa ama Dinda. Gue kan belum putus ama dia. Kenapa harus gini, Tuhan? Eh tapi, tadi si Maria bilang gue mau tunangan ama Dinda? Dapat kabar dari mana dia?" Gumam Erik di ruangannya yang sepi. Iya dong, ruangan Bapak Manajer mah sepi sendirian, tidak ada yang menemani. Oiya lupa, belum memperkenalkan Erik ya. Dia sebagai Manajer Area Divisi II, dimana dia mempunyai rekan yaitu, bosnya Maria dan bosnya Nusa. Maria sebagai Asisten Manajer Produksi sedangkan Nusa sebagai Asisten Manajer Pemasaran/Penjualam. Nah, Erik itu sejajar dengan bosnya mereka berdua. Begitulah kira-kira, keren kan Erik. Mempunyai jabatan yang tinggi ternyata di kantor. Untuk Ricard, dia bekerja sebagai Manajer Logistik dan Distribusi. Pongky sebagai Manajer Produksi tetapi di Divisi III, nah Aline dan Sara juga di bawah Divisi III sebagai Sekretaris dan Data Analis. Begitulah kira-kira pekerjaan dan posisi mereka di Kantor. Kembali ke Erik ya. Erik yang menyalahkan diri atas kegoblokannya selama ini, sekarang dia menjadi bingung sendiri karena masih berpacaran dengan Dinda. Tapi dasar Erik ya, urusan hubungan dengan Dinda pun dia berniat untuk mengabaikannya dan pura-pura lupa. Yang jelas, sekarang dia harus mendapatkan hati Maria dengan utuh. Dia sudah tidak gengsi lagi dan memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya pada Maria dalam waktu dekat. Dia tidak mau menyesal dan kehilangan Maria lagi, pikirnya. Memang sih agak jahat Erik, tapi dia tidak mau kehilangan Maria. Di satu sisi, dia ada rasa bersalah sama Dinda. Dia merasa tidak enak hati kalau menduakannya. Galau deh Erik, iya kan. Makanya jangan gengsi kalau memang suka sama seseorang. Ditolak setelah menyatakan cinta mah biasa, yang penting pernah mencoba. Daripada hanya meraba-raba perasaan orang lain, sangat tidak pasti cuy. Terus udah gitu, belum juga menyatakan udah pupus harapan duluan, lebih sedih kan. Sedih karena ada kesalahpahaman yang sepele gara-gara gengsi gede. Ambyarrr cuy, ambyarrr.. Ok, Erik berencana untuk menyatakan cintanya pada Maria, secepatnya. Tidak tahu kapan pastinya antara besok lusa, atau bahkan sore nanti. Dia sudah tidak sabar menunggu untuk rencananya itu. Dia berpikir, harus mengajak Maria kencan, bagaimana pun caranya, Maria harus mau. Rencananya begitu. Maunya sih begitu, tapi kan belum tahu gimana. Namun dalam satu hari yang sama, tanpa pikir panjang lagi Erik memberikan pesan pada Maria untuk mengajaknya makan malam, sore ini. Membuang rasa gengsi itu untuk mendapatkan hati Maria. "Mar, nanti sore lu ada waktu? Makan yuk ama gue, udah lama juga kan. Gue kangen ama lu Mar, udah lama gak berbincang kita, " ajak Erik dalam pesan singkatnya. Maria yang sedang fokus bekerja, tidak mengecek ponselnya yang berada di dalam laci meja. Erik yang sedang gundah gulana menunggu balasan, sangat tidak sabar akan balasan pesan Maria. Dia mencoba mengirim pesan lagi dalam waktu selang satu menit. "Mar, gimana. Lu mau kan?" pesan Erik. "Mar, kok gak baca pesan gue?” pesan Erik "Mar, lu di mana sih? Bales pesan gue dong!" pesan Erik lagi. Waktu berlalu dengan cepat, sudah tiga puluh menit terlewati. Maria masih belum membalas pesan Erik. Sedangkan Erik yang sedang gundah itu langsung pergi ke ruangan Maria. Tok.. Tok.. Tok.. "Permisi, Bu Maria ada?" tanya Erik setelah mengetuk pintu, yang kemudian langsung masuk ke ruangan Maria. "Apaan sih lu, lebay amat. Ada apaan lu jam segini, masih jam kerja juga. Mau nanyain laporan? Nanti gue belum kelar, tunggu lah, belum waktunya juga kok," ucap Maria dengan kesal, sambil melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul empat sore. "Ada apakah gerangan datang kesini pada jam segini? Apakah gerangan tidak mempunyai pekerjaan?" sindir Nusa. "Ah kampret lu Sa, biarin aja, gue kesini mau ketemu Maria kok. Ada laporan penting yang belum dia kasih ama gue. Puas lo," jawab Erik sedikit berbohong. Laporan penting yang dimaksud adalah pesan singkat Erik untuk Maria, haha. "Ebussett.. Serius lu kemari hanya nagih laporan itu? Selow aja pak, masih ada waktu sejam lagi kok. Bentar lagi juga kelar. Lu kesini malah bikin ribut, nanti gak kelar-kelar kerjaan gue. Sana pergi!! " usir Maria. Sedangkan Nusa hanya tertawa saja mengejek Erik. "Ya ampun gitu amat, sini gue bisikin. ‘Lu baca ponsel, terus bales pesan gue’. Dah ya, gue balik dulu ," pamitnya setelah membisikkan sesuatu pada Maria. "Iyeeee, bentar lagi gue cek ponselnya, " teriak Maria. Nusa hanya menggeleng kepalanya saja sambil tersenyum. Erik yang masih menunggu balasan Maria, hanya melamun saja tanpa mengerjakan sesuatu di ruangannya. Dia belum tenang dan tidak bisa mengerjakan sesuatu karena sedang menunggu. Satu jam telah berlalu, dia mendapat pesan dari Maria. Dengan antusias dia membaca pesannya. "Beuh, ini pesan apa teror sih. Hayu mau makan di mana emang? Lu yang traktir kan? Nih gue bentar lagi turun, lu di parkiran mana?" balas pesan Maria. "Siap, gue di parkiran B2 samping gudang. Agak jauh sih, lu tunggu di lobi aja, entar gue kabarin kalau udah di depan," balas Erik dengan bahagia penuh cinta dan senyuman lebar merekah. "Ok," balas Maria dengan singkat. Setelah sekian lama, akhirnya mereka akur kembali. Sesuai dengan keinginan Erik, untuk mengajaknya berkencan. Eits, tunggu dulu dong, Maria tidak merasa mereka berkencan loh!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN